Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Mei Tahun 2018 di Provinsi Jawa Timur

Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Mei 2018

Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu. Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya.

Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman. Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan. Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan. 

Dari hasil penghitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:

Tabel Kelas Ketersediaan Air Tanah

Air Tanah Tersedia (ATS) % ATS
Sangat Kurang < 10 %
Kurang 10 – 40 %
Sedang 40 – 60 %
Cukup 60 – 90 %
Sangat Cukup > 90 %

Tabel Analisis Ketersedian Air Tanah Bulan Mei 2018

KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

Sangat Cukup
(>90%)
Di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi: Banyuwangi, Jember, Probolinggo, Malang, Blitar, Pasuruan, dan Pacitan.
Cukup
(60% – 90%)
Di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi: Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Probolinggo, Lumajang, Malang, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Kediri, Blitar, dan Pacitan.
Sedang
(40% – 60%)
Di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi: Banyuwangi, Bondowoso, Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan Bangkalan.
Di sebagian besar Kabupaten/Kota Malang dan Jember.
Kurang
(10% – 40%)
Di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi: Situbondo, Jember, Malang, Pasuruan, Surabaya, Gresik, Lamongan, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep dan Pulau Kangean.
Di sebagian kabupaten meliputi: Probolinggo, Lumajang, Jombang, dan Nganjuk.
Di sebagian besar kabupaten/kota meliputi: Banyuwangi, Bondowoso, Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Mojokerto, dan Sidoarjo.
Di seluruh Kabupaten Magetan serta Pulau Bawean.
Sangat Kurang
(< 10% )
Di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi : Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Ngawi, dan Bojonegoro.
Di sebagian Kabupaten/Kota Probolinggo, Jombang dan Nganjuk.
Di sebagian besar kabupaten/kota meliputi :Situbondo, Surabaya, Gresik, Lamongan, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan Pulau Kangean.
Di seluruh Kabupaten Tuban.