(Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

Sebagian besar Jawa Timur


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

Sebagian kecil Malang, Situbondo, dan Banyuwangi


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

Sebagian kecil Banyuwangi



Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%

Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 94%.

Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Sentani (Papua) sebesar 73%.

Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 pada umumnya Cukup.

Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang , meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang , meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur , Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Gorontalo.

Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (NAD), Banyuwangi (Jawa Timur), Ngurah Rai, Sanglah, Jembrana (Bali), Bandara Internasional Lombok, Sultan Muhammad Kaharuddin, Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa tenggara Barat), Gewayantana, Mali, Umbu Mehang Kunda, Lasiana (Nusa Tenggara Timur), Sultan Bantilan, Syukuran Aminudin Amir (Sulawesi tengah), Djalaluddin (Gorontalo), Sangia Ni Bandera (Sulawesi Tenggara), Oesman Sadik (Maluku Utara), Namlea, Amahai, Mathilda Batlayeri (Maluku), dan Wamena (Papua).


ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1