(Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

Sebagian besar Jawa Timur


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

Seluruh Pulau Madura,Sebagian kecil Jawa Timur


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

Sebagian kecil Gresik, Banyuwangi, dan Surabaya



Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 pada umumnya Cukup.

Pada daerah ini curah hujan bulan Juni 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Gresik, Banyuwangi, dan Surabaya

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban, Juanda, Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi

Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

1.


Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juni 2020 (0 C)

  • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
  • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
  • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
  • >35.0 (0 C): Madiun

2.


Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0 °C.

Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juni 2020 (0 C)

  • < 17.0 (0 C): Malang, Tretes, Malang / Abdulrachman Saleh
  • 17.1 – 19.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
  • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan dan Karangkates Malang
  • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Kalianget Nganjuk, Banyuwangi
  • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik

3.


Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

  • 70 – 75 %: Perak I/Surabaya
  • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik,Juanda, Surabaya, Tuban,Malang, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
  • 80 – 85 %: Tretes dan Karangkates

4.


Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

  • 76 - 100 (mm) : Karangkates
  • 101 - 125 (mm) : Sawahan Nganjuk, Malang dan Surabaya
  • 126 - 150 (mm) : Tuban, Sangkapura Gresik, Banyuwangi, Tanjung Priok, Juanda, dan Kalianget

5.


Hasil monitoring monitoring Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

  • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates, Sawahan Nganjuk dan Malang
  • 4.01 – 5.00 (mm) : Surabaya, Tuban, Sangkapura Gresik, Banyuwangi, Tanjung Priok, Juanda, dan Kalianget

6.


Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

  • 40 – 60 %: Tanjung Perak, Tretes, Karangkates dan Sawahan Nganjuk
  • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik,Perak I, Juanda / Surabaya, Malang, Kalianget dan Banyuwangi

7.


Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juni 2020

  • 51 – 75 mm : Karangkates
  • 76 – 100 mm : Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh dan Sawahan Nganjuk
  • 101 – 125 mm : Pacitan, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Kalianget dan Banyuwangi
  • 101 – 125 mm : Madiun

8.


Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

Daerah dengan Pengisian air tanah Defisit meliputi Tanjung Priok, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, Banyuwangi (Jawa Timur)

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH

Defisit : Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan Nganjuk, Banyuwangi


9


Hasil analisis Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juni 2020 Untuk daerah dengan tingkat kekeringan Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur


ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang
    : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang
    : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup
    : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

Ia = (D/PE)x100.

Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

Tingkat Kekeringan :

  1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
  2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
  3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1