(Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

Sebagian besar Jawa Timur


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

Sebagian kecil : Ponorogo, Magetan, Madiun, Ngawi, Gresik, Trenggalek, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

Sebagian : Situbondo dan Bondowoso

Sebagian besar : Banyuwangi dan Pacitan


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

Sebagian kecil : Pacitan, Banyuwangi dan Bondowoso

Sebagian : Situbondo

Sebagian besar : Ponorogo, Gresik, Magetan, Madiun, Ngawi, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

Seluruh Kota Madiun, Bojonegoro, Tuban, Kota Kediri, Lamongan, Kota Mojokerto, Jombang, Kota Surabaya, Mojokerto, Kota Blitar, Sidoarjo, Blitar, Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Bangkalan, Kota Probolinggo, Sampang dan Pamekasan



Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 pada umumnya CUKUP Cukup.

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebutmenjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


1.


Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

  • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
  • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
  • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
  • >35.0 (0 C): Madiun

2.


Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0 °C.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

  • 29.1 – 31.0 (0 C): Pacitan, Malang, Sawahan, dan Banyuwangi
  • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Karangkates Malang dan Kalianget Sumenep
  • 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Perak I / Surabaya, dan Tanjung Perak

3.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

  • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, dan Kalianget
  • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Malang, dan Sawahan Nganjuk
  • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

4.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

  • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
  • 101 - 125 (mm) : Malang
  • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya dan Tuban
  • 151 – 175 (mm) : Juanda Surabaya, Kalianget Sumenep

5.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

  • 2.01 – 3.00 (mm) : Karangkates Malang
  • 3.01 – 4.00 (mm) : Malang
  • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya, Tegal dan Tuban
  • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

6.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

  • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang
  • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

7.


Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juli 2020

  • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang, Tretes Pasuruan dan Malang / Abdul Rahmansaleh
  • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
  • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

8.


Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


9


Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juli 2020

  • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
  • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Gresik, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi
  • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ngawi, Madiun, Magetan, Tuban, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo, Malang, Blitar dan Bangkalan
  • SEDANG (16.77 – 33.33) : Seluruh : Kota Bojonegoro, Kota Malang, Kota Probolinggo, sebagian Probolinggo, Pamekasan, Sampang dan Sumenep
  • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan, Sidoarjo dan Bangkalan
  • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Gresik
  • BERAT (>33.33) : Seluruh : Kota Surabaya

ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang
    : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang
    : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup
    : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

Ia = (D/PE)x100.

Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

Tingkat Kekeringan :

  1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
  2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
  3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1