(Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

Sebagian Kecil : Banyuwangi


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

Sebagian kecil : Bondowoso, Probolinggo Situbondo, Jember dan Kab. Madiun


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

Seluruh : Pulau Madura, Jember, Lumajang, Probolinggo, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Bojonegoro, Magetan, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Kediri dan Jombang



Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Oktober 2020 pada umumnya KURANG.

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


1.


Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Oktober 2020 (0 C)

  • 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes
  • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
  • 33.1 – 35.0 (0 C): Karangkates Malang dan Kalianget Sumenep
  • >35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya, Juanda/Sidoarjo dan Tanjung Perak Surabaya

2.


Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Oktober 2020 (0 C)

Lokasi pengamatan dengan suhu udara minimum absolut tertinggi adalah Tanjung Perak Surabaya (Jawa Timur) sebesar 24.4 (0 C)

  • < 17.0 (0 C): Tretes Pasuruan
  • 17.1 – 19.0 (0 C): Madiun dan Malang
  • 19.1 – 21.0 (0 C): Madiun, Malang/Abdulrachman Saleh, Karangkates Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Perak I / Surabaya, Juanda / Sidoarjo, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
  • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik dan Tanjung Perak Surabaya

3.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Perak I (Jawa Timur) sebesar 70.2%.

  • <70 %: Perak I Surabaya
  • 70 – 75 %: Juanda Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban dan Kalianget Sumenep
  • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Malang, Tretes Pasuruan dan Sawahan Nganjuk
  • 80 – 85 %: Karangkates Malang dan Banyuwangi

4.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

  • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
  • 126 – 150 (mm) : Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 151 – 175 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Surabaya, Tanjung Priok Surabaya, Tegal dan Tuban
  • >175 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget Sumenep

5.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

  • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
  • 4.01 – 5.00 (mm) : Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 5.01 – 6.00 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik dan Surabaya dan Tuban
  • 6.01 – 7.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

6.


Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

  • 20 – 40 %: Karangkates Malang
  • 40 – 60 %: Perak I/Surabaya, Juanda/Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
  • 60 – 80 %: Kalianget Sumenep

7.


Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Oktober 2020

  • 76 – 100 mm : Karangkates Malang
  • 101 – 125 mm : Pacitan, Malang, Tretes Pasuruan dan Sawahan Nganjuk
  • 126 – 150 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya dan Banyuwangi
  • 151 – 175 mm : Madiun, Juanda Surabaya, Abdul Rahmansaleh Malang dan Kalianget Sumenep

8.


Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Karangkates Malang

Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN meliputi Banyuwangi

Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Kalianget dan Sawahan Nganjuk

Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


9


Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Oktober 2020 : Ringan/Tidak ada

  • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian Besar Jawa Timur
  • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ngawi, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Sidoarjo, Pasuruan, Kota Malang, Kab. Malang, Probolinggo dan Sampang
  • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Madiun, Kediri, Jombang, Mojokerto, Probolinggo, Bangkalan dan Sumenep
  • SEDANG (16.77 – 33.33) : Seluruh : Pasuruan
  • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Tuban, Madiun, Kediri, Jombang, Mojokerto, Bangkalan dan Bojonegoro
  • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Ngajuk dan Sidoarjo
  • BERAT (>33.33) : Seluruh : Surabaya, Gresik dan Lamongan

Data Kandungan Air Tanah bulan Oktober 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

  • Pacitan : 182
  • Madiun : 66
  • Stamet Sangkapura Gresik : 158
  • Stamet Tuban : 66
  • Stamet Juanda Sidoarjo : 80
  • Stamet Surabaya : 92
  • Staklim Malang : 142
  • Stageof Tretes : 140
  • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 153
  • Stageof Karangkates Malang : 196
  • Stamet Kalianget Sumenep : 51
  • Stageof Sawahan Nganjuk : 84
  • Stamet Banyuwangi : 292

ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang
    : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang
    : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup
    : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

Ia = (D/PE)x100.

Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

Tingkat Kekeringan :

  1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
  2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
  3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1