( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    SEBAGIAN BESAR :Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH : SEDANG

    SEBAGIAN KECIL :Surabaya, Situbondo, Banyuwangi dan Jember


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH : KURANG

    SEBAGIAN KECIL :Surabaya, Situbondo dan Banyuwangi



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Desember 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Desember 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes Pasuruan dan Sawahan Nganjuk
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Abdul Rachman Saleh Malang
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik dan Karangkates Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Juanda, Perak I, Tanjung Perak, Kalianget dan Banyuwangi
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 25.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Desember 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 17.1 - 19.0 (0 C): Malang / Abdulrachman Saleh
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Sangkapura, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak, Karangkates dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Kalianget Sumenep

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Tretes Pasuruan sebesar 93%.

    • 80 – 85 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 %: Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, dan Sawahan Nganjuk
    • >90 %: Tretes Pasuruan

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
    • 101 - 125 (mm) : Banyuwangi, Kalianget Sumenep, Malang, Sangkapura Gresik dan Surabaya
    • 126 – 150 (mm) : Juanda Sidoarjo, Sawahan Nganjuk dan Tuban

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Banyuwangi, Kalianget Sumenep, Karangkates Malang, Malang, Sangkapura Gresik dan Surabaya
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Juanda Sidoarjo, Sawahan Nganjuk dan Tuban

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    Lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 10%.

    • 0 – 20 %: Tretes Pasuruan dan Kalianget
    • 20 – 40 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Karangkates Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 76 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Desember 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo dan Sawahan Nganjuk

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banywangi

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN meliputi Tuban

    Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 : Ringan/Tidak Ada/Normal

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : -
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • BERAT (>33.33) : -

    Data Kandungan Air Tanah bulan Desember 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 300
    • Madiun : 300
    • Stamet Sangkapura Gresik : 350
    • Stamet Tuban : 267
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 350
    • Stamet Surabaya : 260
    • Staklim Malang : 350
    • Stageof Tretes Pasuruan : 300
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 350
    • Stageof Karangkates Malang : 350
    • Stamet Kalianget Sumenep : 300
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 300
    • Stamet Banyuwangi : 229

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur
  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    SELURUH :Pacitan

    SEBAGIAN KECIL :Ponorogo, Madiun, Blitar, Batu, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    SEBAGIAN KECIL :Bojonegoro, Tuban, Ngawi, Kediri, Madiun, Malang, Lumajang, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    SEBAGIAN BESAR :Blitar, Tuban, Bojonegoro, Jombang, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang

    SEBAGIAN KECIL :Bondowoso, Jember dan Banyuwangi

    SELURUH :Pulau Madura



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan November 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan November 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, kalianget Sumenep dan Banyuwangi.
    • >35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan November 2020 (0 C)

    Lokasi pengamatan dengan suhu udara minimum absolut tertinggi adalah Tanjung Perak Surabaya (Jawa Timur) sebesar 24.4 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes Pasuruan dan Malang / Abdulrachman Saleh
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan,Madiun dan Karangkates Malang
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Perak I (Jawa Timur) sebesar 70.2%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya
    • 75 – 80 %: Juanda Sidoarjo, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 80 – 85 %: Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Sangkapura Gresik dan Karangkates Malang
    • 126 – 150 (mm) : Sawahan Nganjuk, Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya dan Kalianget Sumenep
    • 151 – 175 (mm) : Malang, Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Sawahan Nganjuk, Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya dan Kalianget
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Malang, Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    • 20 – 40 %: Tretes Pasuruan
    • 40 – 60 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 60 – 80 %: Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan November 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 126 – 150 mm : Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi
    • 151 – 175 mm : Madiun

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN meliputi Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang dan Sawahan Nganjuk

    Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT meliputi Tuban, Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 : Ringan/Tidak ada (<16.77)

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian Besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan, Situbondo dan Banyuwangi
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Gresik
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan dan Gresik

    Data Kandungan Air Tanah bulan November 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 300
    • Madiun : 191
    • Stamet Sangkapura Gresik : 311
    • Stamet Tuban : 47
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 122
    • Stamet Surabaya : 90
    • Staklim Malang : 250
    • Stageof Tretes Pasuruan : 280
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 267
    • Stageof Karangkates Malang : 238
    • Stamet Kalianget Sumenep : 50
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 186
    • Stamet Banyuwangi : 207

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    Sebagian Kecil : Bondowoso


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Bondowoso, Probolinggo dan Kab. Madiun


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian besar Jawa Timur



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan September 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan September 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes Pasuruan
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Malang dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk
    • >35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan September 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang dan Tretes Pasuruan
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang / Abdulrachman Saleh dan Sawahan Nganjuk
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan, Juanda / Surabaya dan Karangkates Malang
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik dan Tanjung Perak Surabaya

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • <70 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak Surabaya dan Kalianget Sumenep
    • 70 – 75 %: Juanda Surabaya, Tuban, Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
    • 151 – 175 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik dan Sawahan Nganjuk
    • >175 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget, Surabaya dan Tuban

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 4.01 – 5.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk dan Surabaya
    • 6.01 – 7.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Tuban
    • 7.01 – 8.00 (mm) : Kalianget Sumenep

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Sawahan Nganjuk, Malang dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan September 2020

    • 76 – 100 mm : Tretes Pasuruan, Malang/Abdul Rahmansaleh dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Malang
    • 126 – 150 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 151 – 175 mm : Madiun, Juanda Sidoarjo dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 : Ringan/Tidak ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian Kecil Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ngawi, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar, Pasuruan, Bondowoso dan Banyuwangi.
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian : Malang
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Jember, Lumajang dan Situbondo.
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Tulungagung, Trenggalek, Lumajang dan Situbondo
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Madiun, Nganjuk, Magetan, Kediri,Blitar, Malang, Pasuruan dan Sumenep
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Kota Surabaya, Jombang, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan

    Data Kandungan Air Tanah bulan September 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 200
    • Madiun : 84
    • Stamet Sangkapura Gresik : 173
    • Stamet Tuban : 66
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 103
    • Stamet Surabaya : 113
    • Staklim Malang : 145
    • Stageof Tretes : 146
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 179
    • Stageof Karangkates Malang : 188
    • Stamet Kalianget Sumenep : 64
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 106
    • Stamet Banyuwangi : 182

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    Sebagian Kecil : Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, Malang, Ponorogo dan Nganjuk,


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Kab. Malang, Pacitan, Magetan dan Ngawi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian besar Jawa Timur



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Agustus 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 33.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Agustus 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang, Tretes dan Sawahan
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Perak I Surabaya dan Karangkates Malang
    • >35.0 (0 C): Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Agustus 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang, Tretes, Malang/Abdulrachman Saleh dan Karangkates Malang
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Pacitan
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Kalianget Sumenep

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 75 – 80 %: Sangpura Gresik, Juanda Sidoarjo dan Karangkates Malang
    • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi
    • 151 – 175 (mm) : Malang, Sangkapura Gresik, Surabaya dan Tuban
    • >175 (mm) : Juanda dan Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik dan Sawahan Nganjuk
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget Sumenep, Surabaya dan Tuban

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tanjung Perak Surabaya, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda/Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Agustus 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang/Abdul Rahmansaleh dan Karangkates
    • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Malang, Tretes Pasuruan, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Sidoarjo, Surabaya dan Kalianget

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 sebagian besar mengalami Defisit.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tanjung Priok, Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda, Malang, Tretes Pasuruan, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 : Ringan/Tidak ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian besar Jawa Timur
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Tuban, Pamekasan, Blitar dan Malang
    • BERAT (>33.33) : Sebagian : Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, Sampang dan Sumenep,
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Gresik, Kota Surabaya dan Bangkalan.

    Data Kandungan Air Tanah bulan Agustus 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 235
    • Madiun : 126
    • Stamet Sangkapura Gresik : 239
    • Stamet Tuban : 98
    • Stamet Juanda : 152
    • Stamet Surabaya : 163
    • Staklim Malang : 195
    • Stageof Tretes : 193
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 221
    • Stageof Karangkates Malang : 220
    • Stamet Kalianget Sumenep : 108
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 157
    • Stamet Banyuwangi : 208

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Ponorogo, Magetan, Madiun, Ngawi, Gresik, Trenggalek, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

    Sebagian : Situbondo dan Bondowoso

    Sebagian besar : Banyuwangi dan Pacitan


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil : Pacitan, Banyuwangi dan Bondowoso

    Sebagian : Situbondo

    Sebagian besar : Ponorogo, Gresik, Magetan, Madiun, Ngawi, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

    Seluruh Kota Madiun, Bojonegoro, Tuban, Kota Kediri, Lamongan, Kota Mojokerto, Jombang, Kota Surabaya, Mojokerto, Kota Blitar, Sidoarjo, Blitar, Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Bangkalan, Kota Probolinggo, Sampang dan Pamekasan



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 pada umumnya CUKUP Cukup.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebutmenjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0 °C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Pacitan, Malang, Sawahan, dan Banyuwangi
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Karangkates Malang dan Kalianget Sumenep
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Perak I / Surabaya, dan Tanjung Perak

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, dan Kalianget
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Malang, dan Sawahan Nganjuk
    • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
    • 101 - 125 (mm) : Malang
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya dan Tuban
    • 151 – 175 (mm) : Juanda Surabaya, Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 2.01 – 3.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 3.01 – 4.00 (mm) : Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya, Tegal dan Tuban
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juli 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang, Tretes Pasuruan dan Malang / Abdul Rahmansaleh
    • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juli 2020

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Gresik, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ngawi, Madiun, Magetan, Tuban, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo, Malang, Blitar dan Bangkalan
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Seluruh : Kota Bojonegoro, Kota Malang, Kota Probolinggo, sebagian Probolinggo, Pamekasan, Sampang dan Sumenep
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan, Sidoarjo dan Bangkalan
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Gresik
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Kota Surabaya

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Seluruh Pulau Madura,Sebagian kecil Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Gresik, Banyuwangi, dan Surabaya



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 pada umumnya Cukup.

    Pada daerah ini curah hujan bulan Juni 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Gresik, Banyuwangi, dan Surabaya

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban, Juanda, Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juni 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0 °C.

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juni 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang, Tretes, Malang / Abdulrachman Saleh
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan dan Karangkates Malang
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Kalianget Nganjuk, Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik

    3.


    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I/Surabaya
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik,Juanda, Surabaya, Tuban,Malang, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
    • 80 – 85 %: Tretes dan Karangkates

    4.


    Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates
    • 101 - 125 (mm) : Sawahan Nganjuk, Malang dan Surabaya
    • 126 - 150 (mm) : Tuban, Sangkapura Gresik, Banyuwangi, Tanjung Priok, Juanda, dan Kalianget

    5.


    Hasil monitoring monitoring Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates, Sawahan Nganjuk dan Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Surabaya, Tuban, Sangkapura Gresik, Banyuwangi, Tanjung Priok, Juanda, dan Kalianget

    6.


    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tanjung Perak, Tretes, Karangkates dan Sawahan Nganjuk
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik,Perak I, Juanda / Surabaya, Malang, Kalianget dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juni 2020

    • 51 – 75 mm : Karangkates
    • 76 – 100 mm : Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh dan Sawahan Nganjuk
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Kalianget dan Banyuwangi
    • 101 – 125 mm : Madiun

    8.


    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah Defisit meliputi Tanjung Priok, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, Banyuwangi (Jawa Timur)

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH

    Defisit : Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan Nganjuk, Banyuwangi


    9


    Hasil analisis Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juni 2020 Untuk daerah dengan tingkat kekeringan Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Banyuwangi, Kota Surabaya, dan Sumenep


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Sumenep



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 pada umumnya Cukup.

    Pada daerah ini curah hujan bulan Mei 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban dan Surabaya

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Surplus meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura, Juanda, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Pada bulan Mei ini daerah yang mengalami ketersediaan air tanah surplus dimana kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).

    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 85 – 90%.

    • 75 – 80 %: Perak I/Surabaya, Tanjung Perak dan Tuban
    • 80 – 85 %: Sangkapura, Juanda, Malang, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
    • 85 – 90 %: Tretes

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 20 – 40 %: Tretes
    • 40 – 60 %: Perak I, Juanda, Sangkapura, Kalianget, Maritim Perak II, Malang, Karangkates dan Banyuwangi

    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0 °C.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Mei 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Madiun, Juanda, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • >35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0 °C.

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Mei 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Karangkates Malang dan Sawahan Ngajuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, dan Juanda
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Tuban, Surabaya, Kalianget dan Banyuwangi

    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 85 – 90%.

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Mei 2020

    • 75 – 80 % : Perak I/Surabaya, Tanjung Perak dan Tuban
    • 80 – 85 % : Sangkapura, Juanda, Malang, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Tretes

    Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates dan Sangkapura Gresik
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi, Tuban, Malang, Juanda, Kalianget, Surabaya dan Sawahan

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Mei 2020

    • 20 – 40 % : Tretes
    • 40 – 60 % : Perak I, Juanda, Sangkapura, Kalianget, Maritim Perak II, Malang, Karang Kates dan Banyuwangi

    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Mei 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Sangkapura, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh dan Karangkates

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Situbondo dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Banyuwangi dan Sumenep



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 pada umumnya Cukup.

    Pada daerah ini curah hujan bulan April 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban, Banyuwangi

    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Jawa Timur pada bulan April 2020 untuk lokasi lokasi pengamatan dengan suhu udara minimum absolut tertinggi adalah Surabaya sebesar 25.0 °C.

    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan April 2020 (0 C)

    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Malang, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan April 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Sawahan Ngajuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, dan Karangakates

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan April 2020

    • 75 – 80 % : Perak I / Surabaya, Malang, dan Banyuwangi
    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Juanda, Tanjung Perak / Surabaya,Tuban, Karangkates, dan Kalianget
    • > 90 % : Tretes

    Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    Hasil monitoring penguapan rata-rata harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 4.01 – 5.00 mm.

    • 4.01 - 5.00 (mm) : Kalianget, Malang, Juanda, Surabaya, Kemayoran, dan Sawahan
    • 5.01 - 6.00 (mm) : Tuban dan Banyuwangi

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan April 2020

    • 20 – 40 % : Tretes
    • 40 – 60 % : Sangkapura Gresik, Perak I, Juanda, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan April 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, dan Karangkates
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Juanda/Surabaya, Surabaya, Malang, Kalianget, dan Sawahan
    • 126 – 150 mm : Madiun, Tuban, dan Banyuwangi

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Banyuwangi, Situbondo, dan Sumenep


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Banyuwangi dan Sumenep



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda, Katangkates, Kalianget, dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Karangkates, dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Surabaya, dan Kalianget

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Perak I/Surabaya, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Karangkates, Kalianget, dan Sawahan
    • > 90 % : Tretes

    Monitoring Penguapan Rata-Rata Harian (mm) Bulan Maret 2020

    • 3.01 – 4.00 mm : Karangkates, dan Sangkapura Gresik
    • 4.01 – 5.00 mm : Perak I Juanda, Maritim Perak II, Malang, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 20 – 40 % : Tretes, dan Sawahan
    • 40 – 60 % : Juanda, Tuban, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, dan Banyuwangi

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Maret 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes, dan Karangkates.
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Malang / Abdul Rahman Saleh, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda / Surabaya, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahman Saleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Malang, Situbondo, dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Banyuwangi



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 94%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Sentani (Papua) sebesar 73%.

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Gorontalo.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (NAD), Banyuwangi (Jawa Timur), Ngurah Rai, Sanglah, Jembrana (Bali), Bandara Internasional Lombok, Sultan Muhammad Kaharuddin, Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa tenggara Barat), Gewayantana, Mali, Umbu Mehang Kunda, Lasiana (Nusa Tenggara Timur), Sultan Bantilan, Syukuran Aminudin Amir (Sulawesi tengah), Djalaluddin (Gorontalo), Sangia Ni Bandera (Sulawesi Tenggara), Oesman Sadik (Maluku Utara), Namlea, Amahai, Mathilda Batlayeri (Maluku), dan Wamena (Papua).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan JANUARI Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur



    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan JANUARI Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Ngawi, Ponorogo, Blitar, Tulungagung, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Jombang, Kota Surabaya, Mojokerto, Malang, Jember, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Pamekasan, sebagian Trenggalek, Sumenep.

    Sebagian besar Sidoarjo, Pacitan, Kota Probolinggo.

    Seluruh Kota Mojokerto.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Malang, Bojonegoro, Mojokerto, Lumajang, Probolinggo.

    Sebagian Sumenep.

    Sebagian besar Tuban, Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Jember, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, Pamekasan

    Seluruh Sampang dan Bangkalan



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Citeko (Jawa Barat) dan Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 92%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Banyuwangi (Jawa Timur) sebesar 74%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi 5 pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian tertinggi adalah Seram Bagian Barat (Maluku) yaitu sebesar 71%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 8%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Kalianget, Bayuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020