Analisis Klimatologi

Analisis Klimatologi

  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I April 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I April 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I April 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Sangat Tinggi”.

    Kriteria Sangat Tinggi ( >300mm / dasarian) terjadi disebagian kecil Kabupaten Mojokerto.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Maret 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Maret 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Maret 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Tinggi”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur



    ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Prakiraan AMK 2021 jika dibandingkan terhadap normalnya selama 30 tahun (1981-2010), umumnya sama hingga mundur dari normalnya.



    Dari 60 ZOM di Jawa Timur, Prakiraan Awal Musim Kemarau 2021 jika dibandingkan dengan rata-ratanya (periode tahun 1981-2010), maka:

    - Maju dari normalnya : 8 ZOM (13,3% dari 60 ZOM)

    - Sama dari normalnya : 18 ZOM (30,0% dari 60 ZOM)

    - Mundur dari normalnya : 34 ZOM (56,7% dari 60 ZOM)

    Istilah Dan Pengertian Dalam Prakiraan Musim

    1. Curah Hujan (mm)

      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

    3. Zona Musim (ZOM)

      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

      Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    4. Permulaan Musim Kemarau

      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

      Permulaan Musim Kemarau bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

    5. Dasarian

      Adalah rentang waktu selama 10 hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I:

        (tanggal 1 sampai dengan 10)

      2. Dasarian II:

        (tanggal 11 sampai dengan 20)

      3. Dasarian III:

        (tanggal 21 sampai dengan akhir bulan)

    6. Sifat Hujan

      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

      1. Atas Normal (AN):

        Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

      2. Normal (N):

        Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

      3. Bawah Normal (BN):

        Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    7. Rata-rata curah hujan yang digunakan sebagai dasar penentuan curah hujan normal, menggunakan data periode 1981-2010.

    8. Puncak Musim Kemarau

      Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan terendah selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

      Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

      Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.






    PERBANDINGAN
    DENGAN NORMALNYA
    KOTA/KABUPATEN KECAMATAN/BAGIAN DARI KECAMATAN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    BANGKALAN Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    BANYUWANGI Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Gambiran, Genteng, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Rogojampi, Sempu, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegalsari, dan Wongsorejo.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    BONDOWOSO Binakal, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Maesan, Pakem, Prajekan, Sukosari, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    JEMBER Bangsalsari, Jelbuk, Panti, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sumber Baru, Tanggul, dan Tempurejo.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    PROBOLINGGO Gading, Krucil, dan Pakuniran.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    SAMPANG Tambelangan.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Jatibanteng, dan Sumbermalang.
    Maju
    8 ZOM
    -13,30%
    SUMENEP Arjasa, Gayam, Kangayan, Nonggunong, Raas, dan Sapeken.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    BANGKALAN Blega, Galis, Kamal, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, Tanah Merah, dan Tragah.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    BANYUWANGI Pesanggaran dan Siliragung.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    BLITAR Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kanigoro, Kesamben, Panggungrejo, Selopuro, Selorejo, Sutojayan, Talun, Wates, dan Wlingi.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    BOJONEGORO Balen, Baureno, Bojonegoro, Dander, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, dan Trucuk.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    BONDOWOSO Binakal, Bondowoso, Botolinggo, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, dan Wringin.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    GRESIK Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Kedamean, Menganti, dan Wringinanom.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    JEMBER Ajung, Ambulu, Balung, Bangsalsari, Gumuk Mas, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kaliwates, Kencong, Mayang, Mumbulsari, Panti, Puger, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumberjambe, Sumbersari, Tempurejo, Umbulsari, dan Wuluhan.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    JOMBANG Kabuh, Mojoagung, dan Ngusikan.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    KEDIRI Banyakan, Grogol, Mojo, Semen, dan Tarokan.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    KOTA MALANG Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    KOTA SURABAYA Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang,- Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    LAMONGAN Babat, Bluluk, Deket, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    LUMAJANG Candipuro, Kunir, Pasirian, Pronojiwo, Rowokangkung, Tempeh, Tempursari, dan Yosowilangun.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    MADIUN Dagangan, Dolopo, Gemarang, Kare, dan Wungu.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    MALANG Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Singosari, Sumber Pucung, Sumbermanjing, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, Turen, Wagir, Wajak, dan Wonosari.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    MOJOKERTO Dawar Blandong, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Mojosari, Pacet, Pungging, dan Trawas.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    NGANJUK Berbek, Loceret, Ngetos, Pace, Sawahan, dan Wilangan.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    PACITAN Arjosari, Bandar, Nawangan, Ngadirojo, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    PAMEKASAN Batu Marmar, Kadur, Larangan, Pakong, Palengaan, Pasean, Pegantenan, dan Waru.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    PASURUAN Kejayan, Lumbang, Pandaan, Pasrepan, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Sukorejo, Tosari, Tutur, dan Wonorejo.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    PONOROGO Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Ngebel, Ngrayun, Pudak, Pulung, Sambit, Sawoo, Slahung, dan Sooko.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    PROBOLINGGO Lumbang.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    SAMPANG Karang Penang dan Sreseh.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    SIDOARJO Buduran, Candi, Gedangan, Krembung, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    SITUBONDO Besuki, Bungatan, Kendit, Mlandingan, Suboh, dan Sumbermalang.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    SUMENEP Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dungkek, Ganding, Gapura, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, dan Talango.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    TRENGGALEK Bendungan, Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek, dan Tugu.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    TUBAN Bangilan, Grabagan, Kenduruan, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Soko, dan Widang.
    Sama
    14 ZOM
    -23,30%
    TULUNGAGUNG Gondang, Karangrejo, Kauman, Pager Wojo, dan Sendang.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    BANGKALAN Blega, Kokop, Konang, dan Tanjungbumi.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    BANYUWANGI Bangorejo, Cluring, Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Songgon, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    BLITAR Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    BOJONEGORO Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kapas, Kasiman, Kedungadem, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Tambakrejo, dan Temayang.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    BONDOWOSO Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Prajekan, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, dan Wonosari.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    GRESIK Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sangkapura, Sidayu, Tambak, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    JEMBER Arjasa, Balung, Bangsalsari, Jelbuk, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Sumbersari, Tanggul, dan Umbulsari.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    JOMBANG Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KEDIRI Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Kras, Kunjang, Mojo, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA BATU Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA BLITAR Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA KEDIRI Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA MADIUN Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA MALANG Lowokwaru.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA MOJOKERTO Magersari dan Prajurit Kulon.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA PASURUAN Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA PROBOLINGGO Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    KOTA SURABAYA Benowo, Jambangan, Karang Pilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikerep, dan Wiyung.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    LAMONGAN Bluluk, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Ngimbang, Paciran, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukorame, dan Turi.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    LUMAJANG Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang, Pasirian, Pasrujambe, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, Rowokangkung, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, dan Yosowilangun.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    MADIUN Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    MAGETAN Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    MALANG Ampelgading, Bantur, Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Lawang, Ngajum,- Ngantang, Pagak, Pagelaran, Poncokusumo, Pujon, Singosari, Sumbermanjing, Tirto Yudo, Tumpang, Wagir, Wajak, dan Wonosari.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    MOJOKERTO Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    NGANJUK Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    NGAWI Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    PACITAN Arjosari, Donorojo, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    PAMEKASAN Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    PASURUAN Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    PONOROGO Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ngrayun, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Sooko, dan Sukorejo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    PROBOLINGGO Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    SAMPANG Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    SIDOARJO Balong Bendo, Candi, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, dan Wonoayu.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    SUMENEP Ambunten, Batuputih, Dasuk, Manding, Pasongsongan, dan Rubaru.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    TRENGGALEK Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Pule, Trenggalek, dan Watulimo.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    TUBAN Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Semanding, Senori, Singgahan, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
    Mundur
    34 ZOM
    -56,70%
    TULUNGAGUNG Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung.









    NO
    ZOM
    Daerah/Kabupaten Normal Periode Musim Kemarau Panjang Musim
    (Dasarian)
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    142 Pacitan bagian barat daya APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    19
    146 Magetan bagian barat, Ngawi bagian selatan MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    17
    147 Ngawi dan Bojonegoro bagian barat daya APRIL III
    (Tanggal 21)
    - SEPTEMBER III
    (Tanggal 30)
    16
    148 Bojonegoro bagian barat laut, Tuban bagian barat daya APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    18
    149 Tuban bagian utara APRIL II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    22
    150 Gresik bagian Utara dan Timur, Lamongan bagian tengah APRIL II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    22
    151 Lamongan bagian tengah dan timur APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    20
    152 Bojonegoro bagian selatan APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    19
    153 Ponorogo bagian utara, Magetan bagian Timur dan Selatan, Madiun bagian Selatan APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    20
    154 Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian selatan, Trenggalek bagian barat MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    17
    155 Pacitan/Trenggalek bagian selatan bagian selatan MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER I
    (Tanggal 10)
    16
    156 Trenggalek bagian timur, Tulungagung bagian selatan, Blitar bagian selatan, Malang bagian barat daya APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    19
    157 Trenggalek/Tulungagung bagian utara MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    18
    158 Tulungagung bagian timur, Kediri bagian selatan, Blitar bagian barat APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    21
    159 Daerah sekitar Gunung Wilis MEI II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    18
    160 Nganjuk bagian tengah APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    20
    161 Jombang bagian tengah, Mojokerto bagian barat, Kediri bagian Timur Laut APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    20
    162 Surabaya bagian barat, Gresik bagian selatan, Sidoarjo bagian barat laut dan selatan, Mojokerto bagian utara, Pasuruan bagian tengah APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    21
    163 Surabaya bagian tengah dan timur, Sidoarjo bagian utara/tengah/ timur MEI I
    (Tanggal 1)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    20
    164 Sidoarjo bagian selatan, Pasuruan bagian utara, Kota Pasuruan APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    22
    165 Mojokerto bagian selatan, Pasuruan bagian selatan MEI I
    (Tanggal 1)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    19
    166 Daerah sekitar Gunung Arjuno APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    19
    167 Kediri bagian tenggara MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    17
    168 Blitar bagian timur, Malang bagian barat APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    19
    169 Malang bagian selatan APRIL III
    (Tanggal 21)
    - SEPTEMBER III
    (Tanggal 30)
    16
    170 Blitar bagian timur laut, Malang bagian tengah MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    17
    171 Kota Malang, Malang bagian timur dan tenggara MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    17
    172 Daerah sekitar Gunung Bromo dan Semeru MEI I
    (Tanggal 1)
    - SEPTEMBER II
    (Tanggal 20)
    14
    173 Probolinggo bagian barat dan selatan, Lumajang bagian utara APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    21
    174 Pasuruan bagian timur laut, Probolinggo bagian utara APRIL I
    (Tanggal 1 )
    - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    24
    175 Malang bagian tenggara, Lumajang bagian barat daya JULI I
    (Tanggal 1)
    - SEPTEMBER I
    (Tanggal 10)
    7
    176 Lumajang bagian selatan, Jember bagian Barat daya APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    20
    177 Lumajang bagian tengah APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER I
    (Tanggal 10)
    17
    178 Probolinggo bagian tenggara MEI II
    (Tanggal 11)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    16
    179 Daerah sekitar Gunung Argopuro MEI II
    (Tanggal 11)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    16
    180 Bondowoso bagian utara dan tengah APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    19
    181 Probolinggo bagian timur laut, Situbondo/Bondowoso bagian utara APRIL I
    (Tanggal 1 )
    - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    24
    182 Situbondo bagian timur laut dan timur, Banyuwangi bagian timur laut MARET II (Tanggal 11) - DESEMBER I
    (Tanggal 10)
    27
    183 Situbondo bagian tenggara MEI II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    18
    184 Probolinggo bagian timur, Situbondo bagian barat APRIL I
    (Tanggal 1 )
    - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    24
    185 Bondowoso bagian selatan, sebagian Jember bagian timur laut APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER III
    (Tanggal 31)
    19
    186 Daerah sekitar Pegunungan Ijen APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    20
    187 Jember bagian utara APRIL III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    18
    188 Jember bagian barat laut MEI II
    (Tanggal 11)
    - OKTOBER I
    (Tanggal 10)
    15
    189 Jember bagian tengah MEI I
    (Tanggal 1)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    17
    190 Jember bagian selatan APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    21
    191 Jember bagian timur, Banyuwangi bagian barat MEI III
    (Tanggal 21)
    - OKTOBER I
    (Tanggal 10)
    14
    192 Banyuwangi bagian tengah JULI III
    (Tanggal 21)
    - SEPTEMBER III
    (Tanggal 30)
    7
    193 Banyuwangi bagian timur MEI I
    (Tanggal 1)
    - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    21
    194 Banyuwangi bagian selatan MARET II (Tanggal 11) - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    26
    195 Bangkalan bagian selatan APRIL II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER III
    (Tanggal 30)
    23
    196 Bangkalan bagian tengah dan utara MEI II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    19
    197 Sampang bagian barat dan selatan APRIL II
    (Tanggal 11)
    - DESEMBER I
    (Tanggal 10)
    24
    198 Sampang bagian tengah APRIL II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    21
    199 Pamekasan bagian selatan APRIL III
    (Tanggal 21)
    - DESEMBER I
    (Tanggal 10)
    23
    200 Pamekasan bagian tengah, Sumenep bagian barat MEI I
    (Tanggal 1)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    20
    201 Sampang/Pamekasan, Sumenep bagian utara APRIL II
    (Tanggal 11)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    22
    202 Sumenep bagian tenggara dan timur APRIL III
    (Tanggal 21)
    - NOVEMBER II
    (Tanggal 20)
    21
    203 Kepulauan Kangean MEI I
    (Tanggal 1)
    - NOVEMBER I
    (Tanggal 10)
    19
    204 Pulau Bawean MEI II
    (Tanggal 11)
    - OKTOBER II
    (Tanggal 20)
    16









    NO
    ZOM
    Prakiraan
    Awal Musim
    Kemarau
    2021
    Prakiraan Perbandingan
    Awal Musim Kemarau 2021
    Terhadap Normalnya
    Prakiraan Sifat Hujan 2021 Prakiraan Curah Hujan
    Musim Kemarau 2021
    (mm)
    Prakiraan Puncak
    Musim Kemarau 2021
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    142 APRIL III Mundur 1 dasarian Normal 201-300 AGUSTUS
    146 MEI II Mundur 1 dasarian Normal 301-400 AGUSTUS
    147 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal 301-400 JULI
    148 APRIL III Sama Normal 401-500 JULI
    149 APRIL III Mundur 1 dasarian Normal 301-400 AGUSTUS
    150 APRIL III Mundur 1 dasarian Atas Normal 401-500 AGUSTUS
    151 APRIL III Sama Normal 301-400 AGUSTUS
    152 MEI I Mundur 1 dasarian Bawah Normal 201-300 AGUSTUS
    153 MEI II Mundur 2 dasarian Bawah Normal 201-300 AGUSTUS
    154 MEI I Sama Atas Normal 301-400 SEPTEMBER
    155 MEI II Mundur 1 dasarian Atas Normal >500 AGUSTUS
    156 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal 401-500 AGUSTUS
    157 MEI I Sama Atas Normal 401-500 SEPTEMBER
    158 MEI II Mundur 2 dasarian Atas Normal 401-500 AGUSTUS
    159 MEI II Sama Bawah Normal 301-400 SEPTEMBER
    160 MEI I Mundur 1 dasarian Normal 201-300 AGUSTUS
    161 MEI I Mundur 1 dasarian Normal 201-300 AGUSTUS
    162 MEI II Mundur 2 dasarian Normal 201-300 AGUSTUS
    163 MEI I Sama Bawah Normal 201-300 AGUSTUS
    164 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    165 MEI I Sama Bawah Normal 301-400 AGUSTUS
    166 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal >500 SEPTEMBER
    167 MEI II Mundur 1 dasarian Bawah Normal 201-300 SEPTEMBER
    168 APRIL III Sama Bawah Normal 201-300 AGUSTUS
    169 MEI II Mundur 2 dasarian Bawah Normal 301-400 AGUSTUS
    170 MEI I Sama Normal 301-400 SEPTEMBER
    171 MEI I Sama Normal 301-400 SEPTEMBER
    172 MEI II Mundur 1 dasarian Bawah Normal 301-400 SEPTEMBER
    173 MEI II Mundur 2 dasarian Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    174 APRIL III Mundur 2 dasarian Atas Normal 201-300 AGUSTUS
    175 JULI I Sama Normal 301-400 SEPTEMBER
    176 APRIL III Sama Atas Normal 201-300 SEPTEMBER
    177 MEI I Mundur 1 dasarian Normal 201-300 AGUSTUS
    178 MEI III Mundur 1 dasarian Bawah Normal 201-300 AGUSTUS
    179 MEI I Maju 1 dasarian Bawah Normal 201-300 SEPTEMBER
    180 APRIL III Sama Bawah Normal 201-300 SEPTEMBER
    181 APRIL II Mundur 1 dasarian Atas Normal 201-300 AGUSTUS
    182 APRIL II Mundur 3 dasarian Atas Normal 301-400 SEPTEMBER
    183 MEI I Maju 1 dasarian Normal 301-400 AGUSTUS
    184 APRIL III Mundur 2 dasarian Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    185 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    186 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal >500 SEPTEMBER
    187 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    188 MEI I Maju 1 dasarian Atas Normal 301-400 SEPTEMBER
    189 MEI I Sama Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    190 APRIL III Sama Normal 301-400 AGUSTUS
    191 MEI I Maju 2 dasarian Bawah Normal 401-500 AGUSTUS
    192 JULI I Maju 2 dasarian Bawah Normal 301-400 SEPTEMBER
    193 APRIL III Maju 1 dasarian Normal 401-500 SEPTEMBER
    194 MARET III Mundur 1 dasarian Atas Normal >500 AGUSTUS
    195 APRIL II Sama Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    196 APRIL III Maju 2 dasarian Normal 401-500 AGUSTUS
    197 APRIL III Mundur 1 dasarian Atas Normal 401-500 AGUSTUS
    198 APRIL III Mundur 1 dasarian Bawah Normal 201-300 SEPTEMBER
    199 MEI I Mundur 1 dasarian Atas Normal 301-400 AGUSTUS
    200 MEI I Sama Normal 301-400 AGUSTUS
    201 APRIL III Mundur 1 dasarian Bawah Normal 201-300 AGUSTUS
    202 APRIL III Sama Normal 201-300 AGUSTUS
    203 APRIL III Maju 1 dasarian Bawah Normal 401-500 SEPTEMBER
    204 JUNI I Mundur 2 dasarian Atas Normal 301-400 SEPTEMBER


  • ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur
  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Maret 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Maret 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Maret 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Tinggi”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : CUKUP

    SELURUH :Jawa Timur


    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Februari 2021 pada umumnya di SELURUH wilayah Jawa Timur CUKUP.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Lokasi pengamatan dengan suhu udara maksimum absolut terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26.0 °C

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Februari 2021 (0 C)

    • <27.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Madiun, Sangkapura Gresik, Abdul Rachman Saleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Juanda Sidoarjo, Perak I Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Februari 2021 (0 C)

    • 17.1 - 19.0 (0 C): Tretes Pasuruan
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Juanda Sidoarjo, Malang, Abdulrachman Saleh Malang, dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Tretes Pasuruan sebesar 93%.

    • 80 – 85 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, Tuban, Malang dan Karangkates Malang
    • 85 – 90 %: Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
    • >90 %: Tretes Pasuruan dan Sawahan Nganjuk

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
    • 101 - 125 (mm) : Sangkapura Gresik, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 (mm) : Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo dan Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Sangkapura Gresik, Karangkates Malang dan Banyuwangi
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 20 – 40%.

    • 0 – 20 %: Tretes Pasuruan
    • 20 – 40 %: Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Karangkates Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 40 – 60 %: Sangkapura Gresik dan Kalianget Sumenep

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 umumnya pada kisaran 76 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Februari 2021

    • 51 – 75 mm : Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Maritim Perak II Surabaya, Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Madiun, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi : Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).



    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2021 : Ringan/Tidak Ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Seluruh Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • BERAT (>33.33) : -

    Data Kandungan Air Tanah bulan Februari 2021 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 300
    • Madiun : 300
    • Stamet Sangkapura Gresik : 350
    • Stamet Tuban : 350
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 350
    • Stamet Surabaya : 350
    • Staklim Malang : 350
    • Stageof Tretes Pasuruan : 300
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 350
    • Stageof Karangkates Malang : 350
    • Stamet Kalianget Sumenep : 300
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 300
    • Stamet Banyuwangi : 300

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Februari 2021 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria :

    Sedang 0,1 %

    Cukup 1,1 %

    Sangat Cukup 98,8 %


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari Tahun 2021






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Trenggalek.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Pamekasan, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Pamekasan, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021 dengan kriteria :

    Agak Kering 0,1 %

    Normal 59,8 %

    Agak Basah 34,1 %

    Basah 4,9 %

    Sangat Basah 1,1 %


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2021, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kering Terjadi di sebagian kecil Tulungagung.
    Kering Terjadi di sebagian kecil Kediri dan Tulungagung.
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Kediri, Pacitan, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di sebagian kecil Batu, Gresik, Pamekasan, Sidoarjo, dan Sumenep.
    Normal Terjadi di sebagian Banyuwangi, Kediri, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Probolinggo, dan Sampang.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Ngawi, dan Trenggalek.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Madiun, Magetan, Nganjuk, Pasuruan, Surabaya, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Jember, Jombang, Kediri, Malang, Mojokerto, Ponorogo, Situbondo, dan Tuban.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Gresik, Lamongan, Lumajang, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, dan Sumenep.
    Agak Basah Terjadi di seluruh Pulau Kangean.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Tuban.
    Basah Terjadi di sebagian besar Batu dan Surabaya.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Kediri, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Probolinggo, dan Sumenep.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021



    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan Desember Tahun 2020 - Januari - Februari Tahun 2021

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria :

    Sangat Pendek 13,6%

    Pendek 85,0%

    Menengah 1,4%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Maret 2021 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Februari 2021 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Februari 2021 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat :

    Bawah Normal sebesar 12,3 %

    Normal sebesar 29,1 %

    Atas Normal sebesar 58,6 %.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Madiun, Pamekasan, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Gresik, Kediri, Lamongan, Magetan, Malang, Nganjuk, Pacitan, Sampang, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Madiun, Ngawi, dan Pamekasan.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian besar Bojonegoro dan Tuban.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jember, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, dan Tuban.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Bondowoso, Jombang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Gresik, Lamongan, Madiun, Magetan, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Sampang, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Lamongan, Lumajang, Madiun, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Gresik, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Sampang, Sumenep, Surabaya, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Malang, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bondowoso, Jombang, Kediri, Madiun, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Sampang, Sumenep, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Blitar, Jember, Pulau Kangean, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Banyuwangi dan Lumajang.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Kediri, Lumajang, Malang, Nganjuk, Probolinggo, Situbondo, Surabaya, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Maret 2021 dapat diinformasikan curah hujan bulan Februari 2021 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Februari 2021 berkisar 96 – 1524 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2021 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Tuban.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Tuban.
    101 - 150 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Gresik, Malang, Ngawi, Sampang, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Bojonegoro, Lamongan, Pamekasan, dan Sumenep.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Tuban.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Mojokerto, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Surabaya, dan Tuban.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Pamekasan, Trenggalek, dan Tulungagung.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Lamongan, Ngawi, Sampang, dan Sumenep.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Lamongan, Lumajang, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, dan Sumenep.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Situbondo, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Jombang, Pulau Kangean, Magetan, Pacitan, Ponorogo, Surabaya, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Gresik, Jombang, Pulau Kangean, Madiun, Pacitan, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Batu, Bondowoso, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Surabaya, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian besar Blitar, Jember, Pasuruan, dan Sidoarjo.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Madiun, Malang, Nganjuk, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, dan Tulungagung.
    > 500 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Kediri, Lumajang, Mojokerto, Pasuruan, dan Situbondo.
    > 500 mm Terjadi di sebagian besar Batu dan Probolinggo.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Maret 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Maret 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Maret 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Sangat Tinggi”

    Kriteria Sangat Tinggi (>300 mm/dasarian) sebagian kecil Kab. Kediri dan Blitar

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Februari 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Februari 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Februari 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 28 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 28 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 28 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Sangat Tinggi”

    Kriteria Sangat Tinggi (>300 mm/dasarian) sebagian kecil Kab. Malang dan Kab. Lumajang.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 28 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 28 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 28 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Februari 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Februari 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Februari 2021


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Januari 2021 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria :

    Sangat Kurang 8,7 %

    Kurang 16,0 %

    Sedang 16,1 %

    Cukup 33,2 %

    Sangat Cukup 26,0 %


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari Tahun 2021






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Probolinggo, Situbondo, dan Trenggalek.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Jombang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Situbondo.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Blitar, Gresik, Jember, Kediri, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Sampang, Sidoarjo, dan Sumenep.
    Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Jombang, Pulau Kangean, Lamongan, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Trenggalek.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Situbondo dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Trenggalek.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Batu, Pulau Bawean, Bojonegoro, Madiun, Magetan, Malang, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Surabaya, dan Tuban.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021 dengan kriteria :

    Normal 54,8%

    Agak Basah 33,8%

    Basah 9,9%

    Sangat Basah 1,5%


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2021, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Kering Terjadi di sebagian kecil Kediri dan Tulungagung.
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Blitar, Kediri, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Pulau Kangean, Lamongan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Tuban.
    Normal Terjadi di sebagian Jombang, Kediri, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, dan Probolinggo.
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, Madiun, Malang, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pacitan dan Trenggalek.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Pasuruan, dan Situbondo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Jombang, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo, Sidoarjo, dan Tuban.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sumenep, dan Surabaya.
    Agak Basah Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, dan Sumenep.
    Basah Terjadi di sebagian Batu, Bojonegoro, Gresik, Magetan, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Basah Terjadi di sebagian besar Tuban.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Kediri, Lamongan, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Probolinggo, Sidoarjo, Sumenep, dan Tuban.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021



    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan November - Desember Tahun 2020 - Januari Tahun 2021

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria :

    Sangat Pendek 0,4%

    Pendek 55,2%

    Menengah 42,7%

    Panjang 1,7%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2021 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Januari 2021 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Januari 2021 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat :

    Bawah Normal sebesar 2,6 %

    Normal sebesar 23,6 %

    Atas Normal sebesar 73,8 %.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jombang, Kediri, Madiun, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Situbondo, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Bondowoso.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Surabaya.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Jombang, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Bondowoso, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, dan Pasuruan.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Magetan, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Bondowoso, Jember, Madiun, Nganjuk, Pamekasan, dan Tuban.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Gresik, Lamongan, Lumajang, Nganjuk, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Malang, Mojokerto, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu, Jember, dan Tuban.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Jember, Malang, Probolinggo, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Kangean.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2021 dapat diinformasikan curah hujan bulan Januari 2021 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Januari 2021 berkisar 149 – 1348 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2021 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Situbondo.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Ngawi, dan Situbondo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Magetan, Ngawi, Sampang, dan Situbondo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Pamekasan.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Batu, Jember, Kediri, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Sidoarjo, Surabaya, dan Tuban.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Trenggalek.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Gresik, Lamongan, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Sumenep, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Lamongan, Madiun, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Sumenep, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian besar Surabaya dan Tuban.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Lumajang, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    > 500 mm Terjadi di sebagian Jombang, Kediri, Malang, dan Probolinggo.
    > 500 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Jember, Pulau Kangean, Mojokerto, dan Sidoarjo.
    > 500 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Januari Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : CUKUP

    SEBAGIAN BESAR :Jawa Timur


    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Januari 2021 pada umumnya SEBAGIAN BESAR CUKUP.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Lokasi pengamatan dengan suhu udara maksimum absolut terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26.0 °C

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Januari 2021 (0 C)

    • <27.0 (0 C): Tretes
    • 27.1 – 29.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Abdul Rachman Saleh Malang
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Karangkates Malang dan Kalianget Sumenep
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Juanda Sidoarjo, Perak I Surabaya, Tanjung Perak Surabaya dan Banyuwangi
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 21.1 – 25.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Januari 2021 (0 C)

    • 17.1 - 19.0 (0 C): Tretes
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Madiun, Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Juanda Sidoarjo dan Karangkates
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Tretes Pasuruan sebesar 93%.

    • 80 – 85 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya dan Banyuwangi
    • 85 – 90 %: Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Tuban, Malang, Karang Kates, Kalianget, dan Sawahan
    • >90 %: Tretes Pasuruan

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang dan Sangkapura Gresik
    • 101 - 125 (mm) : Banyuwangi, Kalianget Sumenep, Malang, Sawahan Nganjuk, Surabaya dan Tuban
    • 126 – 150 (mm) : Juanda Sidoarjo

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Banyuwangi, Kalianget Sumenep, Karangkates Malang, Malang, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya, Tanjung Priok Surabaya dan Tuban
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Juanda Sidoarjo

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 20 – 40%.

    • 0 – 20 %: Perak I Surabaya, Malang, Tretes dan Sawahan Nganjuk
    • 20 – 40 %: Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 umumnya pada kisaran 76 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Januari 2021

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Perak II Surabaya, Malang, Katangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 101 – 125 mm : Juanda Sidoarjo

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).



    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2021 : Ringan/Tidak Ada/Normal

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Seluruh Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • BERAT (>33.33) : -

    Data Kandungan Air Tanah bulan Januari 2021 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 300
    • Madiun : 300
    • Stamet Sangkapura Gresik : 350
    • Stamet Tuban : 350
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 350
    • Stamet Surabaya : 350
    • Staklim Malang : 350
    • Stageof Tretes Pasuruan : 300
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 350
    • Stageof Karangkates Malang : 350
    • Stamet Kalianget Sumenep : 300
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 300
    • Stamet Banyuwangi : 300

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Analisis - Bulanan ) Distribusi Sifat Hujan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Analisis - Bulanan ) Distribusi Sifat Hujan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • ( Analisis - Bulanan ) Distribusi Curah Hujan Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur

    ( Analisis - Bulanan ) Distribusi Curah Hujan Tahun 2021 di Provinsi Jawa Timur
  • ( Analisis - Bulanan ) Hari Tanpa Hujan Berturut-turut Maksimum di Propinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Analisis - Bulanan ) Hari Tanpa Hujan Berturut-turut Maksimum di Propinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • ( Analisis - Bulanan ) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Analisis - Bulanan ) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Sangat Tinggi”

    Kriteria Sangat Tinggi (>300 mm/dasarian) terjadi di Sebagian kecil Kabupaten Kediri, Probolinggo dan Situbondo

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga “Sangat Tinggi". Kriteria Sangat Tinggi (>300 mm/dasarian) terjadi di Sebagian kecil Kabupaten Kediri, Probolinggo dan Situbondo.
  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Februari 2021



    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Februari 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Februari 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Rendah” hingga "Sangat Tinggi”

    Kriteria Sangat Tinggi (>300 mm/dasarian) terjadi di Sebagian kecil Kab. Blitar, Banyuwangi, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Probolinggo, Trenggalek dan Tulungagung.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur



    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Januari 2021

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Januari 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Januari 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah” hingga "Sangat Tinggi”

    Kriteria Sangat Tinggi (>300 mm/dasarian) terjadi di Sebagian kecil Kab. Banyuwangi, Gresik, Jember, Malang, Mojokerto, Pasuruan, dan Sidoarjo.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Januari 2021

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Januari 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Januari 2021


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” hingga "Sangat Tinggi”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    SEBAGIAN BESAR :Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH : SEDANG

    SEBAGIAN KECIL :Surabaya, Situbondo, Banyuwangi dan Jember


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH : KURANG

    SEBAGIAN KECIL :Surabaya, Situbondo dan Banyuwangi



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Desember 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Desember 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes Pasuruan dan Sawahan Nganjuk
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Abdul Rachman Saleh Malang
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik dan Karangkates Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Juanda, Perak I, Tanjung Perak, Kalianget dan Banyuwangi
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 25.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Desember 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 17.1 - 19.0 (0 C): Malang / Abdulrachman Saleh
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Sangkapura, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak, Karangkates dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Kalianget Sumenep

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Tretes Pasuruan sebesar 93%.

    • 80 – 85 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 %: Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, dan Sawahan Nganjuk
    • >90 %: Tretes Pasuruan

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
    • 101 - 125 (mm) : Banyuwangi, Kalianget Sumenep, Malang, Sangkapura Gresik dan Surabaya
    • 126 – 150 (mm) : Juanda Sidoarjo, Sawahan Nganjuk dan Tuban

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Banyuwangi, Kalianget Sumenep, Karangkates Malang, Malang, Sangkapura Gresik dan Surabaya
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Juanda Sidoarjo, Sawahan Nganjuk dan Tuban

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    Lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 10%.

    • 0 – 20 %: Tretes Pasuruan dan Kalianget
    • 20 – 40 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Karangkates Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 umumnya pada kisaran 76 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Desember 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo dan Sawahan Nganjuk

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banywangi

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN meliputi Tuban

    Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 : Ringan/Tidak Ada/Normal

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : -
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : -
    • BERAT (>33.33) : -

    Data Kandungan Air Tanah bulan Desember 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 300
    • Madiun : 300
    • Stamet Sangkapura Gresik : 350
    • Stamet Tuban : 267
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 350
    • Stamet Surabaya : 260
    • Staklim Malang : 350
    • Stageof Tretes Pasuruan : 300
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 350
    • Stageof Karangkates Malang : 350
    • Stamet Kalianget Sumenep : 300
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 300
    • Stamet Banyuwangi : 229

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur
  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria :

    Sangat Pendek 0,8%

    Pendek 36,7%

    Menengah 58,6%

    Panjang 3,9%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Desember 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria :

    Sangat Kurang 10,5 %

    Kurang 9,1 %

    Sedang 10,5 %

    Cukup 32,7 %

    Sangat Cukup 37,2 %


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Desember Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Probolinggo, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Jombang, Pasuruan, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Situbondo.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian Jombang, Mojokerto, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Bondowoso, Gresik, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Batu, Madiun, Magetan, Malang, Pacitan, Pamekasan, Situbondo, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Gresik, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tuban.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Nganjuk, Sumenep, dan Surabaya.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Jember, Pulau Kangean, Lamongan, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Batu, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Pacitan, Pamekasan, dan Sampang.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Pulau Bawean dan Ngawi.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Oktober - November - Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Oktober - November - Desember 2020 dengan kriteria :

    Normal 61,4%

    Agak Basah 32,9%

    Basah 5,1%

    Sangat Basah 0,6%


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Januari 2021, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Oktober - November - Desember 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Magetan, Ngawi, dan Sumenep.
    Normal Terjadi di sebagian Bangkalan, Gresik, Lamongan, Nganjuk, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, dan Tuban.
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, dan Surabaya.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Pacitan, Trenggalek, dan Tulungagung.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Oktober - November - Desember 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, Ponorogo, dan Situbondo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Batu, Gresik, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Lamongan, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sumenep, dan Tuban.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Basah Terjadi di sebagian Magetan dan Pamekasan.
    Basah Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Kediri, Lamongan, Magetan, Malang, Nganjuk, Pamekasan, dan Sumenep.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Januari 2021 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Desember 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Desember 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat :

    Bawah Normal sebesar 11,7 %

    Normal sebesar 27,8 %

    Atas Normal sebesar 60,5 %.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jember, dan Mojokerto.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jember, dan Mojokerto.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Situbondo, Surabaya, dan Trenggalek.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian besar Pacitan dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Kediri, Lamongan, Madiun, Magetan, Sidoarjo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Jombang, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, dan Situbondo.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Bondowoso, Jember, Pasuruan, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Jember, Pulau Kangean, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Lamongan, Magetan, Mojokerto, Ngawi, Pasuruan, Situbondo, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu, Jombang, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, dan Tuban.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bondowoso, Jombang, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, dan Tuban.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Gresik, Lamongan, Madiun, Ngawi, Sampang, dan Sidoarjo.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Pulau Kangean, Magetan, Sumenep, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Ngawi, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Lamongan.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Pamekasan dan Sampang.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Desember Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Januari 2021 dapat diinformasikan curah hujan bulan Desember 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Desember 2020 berkisar 54 – 1138 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jember, dan Mojokerto.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, Mojokerto, Trenggalek, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Probolinggo, Situbondo, dan Trenggalek.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Nganjuk, Sidoarjo, Sumenep, dan Tuban.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Jombang, Mojokerto, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Bondowoso, Jember, Pacitan, Situbondo, dan Trenggalek.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Madiun, Pacitan, Sampang, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Mojokerto, Ngawi, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Trenggalek.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Gresik, Jombang, Lumajang, Magetan, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, dan Tuban.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Lumajang, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Gresik, Kediri, Lamongan, Magetan, Nganjuk, dan Probolinggo.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Madiun, Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan Surabaya.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    > 500 mm Terjadi di sebagian Pamekasan.
    > 500 mm Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    > 500 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Januari 2021

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Januari 2021 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Januari 2021


  • Analisis Kondisi Dinamika Atmosfer Laut Dasarian Tahun 2021

    Analisis Kondisi Dinamika Atmosfer Laut Dasarian Tahun 2021
  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah” hingga "Sangat Tinggi”

    Terjadi kriteria “Rendah” terdapat di sebagian kecil Banyuwangi, Pacitan, Situbondo, Trenggalek, Tulungagung.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Januari 2021 di Provinsi Jawa Timur


  • ( Analisis - Dasarian ) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Analisis - Dasarian ) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • ( Analisis - Dasarian ) Distribusi Curah Hujan Propinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Analisis - Dasarian ) Distribusi Curah Hujan Propinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • ( Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian ) di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian ) di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Desember 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Desember 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III Desember 2020


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada hujan” hingga “Sangat Pendek”.

    Kriteria "Pendek" terdapat di sebagian kecil Jember dan Kriteria "Menengah" terdapat di sebagian kecil Mojokerto.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” hingga "Menengah”

    Terjadi kriteria “Tinggi” terdapat di sebagian Banyuwangi, Bojonegoro, Gresik, Lamongan, Madiun, Malang, Ngawi, Mojokerto, Sidoarjo, Tuban dan Sumenep

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Desember 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Desember 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II Desember 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Sangat Pendek”.

    Kriteria "Pendek" terdapat disebagian kecil Ngawi, Malang, Jombang, dan Banyuwangi.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah” hingga "Tinggi”

    Terjadi kriteria “Sangat Tinggi” (>300mm) di sebagian kecil Bojonegoro, Lamongan, Lumajang, Malang dan Pamekasan.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    SELURUH :Pacitan

    SEBAGIAN KECIL :Ponorogo, Madiun, Blitar, Batu, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    SEBAGIAN KECIL :Bojonegoro, Tuban, Ngawi, Kediri, Madiun, Malang, Lumajang, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    SEBAGIAN BESAR :Blitar, Tuban, Bojonegoro, Jombang, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang

    SEBAGIAN KECIL :Bondowoso, Jember dan Banyuwangi

    SELURUH :Pulau Madura



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan November 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan November 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, kalianget Sumenep dan Banyuwangi.
    • >35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan November 2020 (0 C)

    Lokasi pengamatan dengan suhu udara minimum absolut tertinggi adalah Tanjung Perak Surabaya (Jawa Timur) sebesar 24.4 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes Pasuruan dan Malang / Abdulrachman Saleh
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan,Madiun dan Karangkates Malang
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah adalah Perak I (Jawa Timur) sebesar 70.2%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya
    • 75 – 80 %: Juanda Sidoarjo, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 80 – 85 %: Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Sangkapura Gresik dan Karangkates Malang
    • 126 – 150 (mm) : Sawahan Nganjuk, Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya dan Kalianget Sumenep
    • 151 – 175 (mm) : Malang, Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Sawahan Nganjuk, Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya dan Kalianget
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Malang, Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    • 20 – 40 %: Tretes Pasuruan
    • 40 – 60 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 60 – 80 %: Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan November 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 126 – 150 mm : Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi
    • 151 – 175 mm : Madiun

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN meliputi Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang dan Sawahan Nganjuk

    Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).


    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT meliputi Tuban, Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan November 2020 : Ringan/Tidak ada (<16.77)

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian Besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan, Situbondo dan Banyuwangi
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Gresik
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan dan Gresik

    Data Kandungan Air Tanah bulan November 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 300
    • Madiun : 191
    • Stamet Sangkapura Gresik : 311
    • Stamet Tuban : 47
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 122
    • Stamet Surabaya : 90
    • Staklim Malang : 250
    • Stageof Tretes Pasuruan : 280
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 267
    • Stageof Karangkates Malang : 238
    • Stamet Kalianget Sumenep : 50
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 186
    • Stamet Banyuwangi : 207

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Dasarian) Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan DESEMBER DASARIAN III (Tanggal 21 - 31) Tahun 2020 update 20 Desember 2020

    (Prakiraan - Dasarian) Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan DESEMBER DASARIAN III (Tanggal 21 - 31) Tahun 2020 update 20 Desember 2020 (Prakiraan - Dasarian) Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan DESEMBER DASARIAN III (Tanggal 21 - 31) Tahun 2020 update 20 Desember 2020






    TINGKAT POTENSI BANJIR
    TINGGI MENENGAH RENDAH
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    - - BANGKALAN : (Kec. Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Geger, Kamal, Klampis, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjung Bumi, Tragah)
    - - BANYUWANGI : (Kec. Kalipuro, Wongsorejo)
    - - BLITAR : (Kec. -, Kademangan, Srengat, Sutojayan, Wonodadi, Wonotirto)
    - - BOJONEGORO : (Kec. Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedungadem, Kepohbaru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberrejo, Temayang, Trucuk)
    - - BONDOWOSO : (Kec. Cerme, Prajekan, Tapen, Wonosari)
    - - GRESIK : (Kec. Balongpangpang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Ujungpangkah, Wringinanom)
    - - JEMBER : (Kec. Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Gumukmas, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Puger, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sumberbaru, Sumbersari, Tanggul, Umbulsari, Wuluhan)
    - - JOMBANG : (Kec. Bandarkedungmulyo, Bareng, Gudo, Jogoroto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, Wonosalam)
    - - KEDIRI : (Kec. Banyakan, Gampengrejo, Gurah, Kandangan, Kras, Kunjang, Ngancar, Pagu, Papar, Tarokan)
    - - KOTA BATU : (Kec. Batu, Bumiaji, Junrejo)
    - - KOTA KEDIRI : (Kec. Kota, Mojoroto)
    - - KOTA MADIUN : (Kec. Geger, Jiwan, Kartoharjo, Mangunharjo, Taman)
    - - KOTA MALANG : (Kec. Blimbing, Klojen, Lowokwaru, Sukun)
    - - KOTA MOJOKERTO : (Kec. Magersari, Prajurit Kulon)
    - - KOTA SURABAYA : (Kec. Asem Rowo, Benowo, Pakal, Sambikerep, Tandes)
    - - LAMONGAN : (Kec. Babat, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karangbinangun, Karanggeneng, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Maduran/Karanggeneng, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sarirejo, Sekaran, Sekaran/Maduran, Sugio, Sukodadi, Tikung, Turi)
    - - LUMAJANG : (Kec. Candipuro, Jatiroto, Kedungjajang, Kunir, Lumajang, Pasirian, Pronojiwo, Tekung, Tempeh, Tempursari, Yosowilangun)
    - - MADIUN : (Kec. Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, Wungu)
    - - MAGETAN : (Kec. Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, Takeran)
    - - MALANG : (Kec. Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Gedangan, Gondanglegi, Kalipare, Kasembon, Kepanjen, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pakis, Pakisaji, Pujon, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, Tirtoyudo, Turen, Wajak, Wonosari)
    - - MOJOKERTO : (Kec. Bangsal, Dawarblandong, Gedeg, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pungging, Puri, Sooko, Trowulan)
    - - NGANJUK : (Kec. Bagor, Berbek, Gondang, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Pace, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom, Wilangan)
    - - NGAWI : (Kec. Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Widodaren)
    - - PACITAN : (Kec. Arjosari, Bandar, Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, Tulakan)
    - - PAMEKASAN : (Kec. Larangan, Pademawu, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Proppo, Waru)
    - - PASURUAN : (Kec. Gempol, Kejayan, Lumbang, Pandaan, Pasrepan, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Sukorejo, Tosari, Tutur, Wonorejo)
    - - PONOROGO : (Kec. , Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ngrayun, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sooko, Sukorejo)
    - - PROBOLINGGO : (Kec. Besuk, Gading, Kotaanyar, Kraksaan, Lumbang, Paiton, Pakuniran, Sumber, Tiris)
    - - SAMPANG : (Kec. Banyuates, Camplong, Kedungdung, Ketapang, Omben, Robatal, Tambelangan, Torjun)
    - - SIDOARJO : (Kec. Balongbendo, Krembung, Krian, Prambon, Tarik, Tulangan, Wonoayu)
    - - SITUBONDO : (Kec. Arjasa, Banyuglugur, Banyuputih, Jangkar, Jatibanteng)
    - - SUMENEP : (Kec. Arjasa, Dungkek, Lenteng, Saronggi)
    - - TRENGGALEK : (Kec. Bendungan, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Trenggalek, Tugu, Watulimo)
    - - TUBAN : (Kec. Bangilan, Merakurak, Montong, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Soko, Tuban, Widang)
    - - TULUNGAGUNG : (Kec. Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Kedungwaru, Ngantru, Pagerwojo, Sendang, Tulungagung)


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan November 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria :

    Sangat Kurang 46,9 %

    Kurang 13,2 %

    Sedang 10,3 %

    Cukup 20,0 %

    Sangat Cukup 9,6 %


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan November Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Pulau Kangean, Lumajang, Malang, Ngawi, dan Pacitan.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Madiun, Magetan, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, dan Trenggalek.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Jombang, Mojokerto, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Gresik, Lamongan, Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan Surabaya.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Bondowoso, Kediri, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, dan Tuban.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Bojonegoro dan Ngawi.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Tuban, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Ngawi, dan Trenggalek.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Batu, Pulau Kangean, dan Pacitan.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan September - Oktober - November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan September - Oktober - November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan September - Oktober - November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode September - Oktober - November 2020 dengan kriteria :

    Normal 85,7%

    Agak Basah 13,7%

    Basah 0,6%


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Desember 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan September - Oktober - November 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian kecil Pulau Kangean.
    Normal Terjadi di sebagian Probolinggo.
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Batu, Pulau Bawean, Gresik, Jombang, Magetan, Ponorogo, Sampang, Surabaya, dan Trenggalek.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan September - Oktober - November 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Malang, Ngawi, dan Tuban.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean dan Probolinggo.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Kediri, Malang, Nganjuk, Probolinggo, dan Sumenep.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan September - Oktober - November Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan September - Oktober - November Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan September - Oktober - November Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan September - Oktober - November Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria :

    Sangat Pendek 0,3%

    Pendek 0,7%

    Menengah 41,0%

    Panjang 26,1%

    Sangat Panjang 31,9%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Desember 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan November 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan November 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat :

    Bawah Normal sebesar 1,4 %

    Normal sebesar 12,6 %

    Atas Normal sebesar 86,0 %.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi dan Surabaya.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Lamongan, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Pamekasan, Ponorogo, dan Surabaya.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Sampang, dan Trenggalek.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Magetan, Nganjuk, Probolinggo, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Madiun, Mojokerto, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Surabaya, dan Tuban.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Batu, Bondowoso, Jember, Jombang, Lamongan, Lumajang, Malang, Pacitan, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Pamekasan, Sumenep, Surabaya, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Blitar, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Sidoarjo, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, dan Sumenep.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Mojokerto, Pasuruan, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean dan Probolinggo.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan November Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Desember 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan November 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan November 2020 berkisar 31 – 1519 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi dan Situbondo.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Surabaya.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Situbondo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Situbondo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan Surabaya.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Pulau Kangean, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Gresik, Jombang, Sumenep, dan Surabaya.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Lamongan dan Sidoarjo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Lumajang, Malang, Pacitan, Situbondo, dan Surabaya.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Sidoarjo, dan Tuban.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Jombang, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tuban.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Bojonegoro, Magetan, Malang, Ngawi, dan Pacitan.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tuban.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Lumajang dan Malang.
    500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, Probolinggo, dan Tuban.
    500 mm Terjadi di sebagian Blitar.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Desember 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Desember 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Desember 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Sangat Pendek”.

    Terjadi kriteria “Sangat Tinggi” di sebagian kecil Kab. Malang dan P. Kangean.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” dan “Tinggi”

    Terjadi kriteria “Sangat Tinggi” di sebagian kecil Kab. Malang dan P. Kangean.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Desember 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan”

    Kriteria “Panjang” terdapat di sebagian kecil Probolinggo dan Bondowoso.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III November 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah” dan “Tinggi”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 November 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) November 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) November 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) November 2020


  • (Prakiraan - Bulanan) Sifat Hujan Bulan DESEMBER Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Prakiraan - Bulanan) Sifat Hujan Bulan DESEMBER Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Prakiraan - Bulanan) Sifat Hujan Bulan DESEMBER Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Prakiraan sifat hujan bulan DESEMBER Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur di Provinsi Jawa Timur adalah :

    Bawah Normal sebesar 0,4 %

    Normal sebesar 54,4 %

    Atas Normal sebesar 45,2 %.


    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %

    Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan November 2020 dapat diprakirakan :

    Prakiraan Sifat Hujan pada bulan DESEMBER Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:





    Tabel

    KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    BANGKALAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Socah.
    BANGKALAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    BANGKALAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Socah.
    BANYUWANGI Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Licin, Pesanggaran, Singojuruh, dan Wongsorejo.
    BANYUWANGI Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Glenmore dan Sempu.
    BANYUWANGI Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Kalibaru dan Songgon.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Kalibaru, Muncar, dan Tegaldlimo.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Bangorejo, Cluring, Giri, Kabat, Songgon, dan Wongsorejo.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Gambiran, Glagah, Glenmore, Kalipuro, Licin, Pesanggaran, Rogojampi, Sempu, Siliragung, Singojuruh, dan Srono.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Genteng dan Tegalsari.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Gambiran, Licin, Pesanggaran, Rogojampi, dan Srono.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Glagah, Kalipuro, Siliragung, dan Wongsorejo.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Bangorejo, Cluring, Giri, Kabat, Muncar, dan Tegaldlimo.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Seluruh: Banyuwangi dan Purwoharjo.
    BANYUWANGI Atas Normal
    (> 200 %)
    Sebagian Kecil: Wongsorejo.
    BLITAR Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Selorejo dan Wlingi.
    BLITAR Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Gandusari.
    BLITAR Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Kanigoro, Ponggok, Sanankulon, dan Sutojayan.
    BLITAR Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Gandusari, Selorejo, Talun, Wlingi, dan Wonotirto.
    BLITAR Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Binangun, Doko, Garum, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Selopuro, dan Wates.
    BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Talun.
    BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Wonotirto.
    BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Kanigoro, Ponggok, Sanankulon, dan Sutojayan.
    BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Seluruh: Bakung, Kademangan, Srengat, Udanawu, dan Wonodadi.
    BOJONEGORO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Gondang.
    BOJONEGORO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Bubulan, Dander, Kedungadem, Sugihwaras, dan Temayang.
    BOJONEGORO Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Balen, Baureno, Bojonegoro, Gayam, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, dan Trucuk.
    BOJONEGORO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Bubulan, Dander, Kedungadem, Sugihwaras, dan Temayang.
    BOJONEGORO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Gondang.
    BONDOWOSO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Prajekan dan Sempol.
    BONDOWOSO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Cermee dan Klabang.
    BONDOWOSO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Botolinggo, Taman Krocok, dan Wringin.
    BONDOWOSO Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Maesan, Pakem, Pujer, Sukosari, Sumber Wringin, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, dan Wonosari.
    BONDOWOSO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Taman Krocok dan Wringin.
    BONDOWOSO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Botolinggo.
    BONDOWOSO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Cermee, Klabang, Prajekan, dan Sempol.
    BONDOWOSO Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Prajekan dan Sempol.
    GRESIK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Benjeng, Cerme, dan Driyorejo.
    GRESIK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Menganti.
    GRESIK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Balongpanggang, Duduksampeyan, dan Kebomas.
    GRESIK Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Bungah, Dukun, Gresik, Manyar, Panceng, Sangkapura, Sidayu, Tambak, dan Ujungpangkah.
    GRESIK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Balongpanggang dan Kebomas.
    GRESIK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Duduksampeyan.
    GRESIK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Benjeng, Cerme, Driyorejo, dan Menganti.
    GRESIK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Kedamean dan Wringinanom.
    JEMBER Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Sebagian Kecil: Sumber Baru dan Tanggul.
    JEMBER Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Balung, Kencong, dan Puger.
    JEMBER Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Umbulsari.
    JEMBER Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Ajung, Bangsalsari, Jenggawah, Jombang, Rambipuji, Semboro, Sumber Baru, Tanggul, dan Tempurejo.
    JEMBER Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Arjasa, Jelbuk, Kalisat, Kaliwates, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumberjambe, dan Sumbersari.
    JEMBER Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Ajung, Bangsalsari, Rambipuji, dan Semboro.
    JEMBER Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Jenggawah, Jombang, dan Tempurejo.
    JEMBER Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Balung, Kencong, Puger, dan Umbulsari.
    JEMBER Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Ambulu, Gumuk Mas, dan Wuluhan.
    JOMBANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
    KEDIRI Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Banyakan dan Grogol.
    KEDIRI Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Mojo dan Semen.
    KEDIRI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Papar.
    KEDIRI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Kayen Kidul dan Ringinrejo.
    KEDIRI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Kandangan, Kandat, Kepung, Kras, Mojo, Pagu, Pare, Plemahan, Purwoasri, Semen, dan Wates.
    KEDIRI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Gurah, Kunjang, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Plosoklaten, Puncu, dan Tarokan.
    KEDIRI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Badas, Gampengrejo, Kandangan, Kandat, Kepung, Pagu, Pare, dan Wates.
    KEDIRI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Kras, Plemahan, dan Purwoasri.
    KEDIRI Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Kayen Kidul, Papar, dan Ringinrejo.
    KOTA BATU Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Bumiaji.
    KOTA BATU Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Batu dan Junrejo.
    KOTA BATU Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Batu dan Junrejo.
    KOTA BATU Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Bumiaji.
    KOTA BATU Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Junrejo.
    KOTA BLITAR Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Sananwetan.
    KOTA BLITAR Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Kepanjenkidul.
    KOTA BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Kepanjenkidul.
    KOTA BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Sananwetan.
    KOTA BLITAR Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Seluruh: Sukorejo.
    KOTA KEDIRI Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
    KOTA MADIUN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
    KOTA MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Blimbing dan Klojen.
    KOTA MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Sukun.
    KOTA MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Kedungkandang.
    KOTA MALANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Sukun.
    KOTA MALANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Blimbing, Klojen, dan Lowokwaru.
    KOTA MALANG Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Lowokwaru.
    KOTA MOJOKERTO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
    KOTA PASURUAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
    KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
    KOTA SURABAYA Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Sukolilo, Wiyung, dan Wonokromo.
    KOTA SURABAYA Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Dukuh Pakis, Gubeng, Lakarsantri, Mulyorejo, Pakal, Sawahan, dan Tegalsari.
    KOTA SURABAYA Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Genteng, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, Sambikerep, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Tambaksari, dan Tandes.
    KOTA SURABAYA Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Sawahan.
    KOTA SURABAYA Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Dukuh Pakis, Gubeng, Lakarsantri, Mulyorejo, Pakal, dan Tegalsari.
    KOTA SURABAYA Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Sukolilo, Wiyung, dan Wonokromo.
    KOTA SURABAYA Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Gayungan, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Rungkut, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo.
    LAMONGAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Bluluk, Lamongan, dan Sukorame.
    LAMONGAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Kembangbahu, Mantup, Paciran, Sarirejo, Solokuro, dan Tikung.
    LAMONGAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Brondong, Deket, Karang Geneng, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Sugio, Sukodadi, dan Turi.
    LAMONGAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Babat, Glagah, Kalitengah, Karangbinangun, Pucuk, dan Sekaran.
    LAMONGAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Karang Geneng, Kedungpring, dan Maduran.
    LAMONGAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Brondong, Deket, Laren, Modo, Sugio, Sukodadi, dan Turi.
    LAMONGAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Bluluk, Kembangbahu, Lamongan, Mantup, Paciran, Sarirejo, Solokuro, Sukorame, dan Tikung.
    LAMONGAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Ngimbang dan Sambeng.
    LUMAJANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Tempursari.
    LUMAJANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Klakah dan Ranuyoso.
    LUMAJANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Candipuro, Kedungjajang, Pasirian, dan Pronojiwo.
    LUMAJANG Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Gucialit, Jatiroto, Kunir, Lumajang, Padang, Pasrujambe, Randuagung, Rowokangkung, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, dan Yosowilangun.
    LUMAJANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Candipuro, Kedungjajang, Pasirian, dan Pronojiwo.
    LUMAJANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Klakah, Ranuyoso, dan Tempursari.
    MADIUN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Kebonsari.
    MADIUN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Dolopo dan Jiwan.
    MADIUN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Balerejo, Dagangan, Geger, Gemarang, Kare, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
    MADIUN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Jiwan.
    MADIUN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Dolopo.
    MADIUN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Kebonsari.
    MAGETAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Bendo.
    MAGETAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Maospati.
    MAGETAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Ngariboyo, Poncol, Sukomoro, dan Takeran.
    MAGETAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Barat, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Magetan, Panekan, Plaosan, dan Sidorejo.
    MAGETAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Ngariboyo, Poncol, Sukomoro, dan Takeran.
    MAGETAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Bendo dan Maospati.
    MAGETAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Kawedanan, Lembeyan, Nguntoronadi, dan Parang.
    MALANG Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Sebagian Kecil: Poncokusumo.
    MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Gedangan, Kalipare, Kromengan, dan Ngantang.
    MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Dau, Ngajum, Pagelaran, Singosari, Sumber Pucung, dan Wagir.
    MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Ampelgading, Dampit, Gondanglegi, Jabung, Kepanjen, Lawang, Pakis, Poncokusumo, Sumbermanjing, Tirto Yudo, dan Turen.
    MALANG Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Bululawang, Pakisaji, Tajinan, Tumpang, dan Wajak.
    MALANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Dampit, Gondanglegi, Jabung, Kepanjen, Lawang, dan Pakis.
    MALANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Ampelgading, Sumbermanjing, Tirto Yudo, dan Turen.
    MALANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Bantur, Dau, Donomulyo, Gedangan, Kalipare, Karangploso, Kromengan, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Singosari, Sumber Pucung, dan Wagir.
    MALANG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Kasembon, Pujon, dan Wonosari.
    MALANG Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Dau, Donomulyo, Gedangan, Kalipare, Karangploso, dan Pagak.
    MALANG Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Bantur.
    MOJOKERTO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Gondang.
    MOJOKERTO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Dawar Blandong, Pacet, dan Trawas.
    MOJOKERTO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Dawar Blandong, Gondang, Mojosari, Pacet, Pungging, dan Trawas.
    MOJOKERTO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gedek, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Ngoro, Puri, Sooko, dan Trowulan.
    MOJOKERTO Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Pungging.
    MOJOKERTO Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Mojosari.
    NGANJUK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Pace.
    NGANJUK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Gondang.
    NGANJUK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Loceret, Ngluyu, Rejoso, dan Sukomoro.
    NGANJUK Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Bagor, Berbek, Nganjuk, Ngetos, Sawahan, dan Wilangan.
    NGANJUK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Loceret, Ngronggot, dan Rejoso.
    NGANJUK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Ngluyu dan Sukomoro.
    NGANJUK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Gondang, Kertosono, Pace, dan Prambon.
    NGANJUK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Baron, Jatikalen, Lengkong, Patianrowo, dan Tanjunganom.
    NGANJUK Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Kertosono dan Prambon.
    NGANJUK Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Ngronggot.
    NGAWI Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
    PACITAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Arjosari, Bandar, Donorojo, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan.
    PAMEKASAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
    PASURUAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Bangil, Beji, Gempol, dan Purwosari.
    PASURUAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Rembang.
    PASURUAN Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Kejayan, Kraton, Lumbang, Nguling, Pandaan, Prigen, Purwodadi, Sukorejo, Tutur, dan Wonorejo.
    PASURUAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Gondang Wetan, Grati, Lekok, Pasrepan, Pohjentrek, Puspo, Rejoso, Tosari, dan Winongan.
    PASURUAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Kejayan, Kraton, Lumbang, Nguling, Pandaan, Prigen, Purwodadi, Sukorejo, dan Tutur.
    PASURUAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Wonorejo.
    PASURUAN Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Bangil, Beji, Gempol, Purwosari, dan Rembang.
    PONOROGO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Sambit.
    PONOROGO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Jenangan dan Sooko.
    PONOROGO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Ngrayun, Pudak, Pulung, dan Slahung.
    PONOROGO Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Ngebel.
    PONOROGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Ngrayun, Pudak, Pulung, dan Slahung.
    PONOROGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Badegan, Balong, Bungkal, dan Jambon.
    PONOROGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Jenangan, Sambit, dan Sooko.
    PONOROGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Babadan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ponorogo, Sampung, Sawoo, Siman, dan Sukorejo.
    PROBOLINGGO Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Sebagian Kecil: Besuk dan Pakuniran.
    PROBOLINGGO Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Sebagian: Gading, Krucil, dan Tiris.
    PROBOLINGGO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Kuripan, Pajarakan, Tegalsiwalan, dan Tongas.
    PROBOLINGGO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Banyuanyar dan Lumbang.
    PROBOLINGGO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Besuk, Gading, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Maron, Pakuniran, Sukapura, Sumber, dan Tiris.
    PROBOLINGGO Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Kotaanyar dan Paiton.
    PROBOLINGGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Kraksaan, Krejengan, Maron, Sukapura, Sumber, dan Tiris.
    PROBOLINGGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Banyuanyar, Kuripan, Lumbang, Pajarakan, Tegalsiwalan, dan Tongas.
    PROBOLINGGO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Bantaran, Dringu, Gending, Leces, Sumberasih, dan Wonomerto.
    SAMPANG Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
    SIDOARJO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Buduran, Candi, dan Jabon.
    SIDOARJO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Sidoarjo.
    SIDOARJO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Buduran, Candi, Jabon, dan Sidoarjo.
    SIDOARJO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Balong Bendo, Gedangan, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    SITUBONDO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Arjasa, Kapongan, Mlandingan, Panji, dan Suboh.
    SITUBONDO Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Banyuglugur, Jatibanteng, dan Sumbermalang.
    SITUBONDO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Banyuputih, Kapongan, Panarukan, dan Sumbermalang.
    SITUBONDO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Jatibanteng, Kendit, Panji, dan Situbondo.
    SITUBONDO Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Besuki, Bungatan, Mlandingan, dan Suboh.
    SITUBONDO Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Besuki, Bungatan, Kapongan, Mangaran, dan Mlandingan.
    SITUBONDO Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Arjasa, Panji, dan Suboh.
    SITUBONDO Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Kendit, Panarukan, dan Situbondo.
    SITUBONDO Atas Normal
    (> 200 %)
    Sebagian Kecil: Arjasa, Panarukan, dan Situbondo.
    SITUBONDO Atas Normal
    (> 200 %)
    Sebagian: Jangkar dan Panji.
    SITUBONDO Atas Normal
    (> 200 %)
    Sebagian Besar: Kapongan dan Mangaran.
    SUMENEP Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Dasuk.
    SUMENEP Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Ambunten, Batuputih, Dungkek, Kangayan, Manding, Rubaru, dan Talango.
    SUMENEP Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Arjasa, Batang Batang, Batuan, Bluto, Ganding, Gapura, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Masalembu, Pasongsongan, Pragaan, dan Saronggi.
    SUMENEP Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Batuputih, Dungkek, Manding, Raas, Rubaru, dan Talango.
    SUMENEP Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Ambunten dan Kangayan.
    SUMENEP Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Dasuk dan Sapeken.
    SUMENEP Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Gayam dan Nonggunong.
    SUMENEP Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Sapeken.
    SUMENEP Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Raas.
    TRENGGALEK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Kecil: Suruh.
    TRENGGALEK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Munjungan.
    TRENGGALEK Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian Besar: Dongko dan Pule.
    TRENGGALEK Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Panggul.
    TRENGGALEK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Dongko.
    TRENGGALEK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Pule.
    TRENGGALEK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Gandusari, Kampak, Munjungan, Pogalan, Suruh, dan Watulimo.
    TRENGGALEK Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Bendungan, Durenan, Karangan, Trenggalek, dan Tugu.
    TRENGGALEK Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Pogalan dan Watulimo.
    TRENGGALEK Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian: Gandusari dan Kampak.
    TUBAN Normal
    (85 - 115 %)
    Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
    TULUNGAGUNG Normal
    (85 - 115 %)
    Sebagian: Sendang.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Kecil: Kalidawir, Karangrejo, Ngantru, dan Tulungagung.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian: Boyolangu, Kauman, dan Sendang.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Sebagian Besar: Campur Darat, Pager Wojo, dan Tanggung Gunung.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Seluruh: Bandung, Besuki, Gondang, dan Pakel.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Kecil: Campur Darat, Pager Wojo, Sendang, dan Tanggung Gunung.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Sebagian Besar: Boyolangu, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Ngantru, dan Tulungagung.
    TULUNGAGUNG Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Seluruh: Kedungwaru, Ngunut, Pucang Laban, Rejotangan, dan Sumbergempol.


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Oktober 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 76,5 %, Kurang 8,8 %, Sedang 5,7 %, Cukup 7,5 % dan Sangat Cukup 1,5 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Oktober Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Pacitan.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Lumajang, Malang, dan Trenggalek.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Lamongan, Madiun, Magetan, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Batu, Lumajang, Malang, Ngawi, dan Pacitan.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Pacitan.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi, Lumajang, Malang, dan Trenggalek.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Ngawi, Pacitan, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Agustus - September - Oktober 2020 dengan kriteria Normal 80,8 %, Agak Basah 18,6 % , Basah 0,5 % dan Sangat Basah 0,1 %.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Agustus - September - Oktober 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian kecil Pulau Kangean dan Sumenep.
    Normal Terjadi di sebagian Banyuwangi.
    Normal Terjadi di sebagian besar Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Batu, Pulau Bawean, Madiun, Magetan, Ponorogo, Sampang, dan Surabaya.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Agustus - September - Oktober 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Sidoarjo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Blitar, Malang, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, dan Situbondo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Pulau Kangean, dan Sumenep.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Malang, Nganjuk, Ngawi, dan Sumenep.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan Agustus - September - Oktober Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Pendek 0,1 %, Menengah 15,2 %, Panjang 28,1 % , Sangat Panjang 44,2 %dan Kekeringan Ekstrem 12,4 %


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan November 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Oktober 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Oktober 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 3,5 %, Normal sebesar 8,7 %, dan Atas Normal 87,8 %.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Jombang, Mojokerto, dan Situbondo.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jombang, Madiun, Magetan, Mojokerto, dan Situbondo.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Madiun.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Bawean.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Pulau Bawean, Blitar, Bojonegoro, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Bondowoso, Gresik, Madiun, Magetan, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Madiun, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Ngawi, Situbondo, Surabaya, dan Tuban.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu, Lamongan, dan Ponorogo.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Batu, Bondowoso, Gresik, Pulau Kangean, Madiun, Pamekasan, Pasuruan, dan Sumenep.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Jombang, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo, Sampang, Situbondo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Jember, Kediri, Pacitan, Probolinggo, Sidoarjo, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Lamongan, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Kediri, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Jombang, Pulau Kangean, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Oktober Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan November 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Oktober 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Oktober 2020 berkisar 191 – 823 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jombang, Mojokerto, Probolinggo, dan Situbondo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Probolinggo, Sidoarjo, Sumenep, dan Surabaya.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Pasuruan.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Situbondo.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Ngawi, Situbondo, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Batu, Bondowoso, Jombang, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian besar Gresik, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, dan Surabaya.
    51 -100 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Gresik, Pulau Kangean, Lumajang, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, dan Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Madiun, Magetan, Ponorogo, Sampang, Sumenep, dan Tulungagung.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Jombang, Nganjuk, Pamekasan, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Malang, Ngawi, dan Tulungagung.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Probolinggo.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian Jember, Lumajang, Malang, Ngawi, Pacitan, Trenggalek, dan Tulungagung.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian besar Banyuwangi dan Pulau Kangean.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Malang, Ngawi, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Lumajang, Pacitan, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Lumajang, Pacitan, dan Trenggalek.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) November 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) November 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) November 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II November 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” dan “Menengah”

    Terjadi curah hujan 300 mm (lebih besar dari 300 mm) di sebagian kecil Kab Blitar

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 November 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) November 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) November 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) November 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Pendek”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I November 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” dan “Menengah”

    Terjadi curah hujan 300 mm (lebih besar dari 300 mm) di sebagian kecil Kab Ngawi, Pacitan, Blitar, dan Trenggalek

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 November 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 November 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 November 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Oktober 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Oktober 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Oktober 2020


  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah”

    Terjadi curah hujan >300 mm (lebih besar dari 300 mm) di sebagian kecil Kab. Ngawi, Pacitan dan Trenggalek.

  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”..

    Waspada untuk sebagian kabupaten / Kota :

    1. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di sebagian kecil Kab. Banyuwangi.
  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Prakiraan - Dasarian) Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan NOVEMBER Dasarian I (tanggal 1 - 10) Tahun 2020 update 30 Oktober 2020

    (Prakiraan - Dasarian) Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan NOVEMBER Dasarian I (tanggal 1 - 10) Tahun 2020 update 30 Oktober 2020 (Prakiraan - Dasarian) Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan NOVEMBER Dasarian I (tanggal 1 - 10) Tahun 2020 update 30 Oktober 2020






    TINGKAT POTENSI BANJIR
    TINGGI MENENGAH RENDAH
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    - - BANGKALAN : (Kec. Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Geger, Kamal, Klampis, Kwanyar, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjung Bumi, Tragah)
    - - BANYUWANGI : (Kec. Glenmore, Sempu, Wongsorejo)
    - - BLITAR : (Kec. -, Kademangan, Srengat, Sutojayan, Wonodadi)
    - - BOJONEGORO : (Kec. Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedungadem, Kepohbaru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberrejo, Temayang, Trucuk)
    - - BONDOWOSO : (Kec. Cerme, Klabang, Prajekan, Tapen, Wonosari, Wringin)
    - - GRESIK : (Kec. Balongpangpang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Tambak, Ujungpangkah, Wringinanom)
    - - JEMBER : (Kec. Arjasa, Bangsalsari, Kalisat, Kaliwates, Ledokombo, Mayang, Pakusari, Panti, Patrang, Semboro, Silo, Sukorambi, Sumberbaru, Sumbersari, Tanggul)
    - - JOMBANG : (Kec. Bandarkedungmulyo, Bareng, Gudo, Jogoroto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, Wonosalam)
    - - KEDIRI : (Kec. Banyakan, Gampengrejo, Gurah, Kandangan, Kras, Kunjang, Ngancar, Pagu, Papar, Tarokan)
    - - KOTA BATU : (Kec. Batu, Bumiaji, Junrejo)
    - - KOTA KEDIRI : (Kec. Kota, Mojoroto)
    - - KOTA MADIUN : (Kec. Geger, Jiwan, Kartoharjo, Mangunharjo, Taman)
    - - KOTA MALANG : (Kec. Blimbing, Klojen, Lowokwaru)
    - - KOTA MOJOKERTO : (Kec. Magersari, Prajurit Kulon)
    - - KOTA PASURUAN : (Kec. Bugul Kidul, Gadingrejo, Purworejo)
    - - KOTA PROBOLINGGO : (Kec. Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, Wonoasih)
    - - KOTA SURABAYA : (Kec. Asem Rowo, Benowo, Dukuh Pakis, Gayungan, Jambangan, Karangpilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikerep, Sukomanunggal, Tandes, Wiyung)
    - - LAMONGAN : (Kec. Babat, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karangbinangun, Karanggeneng, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Maduran/Karanggeneng, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sarirejo, Sekaran, Sekaran/Maduran, Sugio, Sukodadi, Tikung, Turi)
    - - LUMAJANG : (Kec. Candipuro, Jatiroto, Kedungjajang, Kunir, Lumajang, Pasirian, Pronojiwo, Tekung, Tempeh, Tempursari, Yosowilangun)
    - - MADIUN : (Kec. Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, Wungu)
    - - MAGETAN : (Kec. Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, Takeran)
    - - MALANG : (Kec. Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Gedangan, Gondanglegi, Kalipare, Kasembon, Kepanjen, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pakis, Pakisaji, Pujon, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, Tirtoyudo, Turen, Wajak, Wonosari)
    - - MOJOKERTO : (Kec. Bangsal, Dawarblandong, Gedeg, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pungging, Puri, Sooko, Trowulan)
    - - NGANJUK : (Kec. Bagor, Berbek, Gondang, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Pace, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom, Wilangan)
    - - NGAWI : (Kec. Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Widodaren)
    - - PACITAN : (Kec. Arjosari, Bandar, Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, Tulakan)
    - - PAMEKASAN : (Kec. Larangan, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Proppo, Waru)
    - - PASURUAN : (Kec. Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, Wonorejo)
    - - PONOROGO : (Kec. , Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ngrayun, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sooko, Sukorejo)
    - - PROBOLINGGO : (Kec. Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, Wonomerto)
    - - SAMPANG : (Kec. Banyuates, Jrengik, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sreseh, Torjun)
    - - SIDOARJO : (Kec. Balongbendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, Wonoayu)
    - - SITUBONDO : (Kec. Arjasa, Banyuglugur, Besuki, Bungatan, Jatibanteng, Kendit, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh)
    - - SUMENEP : (Kec. Lenteng)
    - - TRENGGALEK : (Kec. Bendungan, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Trenggalek, Tugu, Watulimo)
    - - TUBAN : (Kec. Bangilan, Merakurak, Montong, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Soko, Tuban, Widang)
    - - TULUNGAGUNG : (Kec. Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Kedungwaru, Ngantru, Pagerwojo, Sendang, Tulungagung)


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    Sebagian Kecil : Bondowoso


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Bondowoso, Probolinggo dan Kab. Madiun


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian besar Jawa Timur



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan September 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan September 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes Pasuruan
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Malang dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk
    • >35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan September 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang dan Tretes Pasuruan
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang / Abdulrachman Saleh dan Sawahan Nganjuk
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan, Juanda / Surabaya dan Karangkates Malang
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik dan Tanjung Perak Surabaya

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • <70 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak Surabaya dan Kalianget Sumenep
    • 70 – 75 %: Juanda Surabaya, Tuban, Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
    • 151 – 175 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik dan Sawahan Nganjuk
    • >175 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget, Surabaya dan Tuban

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 4.01 – 5.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk dan Surabaya
    • 6.01 – 7.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Tuban
    • 7.01 – 8.00 (mm) : Kalianget Sumenep

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Sawahan Nganjuk, Malang dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan September 2020

    • 76 – 100 mm : Tretes Pasuruan, Malang/Abdul Rahmansaleh dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Malang
    • 126 – 150 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 151 – 175 mm : Madiun, Juanda Sidoarjo dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 : Ringan/Tidak ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian Kecil Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ngawi, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar, Pasuruan, Bondowoso dan Banyuwangi.
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian : Malang
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Jember, Lumajang dan Situbondo.
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Tulungagung, Trenggalek, Lumajang dan Situbondo
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Madiun, Nganjuk, Magetan, Kediri,Blitar, Malang, Pasuruan dan Sumenep
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Kota Surabaya, Jombang, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan

    Data Kandungan Air Tanah bulan September 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 200
    • Madiun : 84
    • Stamet Sangkapura Gresik : 173
    • Stamet Tuban : 66
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 103
    • Stamet Surabaya : 113
    • Staklim Malang : 145
    • Stageof Tretes : 146
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 179
    • Stageof Karangkates Malang : 188
    • Stamet Kalianget Sumenep : 64
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 106
    • Stamet Banyuwangi : 182

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan September 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 88,3 %, Kurang 6,4 %, Sedang 2,3 %, Cukup 2,5 % dan Sangat Cukup 0,5 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Pulau Kangean, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Pacitan, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi dan Malang.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Pasuruan.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, dan Malang.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Lumajang, dan Malang.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Juli - Agustus - September 2020 dengan kriteria Normal 90,9%, Agak Basah 8,8% dan Basah 0,3%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Juli - Agustus - September 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian Pulau Kangean.
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Batu, Pulau Bawean, Gresik, Jember, Madiun, Magetan, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Surabaya, dan Trenggalek.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Juli - Agustus - September 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Pasuruan, dan Situbondo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Probolinggo, dan Situbondo.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Menengah 2,6%, Panjang 25,6% , Sangat Panjang 63,6%dan Kekeringan Ekstrem 8,2%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Pendek”..

    Waspada untuk sebagian kabupaten / Kota :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten / Kota : Banyuwangi, Jombang dan Magetan
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten / Kota : Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo dan Surabaya
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

    Namun terdapat kriteria "TINGGI" di sebagian kecil Kab Malang, Trenggalek, dan Sumenep

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Oktober 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan September 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan September 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 60,5%, Normal sebesar 10,6%, dan Atas Normal 28,9%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Malang, Ngawi, Pacitan, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian Lamongan, Ponorogo, dan Probolinggo.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Gresik, Jombang, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Situbondo, dan Sumenep.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Sampang, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Bondowoso, Gresik, Lamongan, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean dan Ponorogo.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Gresik, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Ngawi, Pacitan, Probolinggo, dan Trenggalek.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Jember, Lumajang, Pacitan, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Malang, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Jember, Kediri, Lumajang, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Situbondo, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Kediri, Malang, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Tuban dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Blitar.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Oktober 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan September 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan September 2020 berkisar 0 – 348 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Lumajang, Malang, Pacitan, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian Bojonegoro, Jember, Kediri, dan Ngawi.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Situbondo.
    0 - 20 mm Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Gresik, Madiun, Magetan, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Surabaya.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Batu, Jember, Kediri, Malang, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Bojonegoro dan Tuban.
    21 - 50 mm Terjadi di seluruh Pulau Kangean.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Ngawi, Ponorogo, Probolinggo, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian besar Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, dan Pacitan.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Lumajang, dan Malang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Oktober 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Oktober 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Oktober 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Kekeringan Ekstrem”..

    Waspada untuk sebagian kabupaten / Kota :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten / Kota : Bojonegoro, Gresik, Jember, Kediri, Madiun, Magetan, Nganjuk, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep dan Surabaya
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten / Kota : Banyuwangi, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, dan Sampang
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III September 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III September 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III September 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Pendek”.”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Surabaya, Sidoarjo, Nganjuk, Madiun, Magetan, Pasuruan, Situbondo dan Sumenep.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Jombang, Mojokerto, Pamekasan dan Probolinggo.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Agustus 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 83,1 %, Kurang 9,7 %, Sedang 3,6 %, Cukup 3,0 % dan Sangat Cukup 0,6 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Batu, Lumajang, dan Malang.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Lamongan, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Lumajang, dan Malang.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Batu.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Malang, dan Pasuruan.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi dan Lumajang.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, dan Lumajang.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Juni - Juli - Agustus 2020 dengan kriteria Normal 99,4%, Agak Basah 0,6%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Juni - Juli - Agustus 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jombang, Lumajang, Malang, Probolinggo, dan Sumenep.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Batu, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Juni - Juli - Agustus 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung. Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jombang, Lumajang, Malang, Probolinggo, dan Sumenep.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Menengah 3,9%, Panjang 38,9% , Sangat Panjang 53,4%dan Kekeringan Ekstrem 3,8%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II September 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II September 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II September 2020


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan September 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Agustus 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 45,1%, Normal sebesar 15,1%, dan Atas Normal 39,8%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Jombang, Lumajang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian besar Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Blitar, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Lamongan, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Kediri, dan Lumajang.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Pulau Bawean, Malang, dan Sampang.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Madiun, Malang, dan Nganjuk.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Pacitan, dan Ponorogo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Blitar, Kediri, Lumajang, Malang, Pamekasan, dan Sampang.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di seluruh Gresik, Pulau Kangean, Ngawi, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan September 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Agustus 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Agustus 2020 berkisar 0 – 655 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian Jombang, Kediri, Magetan, dan Trenggalek.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian besar Pulau Bawean, Blitar, Pulau Kangean, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Pulau Bawean, Blitar, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Pulau Kangean, Lumajang, Magetan, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, dan Sidoarjo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Madiun, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bondowoso, Lamongan, Lumajang, Malang, Ngawi, Pasuruan, dan Sumenep.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Malang.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Ngawi.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Lumajang, Malang, dan Ngawi.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, dan Lumajang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah” dan “Sangat Panjang”.”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, kediri, Lamongan, Madiun Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Sampang, Sumenep, Surabaya dan Trenggalek.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Jombang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo dan Trenggalek.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    Sebagian Kecil : Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, Malang, Ponorogo dan Nganjuk,


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Kab. Malang, Pacitan, Magetan dan Ngawi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian besar Jawa Timur



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Agustus 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 33.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Agustus 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang, Tretes dan Sawahan
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Perak I Surabaya dan Karangkates Malang
    • >35.0 (0 C): Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Agustus 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang, Tretes, Malang/Abdulrachman Saleh dan Karangkates Malang
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Pacitan
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Kalianget Sumenep

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 75 – 80 %: Sangpura Gresik, Juanda Sidoarjo dan Karangkates Malang
    • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi
    • 151 – 175 (mm) : Malang, Sangkapura Gresik, Surabaya dan Tuban
    • >175 (mm) : Juanda dan Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik dan Sawahan Nganjuk
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget Sumenep, Surabaya dan Tuban

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tanjung Perak Surabaya, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda/Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Agustus 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang/Abdul Rahmansaleh dan Karangkates
    • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Malang, Tretes Pasuruan, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Sidoarjo, Surabaya dan Kalianget

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 sebagian besar mengalami Defisit.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tanjung Priok, Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda, Malang, Tretes Pasuruan, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 : Ringan/Tidak ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian besar Jawa Timur
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Tuban, Pamekasan, Blitar dan Malang
    • BERAT (>33.33) : Sebagian : Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, Sampang dan Sumenep,
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Gresik, Kota Surabaya dan Bangkalan.

    Data Kandungan Air Tanah bulan Agustus 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 235
    • Madiun : 126
    • Stamet Sangkapura Gresik : 239
    • Stamet Tuban : 98
    • Stamet Juanda : 152
    • Stamet Surabaya : 163
    • Staklim Malang : 195
    • Stageof Tretes : 193
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 221
    • Stageof Karangkates Malang : 220
    • Stamet Kalianget Sumenep : 108
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 157
    • Stamet Banyuwangi : 208

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Dari 60 ZOM di Jawa Timur, Prakiraan Awal Musim Hujan 2020/2021 jika dibandingkan dengan normalnya (periode tahun 1981-2010), maka:

    • 8 ZOM (13,3 % ) maju dari rata-ratanya.
    • 31 ZOM (51,7 % ) sama dengan rata-ratanya.
    • 21 ZOM (35,0 %) mundur dari rata-ratanya.

    Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1981 – 2010), Awal Musim Hujan 2020/2021 pada umumnya sama dengan rata-ratanya sebanyak 51,7% (31 ZOM dari 60 ZOM ) dan mundur dari rata - ratanya sebesar 35,0% (12 ZOM dari 60 ZOM).

    Istilah Dan Pengertian Dalam Prakiraan Musim

    1. Curah Hujan (mm)

      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

    3. Zona Musim (ZOM)

      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

      Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    4. Permulaan Musim Kemarau

      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

      Permulaan Musim Kemarau bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

    5. Awal Musim Hujan

      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

    6. Dasarian

      Adalah rentang waktu selama 10 hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu: 1. Dasarian I (tanggal 1 sampai dengan 10); 2. Dasarian II (tanggal 11 sampai dengan 20); dan Dasarian III (tanggal 21 sampai dengan akhir bulan).

    7. Sifat Hujan

      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

      1. Atas Normal (AN):

        Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

      2. Normal (N):

        Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

      3. Bawah Normal (BN):

        Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya


    Selengkapnya Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2020/2021 di Jawa Timur terhadap rata-ratanya sebagai berikut:






    PERBANDINGAN DENGAN NORMALNYA KOTA/KABUPATEN KECAMATAN/BAGIAN DARI KECAMATAN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    BANGKALAN Blega, Kokop, dan Konang.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    GRESIK Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    JEMBER Ambulu, Balung, Gumuk Mas, Jenggawah, Jombang, Kencong, Puger, Rambipuji, Semboro, Umbulsari, dan Wuluhan.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    JOMBANG Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    KEDIRI Badas, Kandangan, Kepung, Kunjang, Pare, Plemahan, Puncu, dan Purwoasri.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    KOTA MOJOKERTO Magersari dan Prajurit Kulon.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    KOTA SURABAYA Benowo, Jambangan, Karang Pilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikerep, dan Wiyung.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    LAMONGAN Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Laren, Maduran, Paciran, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, dan Turi.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    LUMAJANG Kunir, Pasirian, Rowokangkung, Tempeh, dan Yosowilangun.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    MALANG Jabung dan Lawang.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    MOJOKERTO Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    NGANJUK Jatikalen dan Patianrowo.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    PAMEKASAN Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, Proppo, dan Tlanakan.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    PASURUAN Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    PROBOLINGGO Kotaanyar, Lumbang, Pakuniran, dan Tongas.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    SAMPANG Banyuates, Camplong, Jrengik, Kedungdung, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    SIDOARJO Balong Bendo, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    SITUBONDO Banyuglugur, Besuki, Jatibanteng, dan Sumbermalang.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BANGKALAN Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BANYUWANGI Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Rogojampi, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BLITAR Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BOJONEGORO Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BONDOWOSO Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Grujugan, Jambesari, Darus Sholah, Klabang, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, dan Wonosari.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    GRESIK Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Dukun, Kedamean, Menganti, Panceng, dan Wringinanom.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    JEMBER Ambulu, Ledokombo, Puger, Silo, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Tanggul, Tempurejo, dan Wuluhan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    JOMBANG Kabuh, Ngusikan, Plandaan, dan Wonosalam.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KEDIRI Banyakan, Grogol, Kandangan, Kandat, Kras, Mojo, Ngadiluwih, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA BATU Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA BLITAR Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA KEDIRI Mojoroto.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA MADIUN Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA MALANG Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA PASURUAN Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA PROBOLINGGO Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA SURABAYA Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    LAMONGAN Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    LUMAJANG Gucialit, Kedungjajang, Klakah, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, dan Senduro.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MADIUN Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MAGETAN Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MALANG Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Sumbermanjing, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, Turen, Wagir, Wajak, dan Wonosari.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MOJOKERTO Dawar Blandong, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Mojosari, Pacet, Pungging, dan Trawas.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    NGANJUK Bagor, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Loceret, Ngetos, Ngluyu, Pace, Rejoso, Sawahan, dan Wilangan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    NGAWI Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kendal, Kwadungan, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, dan Sine.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PACITAN Arjosari, Donorojo, Nawangan, Pacitan, Pringkuku, dan Punung.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PAMEKASAN Batu Marmar, Kadur, Larangan, Pakong, Palengaan, Pasean, Pegantenan, dan Waru.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PASURUAN Bangil, Beji, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Rejoso, Rembang, dan Winongan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PONOROGO Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pudak, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Sooko, dan Sukorejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PROBOLINGGO Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SAMPANG Banyuates, Karang Penang, Ketapang, Robatal, Sokobanah, Sreseh, dan Tambelangan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SIDOARJO Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Kapongan, Mangaran, Panarukan, Panji, dan Situbondo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SUMENEP Ambunten, Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kangayan, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Raas, Rubaru, Sapeken, Saronggi, dan Talango.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    TRENGGALEK Bendungan, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Pogalan, Suruh, Trenggalek, dan Watulimo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    TUBAN Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    TULUNGAGUNG Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BANYUWANGI Bangorejo, Cluring, Gambiran, Genteng, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Pesanggaran, Purwoharjo, Sempu, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegalsari, dan Wongsorejo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BLITAR Gandusari, Garum, Nglegok, Ponggok, dan Sanankulon.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BOJONEGORO Margomulyo dan Ngraho.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BONDOWOSO Binakal, Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tlogosari, dan Wringin.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    GRESIK Sangkapura dan Tambak.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    JEMBER Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Sumbersari, Tanggul, Tempurejo, dan Umbulsari.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    JOMBANG Bandar Kedung Mulyo, Bareng, dan Wonosalam.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    KEDIRI Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Mojo, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    KOTA KEDIRI Kota Kediri dan Pesantren.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    LUMAJANG Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang, Pasirian, Pasrujambe, Pronojiwo, Randuagung, Rowokangkung, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Tempursari, dan Yosowilangun.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    MADIUN Gemarang, Kare, Mejayan, dan Saradan.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    MAGETAN Kartoharjo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    MALANG Ampelgading, Bantur, Dampit, Donomulyo, Gedangan, Jabung, Kasembon, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Poncokusumo, Pujon, Sumbermanjing, Tirto Yudo, Tumpang, dan Wajak.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    NGANJUK Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    NGAWI Geneng, Jogorogo, Karanganyar, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PACITAN Arjosari, Bandar, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PAMEKASAN Palengaan, Pegantenan, dan Proppo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PASURUAN Lumbang, Puspo, Tosari, dan Tutur.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PONOROGO Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jetis, Ngrayun, Sambit, Sawoo, Slahung, dan Sooko.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PROBOLINGGO Besuk, Gading, Kotaanyar, Kraksaan, Krucil, Lumbang, Paiton, Pakuniran, Sukapura, Sumber, dan Tiris.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    SAMPANG Banyuates, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, dan Torjun.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    TRENGGALEK Bendungan, Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek, Tugu, dan Watulimo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    TULUNGAGUNG Besuki, Gondang, Karangrejo, Kauman, Pager Wojo, dan Sendang.









    NO
    ZOM
    Daerah/Kabupaten Normal Periode
    Musim Hujan
    Panjang
    Musim
    (Dasarian)
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    142 Wonogiri bagian selatan, Gunung Kidul bagian selatan, Pacitan bagian barat daya NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    16

    146
    Karanganyar bagian timur, Wonogiri bagian timur laut, Magetan bagian barat, Ngawi bagian selatan OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    147 Grobogan bagian selatan, Sragen bagian utara, Ngawi dan Bojonegoro bagian barat daya OKTOBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    20
    148 Blora bagian utara dan tengah, Grobogan bagian timur, Bojonegoro bagian barat laut, Tuban bagian barat daya NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    149 Rembang bagian timur, Tuban bagian utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    14
    150 Gresik bagian Utara dan Timur, Lamongan bagian tengah NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    14
    151 Lamongan bagian tengah dan timur NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    152 Bojonegoro bagian selatan NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    153 Ponorogo bagian utara, Magetan bagian Timur dan Selatan, Madiun bagian Selatan NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    154 Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian selatan, Trenggalek bagian barat OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    155 Pacitan/Trenggalek bagian selatan bagian selatan OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    20
    156 Trenggalek bagian timur, Tulungagung bagian selatan, Blitar bagian selatan, Malang bagian barat daya NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    157 Trenggalek/Tulungagung bagian utara NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)I
    18
    158 Tulungagung bagian timur, Kediri bagian selatan, Blitar bagian barat NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    15
    159 Daerah sekitar Gunung Wilis NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    18
    160 Nganjuk bagian tengah NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    161 Jombang bagian tengah, Mojokerto bagian barat, Kediri bagian Timur Laut NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    162 Surabaya bagian barat, Gresik bagian selatan, Sidoarjo bagian barat laut dan selatan, Mojokerto bagian utara, Pasuruan bagian tengah NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    15
    163 Surabaya bagian tengah dan timur, Sidoarjo bagian utara/tengah/ timur NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)II
    16
    164 Sidoarjo bagian selatan, Pasuruan bagain utara, Kota Pasuruan DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    14
    165 Mojokerto bagian selatan, Pasuruan bagian selatan NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11
    -
    20)
    17
    166 Daerah sekitar Gunung Arjuno NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    167 Kediri bagian tenggara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    168 Blitar bagian timur, Malang bagian barat NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    169 Malang bagian selatan OKTOBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    20
    170 Blitar bagian timur laut, Malang bagian tengah OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    171 Kota Malang, Malang bagian timur dan tenggara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    172 Daerah sekitar Gunung Bromo dan Semeru SEPTEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    22
    173 Probolinggo bagian barat dan selatan, Lumajang bagian utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    15
    174 Pasuruan bagian timur laut, Probolinggo bagian utara DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET III
    (Tanggal 21 - 31)
    12
    175 Malang bagian tenggara, Lumajang bagian barat daya SEPTEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    JUNI III
    (Tanggal 21 - 30)
    29
    176 Lumajang bagian selatan, Jember bagian Barat daya NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    177 Lumajang bagian tengah OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    19
    178 Probolinggo bagian tenggara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    20
    179 Daerah sekitar Gunung Argopuro OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    20
    180 Bondowoso bagian utara dan tengah NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    181 Probolinggo bagian timur laut, Situbondo/Bondowoso bagian utara DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET III
    (Tanggal 21 - 31)
    12
    182 Situbondo bagian timur laut dan timur, Banyuwangi bagian timur laut DESEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MARET I
    (Tanggal 1 - 10)
    9
    183 Situbondo bagian tenggara NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    18
    184 Probolinggo bagian timur, Situbondo bagian barat DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET III
    (Tanggal 21 - 31)
    12
    185 Bondowoso bagian selatan, sebagian Jember bagian timur laut NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    186 Daerah sekitar Pegunungan Ijen NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    187 Jember bagian utara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    18
    188 Jember bagian barat laut OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    21
    189 Jember bagian tengah OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    190 Jember bagian selatan NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)I
    15
    191 Jember bagian timur, Banyuwangi bagian barat OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)I
    22
    192 Banyuwangi bagian tengah OKTOBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    JUL II
    (Tanggal 11 - 20)
    29
    193 Banyuwangi bagian timur DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)I
    15
    194 Banyuwangi bagian selatan DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET I
    (Tanggal 1 - 10)
    10
    195 Bangkalan bagian selatan DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    13
    196 Bangkalan bagian tengah dan utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    17
    197 Sampang bagian barat dan selatan DESEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    12
    198 Sampang bagian tengah NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    15
    199 Pamekasan bagian selatan DESEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)I
    13
    200 Pamekasan bagian tengah, Sumenep bagian barat NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)II
    16
    201 Sampang/Pamekasan, Sumenep bagian utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    14
    202 Sumenep bagian tenggara dan timur NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)I
    15
    203 Kepulauan Kangean NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)I
    17
    204 Pulau Bawean OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    20









    NO
    ZOM
    Daerah/Kabupaten Prakiraan Awal Musim Hujan Antara (Tahun 2020) Perbandingan
    Prakiraan Awal Musim Hujan
    Terhadap Rata-ratanya (Dasarian)
    Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan Prakiraan Curah Hujan Musim Hujan Prakiraan Puncak Musim Hujan
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    142 Wonogiri bagian selatan, Gunung Kidul bagian selatan, Pacitan bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    146 Karanganyar bagian timur, Wonogiri bagian timur laut, Magetan bagian barat, Ngawi bagian selatan OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    147 Grobogan bagian selatan, Sragen bagian utara, Ngawi dan Bojonegoro bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    148 Blora bagian utara dan tengah, Grobogan bagian timur, Bojonegoro bagian barat laut, Tuban bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    149 Rembang bagian timur, Tuban bagian utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    150 Gresik bagian Utara dan Timur, Lamongan bagian tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    151 Lamongan bagian tengah dan timur NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    152 Bojonegoro bagian selatan OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    153 Ponorogo bagian utara, Magetan bagian Timur dan Selatan, Madiun bagian Selatan NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    154 Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian selatan, Trenggalek bagian barat OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    155 Pacitan/Trenggalek bagian selatan bagian selatan OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    156 Trenggalek bagian timur, Tulungagung bagian selatan, Blitar bagian selatan, Malang bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    157 Trenggalek/Tulungagung bagian utara NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    158 Tulungagung bagian timur, Kediri bagian selatan, Blitar bagian barat NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    159 Daerah sekitar Gunung Wilis NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    160 Nganjuk bagian tengah NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    161 Jombang bagian tengah, Mojokerto bagian barat, Kediri bagian Timur Laut OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    162 Surabaya bagian barat, Gresik bagian selatan, Sidoarjo bagian barat laut dan selatan, Mojokerto bagian utara, Pasuruan bagian tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    163 Surabaya bagian tengah dan timur, Sidoarjo bagian utara/tengah/ timur NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    164 Sidoarjo bagian selatan, Pasuruan bagain utara, Kota Pasuruan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    165 Mojokerto bagian selatan, Pasuruan bagian selatan OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    166 Daerah sekitar Gunung Arjuno OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    167 Kediri bagian tenggara OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    168 Blitar bagian timur, Malang bagian barat OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    169 Malang bagian selatan OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    170 Blitar bagian timur laut, Malang bagian tengah OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    171 Kota Malang, Malang bagian timur dan tenggara OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    172 Daerah sekitar Gunung Bromo dan Semeru OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) >+3 (Awal Musim Hujan mundur lebih dari 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    173 Probolinggo bagian barat dan selatan, Lumajang bagian utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    174 Pasuruan bagian timur laut, Probolinggo bagian utara NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    175 Malang bagian tenggara, Lumajang bagian barat daya SEPTEMBER III - OKTOBER II (TANGGAL 21 SEPTEMBER - 20 OKTOBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL >2500 Januari 2021
    176 Lumajang bagian selatan, Jember bagian Barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    177 Lumajang bagian tengah OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    178 Probolinggo bagian tenggara OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL >2500 Januari 2021
    179 Daerah sekitar Gunung Argopuro OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL >2500 Januari 2021
    180 Bondowoso bagian utara dan tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    181 Probolinggo bagian timur laut, Situbondo/Bondowoso bagian utara DESEMBER I - DESEMBER III (TANGGAL 1 - 31 DESEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    182 Situbondo bagian timur laut dan timur, Banyuwangi bagian timur laut DESEMBER I - DESEMBER III (TANGGAL 1 - 31 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Februari 2021
    183 Situbondo bagian tenggara NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    184 Probolinggo bagian timur, Situbondo bagian barat NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    185 Bondowoso bagian selatan, sebagian Jember bagian timur laut OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    186 Daerah sekitar Pegunungan Ijen NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    187 Jember bagian utara OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    188 Jember bagian barat laut OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL >2500 Januari 2021
    189 Jember bagian tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    190 Jember bagian selatan NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    191 Jember bagian timur, Banyuwangi bagian barat NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Februari 2021
    192 Banyuwangi bagian tengah OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL >2500 Januari 2021
    193 Banyuwangi bagian timur NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    194 Banyuwangi bagian selatan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 501-1000 Februari 2021
    195 Bangkalan bagian selatan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Januari 2021
    196 Bangkalan bagian tengah dan utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    197 Sampang bagian barat dan selatan NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) -2 (Awal Musim Hujan maju 2 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Januari 2021
    198 Sampang bagian tengah NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    199 Pamekasan bagian selatan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Februari 2021
    200 Pamekasan bagian tengah, Sumenep bagian barat NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    201 Sampang/Pamekasan, Sumenep bagian utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    202 Sumenep bagian tenggara dan timur NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    203 Kepulauan Kangean NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    204 Pulau Bawean OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021


  • Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 Dengan Normalnya (tahun 1981 - 2010) Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 Dengan Normalnya (tahun 1981 - 2010) Zona Musim di Provinsi Jawa Timur
  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I September 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I September 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I September 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Pendek” dan “Panjang”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Blitar, Probolinggo, Banyuwangi, Jember, Pamekasan, Blitar, Sidoarjo, Gresik dan Trenggalek.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Jombang, Mojokerto, Probolinggo, Banyuwangi, Bangkalan, Pamekasan, Sampang dan Bondowoso
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Ponorogo, Magetan, Madiun, Ngawi, Gresik, Trenggalek, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

    Sebagian : Situbondo dan Bondowoso

    Sebagian besar : Banyuwangi dan Pacitan


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil : Pacitan, Banyuwangi dan Bondowoso

    Sebagian : Situbondo

    Sebagian besar : Ponorogo, Gresik, Magetan, Madiun, Ngawi, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

    Seluruh Kota Madiun, Bojonegoro, Tuban, Kota Kediri, Lamongan, Kota Mojokerto, Jombang, Kota Surabaya, Mojokerto, Kota Blitar, Sidoarjo, Blitar, Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Bangkalan, Kota Probolinggo, Sampang dan Pamekasan



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 pada umumnya CUKUP Cukup.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebutmenjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0 °C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Pacitan, Malang, Sawahan, dan Banyuwangi
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Karangkates Malang dan Kalianget Sumenep
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Perak I / Surabaya, dan Tanjung Perak

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, dan Kalianget
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Malang, dan Sawahan Nganjuk
    • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
    • 101 - 125 (mm) : Malang
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya dan Tuban
    • 151 – 175 (mm) : Juanda Surabaya, Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 2.01 – 3.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 3.01 – 4.00 (mm) : Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya, Tegal dan Tuban
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juli 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang, Tretes Pasuruan dan Malang / Abdul Rahmansaleh
    • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juli 2020

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Gresik, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ngawi, Madiun, Magetan, Tuban, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo, Malang, Blitar dan Bangkalan
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Seluruh : Kota Bojonegoro, Kota Malang, Kota Probolinggo, sebagian Probolinggo, Pamekasan, Sampang dan Sumenep
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan, Sidoarjo dan Bangkalan
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Gresik
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Kota Surabaya

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Agustus 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Agustus 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Agustus 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Banyuwangi, Blitar, Lumajang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Bangkalan, Pamekasan, dan Sampang.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Juli 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 66,4%, Kurang 18,3%, Sedang 6,8%, Cukup 7,2% dan Sangat Cukup1,3%.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Lumajang dan Malang.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Kediri, dan Trenggalek.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Lamongan, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jombang, Madiun, Mojokerto, Pasuruan, dan Situbondo.
    Kurang Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Batu dan Trenggalek.
    Kurang Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Batu dan Malang.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Batu, Bondowoso, Jember, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi, Lumajang, dan Malang.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Mei - Juni - Juli 2020 dengan kriteria Agak Kering 0,1%, Normal 85,6%, Agak Basah 12,8% dan Basah 1,6%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Mei - Juni - Juli 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Pamekasan.
    Normal Terjadi di sebagian Malang dan Probolinggo.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Gresik, Pulau Kangean, Madiun, Magetan, Ngawi, Sampang, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Mei - Juni - Juli 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Blitar, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, dan Probolinggo.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, dan Nganjuk.
    Basah Terjadi di sebagian Probolinggo.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Malang.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Pendek 0,7%, Menengah 28,1%, Panjang 36,9% , Sangat Panjang 34,0%dan Kekeringan Ekstrem 0,3%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Juli 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 45,1%, Normal sebesar 15,1%, dan Atas Normal 39,8%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %