Analisis Klimatologi

Analisis Klimatologi

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    Sebagian Kecil : Bondowoso


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Bondowoso, Probolinggo dan Kab. Madiun


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian besar Jawa Timur



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan September 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan September 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes Pasuruan
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Malang dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Juanda Sidoarjo, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk
    • >35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya dan Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan September 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang dan Tretes Pasuruan
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang / Abdulrachman Saleh dan Sawahan Nganjuk
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan, Juanda / Surabaya dan Karangkates Malang
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik dan Tanjung Perak Surabaya

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • <70 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak Surabaya dan Kalianget Sumenep
    • 70 – 75 %: Juanda Surabaya, Tuban, Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
    • 151 – 175 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik dan Sawahan Nganjuk
    • >175 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget, Surabaya dan Tuban

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 4.01 – 5.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk dan Surabaya
    • 6.01 – 7.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Tuban
    • 7.01 – 8.00 (mm) : Kalianget Sumenep

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 20 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tanjung Perak Surabaya, Sawahan Nganjuk, Malang dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan September 2020

    • 76 – 100 mm : Tretes Pasuruan, Malang/Abdul Rahmansaleh dan Karangkates Malang
    • 101 – 125 mm : Malang
    • 126 – 150 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 151 – 175 mm : Madiun, Juanda Sidoarjo dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Sidoarjo, Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan September 2020 : Ringan/Tidak ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian Kecil Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ngawi, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar, Pasuruan, Bondowoso dan Banyuwangi.
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian : Malang
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Jember, Lumajang dan Situbondo.
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Tulungagung, Trenggalek, Lumajang dan Situbondo
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Madiun, Nganjuk, Magetan, Kediri,Blitar, Malang, Pasuruan dan Sumenep
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Kota Surabaya, Jombang, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan

    Data Kandungan Air Tanah bulan September 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 200
    • Madiun : 84
    • Stamet Sangkapura Gresik : 173
    • Stamet Tuban : 66
    • Stamet Juanda Sidoarjo : 103
    • Stamet Surabaya : 113
    • Staklim Malang : 145
    • Stageof Tretes : 146
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 179
    • Stageof Karangkates Malang : 188
    • Stamet Kalianget Sumenep : 64
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 106
    • Stamet Banyuwangi : 182

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan September 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 88,3 %, Kurang 6,4 %, Sedang 2,3 %, Cukup 2,5 % dan Sangat Cukup 0,5 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan September Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Pulau Kangean, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Pacitan, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi dan Malang.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Pasuruan.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, dan Malang.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Lumajang, dan Malang.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Juli - Agustus - September 2020 dengan kriteria Normal 90,9%, Agak Basah 8,8% dan Basah 0,3%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Juli - Agustus - September 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian Pulau Kangean.
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Batu, Pulau Bawean, Gresik, Jember, Madiun, Magetan, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Surabaya, dan Trenggalek.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Juli - Agustus - September 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Pasuruan, dan Situbondo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Probolinggo, dan Situbondo.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur pada Bulan Juli - Agustus - September Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Menengah 2,6%, Panjang 25,6% , Sangat Panjang 63,6%dan Kekeringan Ekstrem 8,2%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Pendek”..

    Waspada untuk sebagian kabupaten / Kota :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten / Kota : Banyuwangi, Jombang dan Magetan
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten / Kota : Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo dan Surabaya
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

    Namun terdapat kriteria "TINGGI" di sebagian kecil Kab Malang, Trenggalek, dan Sumenep

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Oktober 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan September 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan September 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 60,5%, Normal sebesar 10,6%, dan Atas Normal 28,9%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Malang, Ngawi, Pacitan, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian Lamongan, Ponorogo, dan Probolinggo.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Gresik, Jombang, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Situbondo, dan Sumenep.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Sampang, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Bondowoso, Gresik, Lamongan, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean dan Ponorogo.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Gresik, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Ngawi, Pacitan, Probolinggo, dan Trenggalek.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Jember, Lumajang, Pacitan, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Malang, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Jember, Kediri, Lumajang, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Situbondo, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Kediri, Malang, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Tuban dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Blitar.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan September Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Oktober 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan September 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan September 2020 berkisar 0 – 348 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Lumajang, Malang, Pacitan, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian Bojonegoro, Jember, Kediri, dan Ngawi.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Situbondo.
    0 - 20 mm Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Gresik, Madiun, Magetan, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Surabaya.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Batu, Jember, Kediri, Malang, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Bojonegoro dan Tuban.
    21 - 50 mm Terjadi di seluruh Pulau Kangean.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Ngawi, Ponorogo, Probolinggo, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian besar Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pacitan, dan Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, dan Pacitan.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Lumajang, dan Malang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Oktober 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Oktober 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I Oktober 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” hingga “Kekeringan Ekstrem”..

    Waspada untuk sebagian kabupaten / Kota :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten / Kota : Bojonegoro, Gresik, Jember, Kediri, Madiun, Magetan, Nganjuk, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep dan Surabaya
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten / Kota : Banyuwangi, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, dan Sampang
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Oktober 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III September 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III September 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian III September 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Pendek”.”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Surabaya, Sidoarjo, Nganjuk, Madiun, Magetan, Pasuruan, Situbondo dan Sumenep.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Jombang, Mojokerto, Pamekasan dan Probolinggo.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III September 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 September 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Agustus 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 83,1 %, Kurang 9,7 %, Sedang 3,6 %, Cukup 3,0 % dan Sangat Cukup 0,6 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Agustus Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Batu, Lumajang, dan Malang.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Lamongan, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Lumajang, dan Malang.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Batu.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Malang, dan Pasuruan.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi dan Lumajang.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, dan Lumajang.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Juni - Juli - Agustus 2020 dengan kriteria Normal 99,4%, Agak Basah 0,6%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Juni - Juli - Agustus 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jombang, Lumajang, Malang, Probolinggo, dan Sumenep.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Batu, Pulau Bawean, Bojonegoro, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Juni - Juli - Agustus 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung. Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jombang, Lumajang, Malang, Probolinggo, dan Sumenep.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Juni - Juli - Agustus Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Menengah 3,9%, Panjang 38,9% , Sangat Panjang 53,4%dan Kekeringan Ekstrem 3,8%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II September 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II September 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian II September 2020


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan September 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Agustus 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Agustus 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 45,1%, Normal sebesar 15,1%, dan Atas Normal 39,8%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Jombang, Lumajang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian besar Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Blitar, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Lamongan, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Kediri, dan Lumajang.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Pulau Bawean, Malang, dan Sampang.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Madiun, Malang, dan Nganjuk.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Pacitan, dan Ponorogo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Blitar, Kediri, Lumajang, Malang, Pamekasan, dan Sampang.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di seluruh Gresik, Pulau Kangean, Ngawi, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan September 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Agustus 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Agustus 2020 berkisar 0 – 655 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian Jombang, Kediri, Magetan, dan Trenggalek.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian besar Pulau Bawean, Blitar, Pulau Kangean, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Pulau Bawean, Blitar, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Pulau Kangean, Lumajang, Magetan, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, dan Sidoarjo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Madiun, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bondowoso, Lamongan, Lumajang, Malang, Ngawi, Pasuruan, dan Sumenep.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Malang.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Ngawi.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Lumajang, Malang, dan Ngawi.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, dan Lumajang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah” dan “Sangat Panjang”.”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, kediri, Lamongan, Madiun Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Probolinggo, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Sampang, Sumenep, Surabaya dan Trenggalek.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Jombang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo dan Trenggalek.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II September 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Agustus Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH BAGI TANAMAN : CUKUP

    Sebagian Kecil : Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, Malang, Ponorogo dan Nganjuk,


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Kab. Malang, Pacitan, Magetan dan Ngawi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian besar Jawa Timur



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Agustus 2020 pada umumnya KURANG.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 33.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Agustus 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang, Tretes dan Sawahan
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Perak I Surabaya dan Karangkates Malang
    • >35.0 (0 C): Tanjung Perak Surabaya

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Agustus 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang, Tretes, Malang/Abdulrachman Saleh dan Karangkates Malang
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Pacitan
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Kalianget Sumenep

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, Malang, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
    • 75 – 80 %: Sangpura Gresik, Juanda Sidoarjo dan Karangkates Malang
    • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates Malang
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi
    • 151 – 175 (mm) : Malang, Sangkapura Gresik, Surabaya dan Tuban
    • >175 (mm) : Juanda dan Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Malang, Sangkapura Gresik dan Sawahan Nganjuk
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Sidoarjo, Kalianget Sumenep, Surabaya dan Tuban

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tanjung Perak Surabaya, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda/Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Agustus 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang/Abdul Rahmansaleh dan Karangkates
    • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Malang, Tretes Pasuruan, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Sidoarjo, Surabaya dan Kalianget

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 sebagian besar mengalami Defisit.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tanjung Priok, Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda, Malang, Tretes Pasuruan, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Agustus 2020 : Ringan/Tidak ada

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian besar Jawa Timur
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Tuban, Pamekasan, Blitar dan Malang
    • BERAT (>33.33) : Sebagian : Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, Sampang dan Sumenep,
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Gresik, Kota Surabaya dan Bangkalan.

    Data Kandungan Air Tanah bulan Agustus 2020 beberapa tempat di Jawa Timur

    • Pacitan : 235
    • Madiun : 126
    • Stamet Sangkapura Gresik : 239
    • Stamet Tuban : 98
    • Stamet Juanda : 152
    • Stamet Surabaya : 163
    • Staklim Malang : 195
    • Stageof Tretes : 193
    • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 221
    • Stageof Karangkates Malang : 220
    • Stamet Kalianget Sumenep : 108
    • Stageof Sawahan Nganjuk : 157
    • Stamet Banyuwangi : 208

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 September 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Dari 60 ZOM di Jawa Timur, Prakiraan Awal Musim Hujan 2020/2021 jika dibandingkan dengan normalnya (periode tahun 1981-2010), maka:

    • 8 ZOM (13,3 % ) maju dari rata-ratanya.
    • 31 ZOM (51,7 % ) sama dengan rata-ratanya.
    • 21 ZOM (35,0 %) mundur dari rata-ratanya.

    Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1981 – 2010), Awal Musim Hujan 2020/2021 pada umumnya sama dengan rata-ratanya sebanyak 51,7% (31 ZOM dari 60 ZOM ) dan mundur dari rata - ratanya sebesar 35,0% (12 ZOM dari 60 ZOM).

    Istilah Dan Pengertian Dalam Prakiraan Musim

    1. Curah Hujan (mm)

      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

    3. Zona Musim (ZOM)

      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

      Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    4. Permulaan Musim Kemarau

      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

      Permulaan Musim Kemarau bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

    5. Awal Musim Hujan

      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

    6. Dasarian

      Adalah rentang waktu selama 10 hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu: 1. Dasarian I (tanggal 1 sampai dengan 10); 2. Dasarian II (tanggal 11 sampai dengan 20); dan Dasarian III (tanggal 21 sampai dengan akhir bulan).

    7. Sifat Hujan

      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

      1. Atas Normal (AN):

        Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

      2. Normal (N):

        Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

      3. Bawah Normal (BN):

        Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya


    Selengkapnya Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2020/2021 di Jawa Timur terhadap rata-ratanya sebagai berikut:






    PERBANDINGAN DENGAN NORMALNYA KOTA/KABUPATEN KECAMATAN/BAGIAN DARI KECAMATAN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    BANGKALAN Blega, Kokop, dan Konang.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    GRESIK Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    JEMBER Ambulu, Balung, Gumuk Mas, Jenggawah, Jombang, Kencong, Puger, Rambipuji, Semboro, Umbulsari, dan Wuluhan.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    JOMBANG Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    KEDIRI Badas, Kandangan, Kepung, Kunjang, Pare, Plemahan, Puncu, dan Purwoasri.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    KOTA MOJOKERTO Magersari dan Prajurit Kulon.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    KOTA SURABAYA Benowo, Jambangan, Karang Pilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikerep, dan Wiyung.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    LAMONGAN Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Laren, Maduran, Paciran, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, dan Turi.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    LUMAJANG Kunir, Pasirian, Rowokangkung, Tempeh, dan Yosowilangun.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    MALANG Jabung dan Lawang.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    MOJOKERTO Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    NGANJUK Jatikalen dan Patianrowo.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    PAMEKASAN Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, Proppo, dan Tlanakan.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    PASURUAN Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    PROBOLINGGO Kotaanyar, Lumbang, Pakuniran, dan Tongas.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    SAMPANG Banyuates, Camplong, Jrengik, Kedungdung, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    SIDOARJO Balong Bendo, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    MAJU
    8 ZOM
    (13,3%)
    SITUBONDO Banyuglugur, Besuki, Jatibanteng, dan Sumbermalang.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BANGKALAN Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BANYUWANGI Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Rogojampi, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BLITAR Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BOJONEGORO Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    BONDOWOSO Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Grujugan, Jambesari, Darus Sholah, Klabang, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, dan Wonosari.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    GRESIK Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Dukun, Kedamean, Menganti, Panceng, dan Wringinanom.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    JEMBER Ambulu, Ledokombo, Puger, Silo, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Tanggul, Tempurejo, dan Wuluhan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    JOMBANG Kabuh, Ngusikan, Plandaan, dan Wonosalam.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KEDIRI Banyakan, Grogol, Kandangan, Kandat, Kras, Mojo, Ngadiluwih, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA BATU Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA BLITAR Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA KEDIRI Mojoroto.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA MADIUN Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA MALANG Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA PASURUAN Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA PROBOLINGGO Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    KOTA SURABAYA Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    LAMONGAN Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    LUMAJANG Gucialit, Kedungjajang, Klakah, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, dan Senduro.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MADIUN Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MAGETAN Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MALANG Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Sumbermanjing, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, Turen, Wagir, Wajak, dan Wonosari.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    MOJOKERTO Dawar Blandong, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Mojosari, Pacet, Pungging, dan Trawas.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    NGANJUK Bagor, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Loceret, Ngetos, Ngluyu, Pace, Rejoso, Sawahan, dan Wilangan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    NGAWI Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kendal, Kwadungan, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, dan Sine.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PACITAN Arjosari, Donorojo, Nawangan, Pacitan, Pringkuku, dan Punung.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PAMEKASAN Batu Marmar, Kadur, Larangan, Pakong, Palengaan, Pasean, Pegantenan, dan Waru.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PASURUAN Bangil, Beji, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Rejoso, Rembang, dan Winongan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PONOROGO Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pudak, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Sooko, dan Sukorejo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    PROBOLINGGO Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SAMPANG Banyuates, Karang Penang, Ketapang, Robatal, Sokobanah, Sreseh, dan Tambelangan.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SIDOARJO Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Kapongan, Mangaran, Panarukan, Panji, dan Situbondo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    SUMENEP Ambunten, Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kangayan, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Raas, Rubaru, Sapeken, Saronggi, dan Talango.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    TRENGGALEK Bendungan, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Pogalan, Suruh, Trenggalek, dan Watulimo.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    TUBAN Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
    SAMA
    31 ZOM
    (51,7%)
    TULUNGAGUNG Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BANYUWANGI Bangorejo, Cluring, Gambiran, Genteng, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Pesanggaran, Purwoharjo, Sempu, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegalsari, dan Wongsorejo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BLITAR Gandusari, Garum, Nglegok, Ponggok, dan Sanankulon.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BOJONEGORO Margomulyo dan Ngraho.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    BONDOWOSO Binakal, Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tlogosari, dan Wringin.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    GRESIK Sangkapura dan Tambak.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    JEMBER Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Sumbersari, Tanggul, Tempurejo, dan Umbulsari.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    JOMBANG Bandar Kedung Mulyo, Bareng, dan Wonosalam.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    KEDIRI Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Mojo, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    KOTA KEDIRI Kota Kediri dan Pesantren.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    LUMAJANG Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang, Pasirian, Pasrujambe, Pronojiwo, Randuagung, Rowokangkung, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Tempursari, dan Yosowilangun.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    MADIUN Gemarang, Kare, Mejayan, dan Saradan.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    MAGETAN Kartoharjo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    MALANG Ampelgading, Bantur, Dampit, Donomulyo, Gedangan, Jabung, Kasembon, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Poncokusumo, Pujon, Sumbermanjing, Tirto Yudo, Tumpang, dan Wajak.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    NGANJUK Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    NGAWI Geneng, Jogorogo, Karanganyar, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PACITAN Arjosari, Bandar, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PAMEKASAN Palengaan, Pegantenan, dan Proppo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PASURUAN Lumbang, Puspo, Tosari, dan Tutur.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PONOROGO Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jetis, Ngrayun, Sambit, Sawoo, Slahung, dan Sooko.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    PROBOLINGGO Besuk, Gading, Kotaanyar, Kraksaan, Krucil, Lumbang, Paiton, Pakuniran, Sukapura, Sumber, dan Tiris.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    SAMPANG Banyuates, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, dan Torjun.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    TRENGGALEK Bendungan, Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek, Tugu, dan Watulimo.
    MUNDUR
    21 ZOM
    (35,0%)
    TULUNGAGUNG Besuki, Gondang, Karangrejo, Kauman, Pager Wojo, dan Sendang.









    NO
    ZOM
    Daerah/Kabupaten Normal Periode
    Musim Hujan
    Panjang
    Musim
    (Dasarian)
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    142 Wonogiri bagian selatan, Gunung Kidul bagian selatan, Pacitan bagian barat daya NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    16

    146
    Karanganyar bagian timur, Wonogiri bagian timur laut, Magetan bagian barat, Ngawi bagian selatan OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    147 Grobogan bagian selatan, Sragen bagian utara, Ngawi dan Bojonegoro bagian barat daya OKTOBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    20
    148 Blora bagian utara dan tengah, Grobogan bagian timur, Bojonegoro bagian barat laut, Tuban bagian barat daya NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    149 Rembang bagian timur, Tuban bagian utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    14
    150 Gresik bagian Utara dan Timur, Lamongan bagian tengah NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    14
    151 Lamongan bagian tengah dan timur NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    152 Bojonegoro bagian selatan NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    153 Ponorogo bagian utara, Magetan bagian Timur dan Selatan, Madiun bagian Selatan NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    154 Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian selatan, Trenggalek bagian barat OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    155 Pacitan/Trenggalek bagian selatan bagian selatan OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    20
    156 Trenggalek bagian timur, Tulungagung bagian selatan, Blitar bagian selatan, Malang bagian barat daya NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    157 Trenggalek/Tulungagung bagian utara NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)I
    18
    158 Tulungagung bagian timur, Kediri bagian selatan, Blitar bagian barat NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    15
    159 Daerah sekitar Gunung Wilis NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    18
    160 Nganjuk bagian tengah NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    161 Jombang bagian tengah, Mojokerto bagian barat, Kediri bagian Timur Laut NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    162 Surabaya bagian barat, Gresik bagian selatan, Sidoarjo bagian barat laut dan selatan, Mojokerto bagian utara, Pasuruan bagian tengah NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    15
    163 Surabaya bagian tengah dan timur, Sidoarjo bagian utara/tengah/ timur NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)II
    16
    164 Sidoarjo bagian selatan, Pasuruan bagain utara, Kota Pasuruan DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    14
    165 Mojokerto bagian selatan, Pasuruan bagian selatan NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11
    -
    20)
    17
    166 Daerah sekitar Gunung Arjuno NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    167 Kediri bagian tenggara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    168 Blitar bagian timur, Malang bagian barat NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    169 Malang bagian selatan OKTOBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    20
    170 Blitar bagian timur laut, Malang bagian tengah OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    171 Kota Malang, Malang bagian timur dan tenggara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    172 Daerah sekitar Gunung Bromo dan Semeru SEPTEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    22
    173 Probolinggo bagian barat dan selatan, Lumajang bagian utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    15
    174 Pasuruan bagian timur laut, Probolinggo bagian utara DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET III
    (Tanggal 21 - 31)
    12
    175 Malang bagian tenggara, Lumajang bagian barat daya SEPTEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    JUNI III
    (Tanggal 21 - 30)
    29
    176 Lumajang bagian selatan, Jember bagian Barat daya NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    177 Lumajang bagian tengah OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    19
    178 Probolinggo bagian tenggara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    20
    179 Daerah sekitar Gunung Argopuro OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    20
    180 Bondowoso bagian utara dan tengah NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    181 Probolinggo bagian timur laut, Situbondo/Bondowoso bagian utara DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET III
    (Tanggal 21 - 31)
    12
    182 Situbondo bagian timur laut dan timur, Banyuwangi bagian timur laut DESEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MARET I
    (Tanggal 1 - 10)
    9
    183 Situbondo bagian tenggara NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    18
    184 Probolinggo bagian timur, Situbondo bagian barat DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET III
    (Tanggal 21 - 31)
    12
    185 Bondowoso bagian selatan, sebagian Jember bagian timur laut NOVEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    17
    186 Daerah sekitar Pegunungan Ijen NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    16
    187 Jember bagian utara OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)
    18
    188 Jember bagian barat laut OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    21
    189 Jember bagian tengah OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    APRIL III
    (Tanggal 21 - 30)
    19
    190 Jember bagian selatan NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)I
    15
    191 Jember bagian timur, Banyuwangi bagian barat OKTOBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)I
    22
    192 Banyuwangi bagian tengah OKTOBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    JUL II
    (Tanggal 11 - 20)
    29
    193 Banyuwangi bagian timur DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)I
    15
    194 Banyuwangi bagian selatan DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    MARET I
    (Tanggal 1 - 10)
    10
    195 Bangkalan bagian selatan DESEMBER I
    (Tanggal 1 - 10)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    13
    196 Bangkalan bagian tengah dan utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    17
    197 Sampang bagian barat dan selatan DESEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    12
    198 Sampang bagian tengah NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)
    15
    199 Pamekasan bagian selatan DESEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 - 10)I
    13
    200 Pamekasan bagian tengah, Sumenep bagian barat NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)II
    16
    201 Sampang/Pamekasan, Sumenep bagian utara NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)
    14
    202 Sumenep bagian tenggara dan timur NOVEMBER III
    (Tanggal 21 - 30)
    -
    APRIL I
    (Tanggal 1 -10)I
    15
    203 Kepulauan Kangean NOVEMBER II
    (Tanggal 11 - 20)
    -
    APRIL II
    (Tanggal 11 - 20)I
    17
    204 Pulau Bawean OKTOBER III
    (Tanggal 21 - 31)
    -
    MEI I
    (Tanggal 1 - 10)
    20









    NO
    ZOM
    Daerah/Kabupaten Prakiraan Awal Musim Hujan Antara (Tahun 2020) Perbandingan
    Prakiraan Awal Musim Hujan
    Terhadap Rata-ratanya (Dasarian)
    Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan Prakiraan Curah Hujan Musim Hujan Prakiraan Puncak Musim Hujan
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    142 Wonogiri bagian selatan, Gunung Kidul bagian selatan, Pacitan bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    146 Karanganyar bagian timur, Wonogiri bagian timur laut, Magetan bagian barat, Ngawi bagian selatan OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    147 Grobogan bagian selatan, Sragen bagian utara, Ngawi dan Bojonegoro bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    148 Blora bagian utara dan tengah, Grobogan bagian timur, Bojonegoro bagian barat laut, Tuban bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    149 Rembang bagian timur, Tuban bagian utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    150 Gresik bagian Utara dan Timur, Lamongan bagian tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    151 Lamongan bagian tengah dan timur NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    152 Bojonegoro bagian selatan OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    153 Ponorogo bagian utara, Magetan bagian Timur dan Selatan, Madiun bagian Selatan NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    154 Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian selatan, Trenggalek bagian barat OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    155 Pacitan/Trenggalek bagian selatan bagian selatan OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    156 Trenggalek bagian timur, Tulungagung bagian selatan, Blitar bagian selatan, Malang bagian barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    157 Trenggalek/Tulungagung bagian utara NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    158 Tulungagung bagian timur, Kediri bagian selatan, Blitar bagian barat NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    159 Daerah sekitar Gunung Wilis NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    160 Nganjuk bagian tengah NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    161 Jombang bagian tengah, Mojokerto bagian barat, Kediri bagian Timur Laut OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    162 Surabaya bagian barat, Gresik bagian selatan, Sidoarjo bagian barat laut dan selatan, Mojokerto bagian utara, Pasuruan bagian tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    163 Surabaya bagian tengah dan timur, Sidoarjo bagian utara/tengah/ timur NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    164 Sidoarjo bagian selatan, Pasuruan bagain utara, Kota Pasuruan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    165 Mojokerto bagian selatan, Pasuruan bagian selatan OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    166 Daerah sekitar Gunung Arjuno OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    167 Kediri bagian tenggara OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    168 Blitar bagian timur, Malang bagian barat OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    169 Malang bagian selatan OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    170 Blitar bagian timur laut, Malang bagian tengah OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    171 Kota Malang, Malang bagian timur dan tenggara OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    172 Daerah sekitar Gunung Bromo dan Semeru OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) >+3 (Awal Musim Hujan mundur lebih dari 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    173 Probolinggo bagian barat dan selatan, Lumajang bagian utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    174 Pasuruan bagian timur laut, Probolinggo bagian utara NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    175 Malang bagian tenggara, Lumajang bagian barat daya SEPTEMBER III - OKTOBER II (TANGGAL 21 SEPTEMBER - 20 OKTOBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL >2500 Januari 2021
    176 Lumajang bagian selatan, Jember bagian Barat daya OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    177 Lumajang bagian tengah OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    178 Probolinggo bagian tenggara OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL >2500 Januari 2021
    179 Daerah sekitar Gunung Argopuro OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL >2500 Januari 2021
    180 Bondowoso bagian utara dan tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    181 Probolinggo bagian timur laut, Situbondo/Bondowoso bagian utara DESEMBER I - DESEMBER III (TANGGAL 1 - 31 DESEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    182 Situbondo bagian timur laut dan timur, Banyuwangi bagian timur laut DESEMBER I - DESEMBER III (TANGGAL 1 - 31 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Februari 2021
    183 Situbondo bagian tenggara NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    184 Probolinggo bagian timur, Situbondo bagian barat NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    185 Bondowoso bagian selatan, sebagian Jember bagian timur laut OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    186 Daerah sekitar Pegunungan Ijen NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1501-2000 Februari 2021
    187 Jember bagian utara OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    188 Jember bagian barat laut OKTOBER II - NOVEMBER I (TANGGAL 11 OKTOBER - 10 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL >2500 Januari 2021
    189 Jember bagian tengah NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +2 (Awal Musim Hujan mundur 2 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Januari 2021
    190 Jember bagian selatan NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    191 Jember bagian timur, Banyuwangi bagian barat NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) ATAS NORMAL 2001-2500 Februari 2021
    192 Banyuwangi bagian tengah OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +3 (Awal Musim Hujan mundur 3 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL >2500 Januari 2021
    193 Banyuwangi bagian timur NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    194 Banyuwangi bagian selatan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 501-1000 Februari 2021
    195 Bangkalan bagian selatan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Januari 2021
    196 Bangkalan bagian tengah dan utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    197 Sampang bagian barat dan selatan NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) -2 (Awal Musim Hujan maju 2 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Januari 2021
    198 Sampang bagian tengah NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    199 Pamekasan bagian selatan NOVEMBER III - DESEMBER II (TANGGAL 21 NOVEMBER - 20 DESEMBER) -1 (Awal Musim Hujan maju 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 501-1000 Februari 2021
    200 Pamekasan bagian tengah, Sumenep bagian barat NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Februari 2021
    201 Sampang/Pamekasan, Sumenep bagian utara NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) ATAS NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    202 Sumenep bagian tenggara dan timur NOVEMBER II - DESEMBER I (TANGGAL 11 NOVEMBER - 10 DESEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1001-1500 Januari 2021
    203 Kepulauan Kangean NOVEMBER I - NOVEMBER III (TANGGAL 1 - 30 NOVEMBER) 0 (Awal Musim Hujan sama dengan rata-ratanya) NORMAL 1501-2000 Januari 2021
    204 Pulau Bawean OKTOBER III - NOVEMBER II (TANGGAL 21 OKTOBER - 21 NOVEMBER) +1 (Awal Musim Hujan mundur 1 dasarian dari rata-ratanya) NORMAL 2001-2500 Januari 2021


  • Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 Dengan Normalnya (tahun 1981 - 2010) Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2020/2021 Dengan Normalnya (tahun 1981 - 2010) Zona Musim di Provinsi Jawa Timur
  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I September 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I September 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Pemutakhiran Dasarian I September 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Pendek” dan “Panjang”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Blitar, Probolinggo, Banyuwangi, Jember, Pamekasan, Blitar, Sidoarjo, Gresik dan Trenggalek.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Jombang, Mojokerto, Probolinggo, Banyuwangi, Bangkalan, Pamekasan, Sampang dan Bondowoso
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I September 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 September 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Ponorogo, Magetan, Madiun, Ngawi, Gresik, Trenggalek, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

    Sebagian : Situbondo dan Bondowoso

    Sebagian besar : Banyuwangi dan Pacitan


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil : Pacitan, Banyuwangi dan Bondowoso

    Sebagian : Situbondo

    Sebagian besar : Ponorogo, Gresik, Magetan, Madiun, Ngawi, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Sumenep

    Seluruh Kota Madiun, Bojonegoro, Tuban, Kota Kediri, Lamongan, Kota Mojokerto, Jombang, Kota Surabaya, Mojokerto, Kota Blitar, Sidoarjo, Blitar, Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Bangkalan, Kota Probolinggo, Sampang dan Pamekasan



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 pada umumnya CUKUP Cukup.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman CUKUP tersebutmenjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0 °C.

    Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juli 2020 (0 C)

    • 29.1 – 31.0 (0 C): Pacitan, Malang, Sawahan, dan Banyuwangi
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Karangkates Malang dan Kalianget Sumenep
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Perak I / Surabaya, dan Tanjung Perak

    3.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, Tuban, dan Kalianget
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Juanda Surabaya, Malang, dan Sawahan Nganjuk
    • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang dan Banyuwangi

    4.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
    • 101 - 125 (mm) : Malang
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya dan Tuban
    • 151 – 175 (mm) : Juanda Surabaya, Kalianget Sumenep

    5.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 2.01 – 3.00 (mm) : Karangkates Malang
    • 3.01 – 4.00 (mm) : Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Banyuwangi, Sangkapura Gresik, Sawahan Nganjuk, Surabaya, Tegal dan Tuban
    • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

    6.


    Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

    Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juli 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Malang, Tretes Pasuruan dan Malang / Abdul Rahmansaleh
    • 101 – 125 mm : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
    • 126 – 150 mm : Madiun, Juanda Surabaya dan Kalianget Sumenep

    8.


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates Malang, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).


    9


    Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juli 2020

    • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) : Sebagian besar Jawa Timur
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Kecil : Ponorogo, Gresik, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Sebagian Besar : Ngawi, Madiun, Magetan, Tuban, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo, Malang, Blitar dan Bangkalan
    • SEDANG (16.77 – 33.33) : Seluruh : Kota Bojonegoro, Kota Malang, Kota Probolinggo, sebagian Probolinggo, Pamekasan, Sampang dan Sumenep
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Kecil : Lamongan, Sidoarjo dan Bangkalan
    • BERAT (>33.33) : Sebagian Besar : Gresik
    • BERAT (>33.33) : Seluruh : Kota Surabaya

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Agustus 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Agustus 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Agustus 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Menengah”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Banyuwangi, Blitar, Lumajang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Bangkalan, Pamekasan, dan Sampang.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Juli 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 66,4%, Kurang 18,3%, Sedang 6,8%, Cukup 7,2% dan Sangat Cukup1,3%.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Juli Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Lumajang dan Malang.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Kediri, dan Trenggalek.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Lamongan, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jombang, Madiun, Mojokerto, Pasuruan, dan Situbondo.
    Kurang Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Batu dan Trenggalek.
    Kurang Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Batu dan Malang.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Batu, Bondowoso, Jember, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi, Lumajang, dan Malang.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Mei - Juni - Juli 2020 dengan kriteria Agak Kering 0,1%, Normal 85,6%, Agak Basah 12,8% dan Basah 1,6%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Mei - Juni - Juli 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Pamekasan.
    Normal Terjadi di sebagian Malang dan Probolinggo.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Gresik, Pulau Kangean, Madiun, Magetan, Ngawi, Sampang, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Mei - Juni - Juli 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Blitar, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, dan Probolinggo.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, dan Nganjuk.
    Basah Terjadi di sebagian Probolinggo.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Malang.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Mei - Juni - Juli Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Pendek 0,7%, Menengah 28,1%, Panjang 36,9% , Sangat Panjang 34,0%dan Kekeringan Ekstrem 0,3%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020 dapat diinformasikan Sifat Hujan Bulan Juli 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi Sifat Hujan Bulan Juli 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 45,1%, Normal sebesar 15,1%, dan Atas Normal 39,8%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian Madiun, Ponorogo, dan Sampang.
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian besar Magetan, Ngawi, dan Pacitan.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Gresik, Jember, Madiun, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, dan Trenggalek.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian besar Sampang.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Batu, Blitar, Jember, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Pasuruan, Sidoarjo, dan Trenggalek.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian besar Surabaya dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Madiun, Nganjuk, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Blitar, Gresik, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Pasuruan, dan Tuban.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Gresik, Jember, Jombang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Lamongan, Lumajang, Pamekasan, Probolinggo, Sumenep, dan Tuban.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bojonegoro, dan Probolinggo.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Sumenep.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bojonegoro, Nganjuk, Probolinggo, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Jombang.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Kangean.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Agustus 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Agustus 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Agustus 2020


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Juli Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Agustus 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Juli 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Juli 2020 berkisar 0 – 655 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Lumajang, Malang, Probolinggo, Sumenep, dan Tuban.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Lamongan, Nganjuk, Pasuruan, dan Trenggalek.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian besar Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Madiun, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Situbondo, dan Tulungagung.
    0 - 20 mm Terjadi di seluruh Magetan, Ngawi, Sampang, Sidoarjo, dan Surabaya.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Madiun, Pacitan, Pamekasan, dan Ponorogo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Situbondo, dan Tulungagung.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Pulau Bawean, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Lamongan, Nganjuk, Probolinggo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Pulau Bawean, Jombang, Lumajang, Malang, dan Nganjuk.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Malang, Pasuruan, dan Situbondo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Pulau Kangean, dan Lumajang.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Pasuruan.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jember, dan Lumajang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi dan Bondowoso.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur pada umumnya kriteria “Sangat Pendek” hingga "Pendek".

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Banyuwangi, Lumajang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sidoarjo dan Trenggalek.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Bangkalan, Bondowoso, Pamekasan dan Sampang.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” dan “Menengah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Agustus 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Agustus 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Agustus 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Menengah hingga Panjang”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten :

    1. Sudah 31 – 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan (“Kriteria Sangat Panjang”) di Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Jombang, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, dan Tuban.
    2. Sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kriteria Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Bangkalan, Bondowoso, Jember, Madiun, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, dan Situbondo.
  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Juli 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Juli 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Juli 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Menengah hingga Panjang”.

    Waspada untuk sebagian kabupaten yang sudah lebih dari 60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan ("Kekeringan Ekstrem") di Kabupaten Madiun, Magetan,Bondowoso, Jember, Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Situbondo, dan Sidoarjo

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • Pantauan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 Zona Musim Di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis Musim) Pantauan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 Zona Musim Di Provinsi Jawa Timur (Analisis Musim) Pantauan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 Zona Musim Di Provinsi Jawa Timur

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Seluruh Pulau Madura,Sebagian kecil Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Gresik, Banyuwangi, dan Surabaya



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 pada umumnya Cukup.

    Pada daerah ini curah hujan bulan Juni 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Gresik, Banyuwangi, dan Surabaya

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban, Juanda, Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    1.


    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juni 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda/Surabaya, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Perak dan Tanjung Perak Surabaya
    • >35.0 (0 C): Madiun

    2.


    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0 °C.

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juni 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Malang, Tretes, Malang / Abdulrachman Saleh
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan dan Karangkates Malang
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, Kalianget Nganjuk, Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik

    3.


    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    • 70 – 75 %: Perak I/Surabaya
    • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik,Juanda, Surabaya, Tuban,Malang, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
    • 80 – 85 %: Tretes dan Karangkates

    4.


    Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    • 76 - 100 (mm) : Karangkates
    • 101 - 125 (mm) : Sawahan Nganjuk, Malang dan Surabaya
    • 126 - 150 (mm) : Tuban, Sangkapura Gresik, Banyuwangi, Tanjung Priok, Juanda, dan Kalianget

    5.


    Hasil monitoring monitoring Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.

    • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates, Sawahan Nganjuk dan Malang
    • 4.01 – 5.00 (mm) : Surabaya, Tuban, Sangkapura Gresik, Banyuwangi, Tanjung Priok, Juanda, dan Kalianget

    6.


    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 40 – 60 %: Tanjung Perak, Tretes, Karangkates dan Sawahan Nganjuk
    • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik,Perak I, Juanda / Surabaya, Malang, Kalianget dan Banyuwangi

    7.


    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juni 2020

    • 51 – 75 mm : Karangkates
    • 76 – 100 mm : Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh dan Sawahan Nganjuk
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Kalianget dan Banyuwangi
    • 101 – 125 mm : Madiun

    8.


    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Juni 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah Defisit meliputi Tanjung Priok, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang/Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, Banyuwangi (Jawa Timur)

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH

    Defisit : Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan Nganjuk, Banyuwangi


    9


    Hasil analisis Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather pada bulan Juni 2020 Untuk daerah dengan tingkat kekeringan Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Juli 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Juli 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Juli 2020


  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Sangat Pendek dan Menengah”.

    Terdapat kriteria "Masih ada hujan" di Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Probolinggo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Bangkalan.

    Waspada untuk sebagian wilayah kabupaten yang sudah 31-60 hari berturut-turut tidak mengalami hujan di Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Madiun, Magetan, Gresik, Malang Lamongan, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Juni 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 21,0%, Kurang 39,0%, Sedang 15,5%, Cukup 18,2% dan Sangat Cukup6,3%.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Juni Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Gresik, Jember, Lamongan, Mojokerto, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Surabaya, dan Trenggalek.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Pamekasan, Sampang, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Pulau Kangean.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Kediri, Lumajang, Sampang, Situbondo, dan Trenggalek.
    Kurang Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Jember, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Gresik, Jombang, Lamongan, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, dan Sidoarjo.
    Kurang Terjadi di seluruh Magetan.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Jember, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Sedang Terjadi di sebagian besar Kediri.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bondowoso, Jember, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Kediri, Pacitan, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Batu, Lumajang, Malang, dan Trenggalek.
    Cukup Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Kediri, Pacitan, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan April - Mei - Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan April - Mei - Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan April - Mei - Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode April - Mei - Juni 2020 dengan kriteria Agak Kering 0,1%, Normal 81,0%, Agak Basah 17,5%, Basah 1,1% dan Sangat Basah 0,3% .


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Juni 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan April - Mei - Juni 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Jombang, Mojokerto, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Normal Terjadi di sebagian kecil Surabaya.
    Normal Terjadi di sebagian Gresik dan Lamongan.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Kangean, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Ponorogo, dan Sumenep.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan April - Mei - Juni 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Madiun, Pacitan, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Bangkalan, Jember, Jombang, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, dan Probolinggo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Gresik, Lamongan, dan Surabaya.
    Agak Basah Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, dan Probolinggo.
    Basah Terjadi di sebagian Surabaya.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Lamongan, Mojokerto, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan April - Mei - Juni Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan April - Mei - Juni Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan April - Mei - Juni Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Pendek 3,2%, Menengah 58,3%, Panjang 30,0% dan Sangat Panjang 8,5%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Juli 2020 dapat diinformasikan SIFAT HUJAN Bulan Juni 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis Distribusi SIFAT HUJAN Bulan Juni 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 64,6%, Normal sebesar 12,2%, dan Atas Normal 23,2%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30%)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Jember, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, dan Sumenep.
    Bawah Normal
    (0 - 30%)
    Terjadi di sebagian Jombang, Lamongan, dan Probolinggo.
    Bawah Normal
    (0 - 30%)
    Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Bondowoso, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (31 - 50%)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Pulau Kangean, Kediri, Magetan, Malang, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (31 - 50%)
    Terjadi di sebagian Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Sidoarjo.
    Bawah Normal
    (31 - 50%)
    Terjadi di sebagian besar Lamongan dan Sampang.
    Bawah Normal
    (51 - 84%)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84%)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Batu, Gresik, Jember, Kediri, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo, dan Sumenep.
    Bawah Normal
    (51 - 84%)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Pulau Kangean, Pamekasan, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Normal
    (85 - 115%)
    Terjadi di sebagian kecil Batu, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115%)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Kediri, Lumajang, Sumenep, dan Surabaya.
    Normal
    (85 - 115%)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (116 - 150%)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Surabaya, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150%)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Kediri, Lumajang, Pacitan, Sumenep, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150%)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Jember, Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (116 - 150%)
    Terjadi di sebagian Lumajang, Malang, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150%)
    Terjadi di sebagian besar Trenggalek.
    Atas Normal
    (> 200%)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Jember, Lumajang, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200%)
    Terjadi di sebagian Malang dan Trenggalek.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Juni Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Juli 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Juni 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Juni 2020 berkisar 0 – 421 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Gresik, Jember, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, dan Sidoarjo.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian Jombang, Lamongan, dan Probolinggo.
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Bondowoso, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Situbondo, dan Tuban.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Pulau Kangean, Kediri, Magetan, Malang, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Madiun, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Sidoarjo.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian besar Lamongan, Mojokerto, dan Sampang.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Gresik, Jember, Kediri, Mojokerto, Pacitan, Ponorogo, dan Probolinggo.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Pulau Kangean, Pamekasan, Sidoarjo, Sumenep, dan Surabaya.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, dan Probolinggo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Malang, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian besar Blitar, Kediri, Lumajang, dan Pacitan.
    101 - 150 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Jember, Kediri, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Surabaya.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Lumajang, Malang, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Jember, Lumajang, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Malang dan Trenggalek.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Lumajang, Pacitan, Trenggalek, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Lumajang, Pacitan, dan Trenggalek.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Juli 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Juli 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Juli 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Sangat Pendek”.

    Terdapat kriteria "Masih ada hujan" di Kabupaten Trenggalek, Pacitan, Tuban, Malang, dan Banyuwangi

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juli 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) Juni 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) Juni 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) Juni 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Menengah”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Banyuwangi, Kota Surabaya, dan Sumenep


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Sumenep



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 pada umumnya Cukup.

    Pada daerah ini curah hujan bulan Mei 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban dan Surabaya

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Surplus meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura, Juanda, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Pada bulan Mei ini daerah yang mengalami ketersediaan air tanah surplus dimana kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).

    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 85 – 90%.

    • 75 – 80 %: Perak I/Surabaya, Tanjung Perak dan Tuban
    • 80 – 85 %: Sangkapura, Juanda, Malang, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
    • 85 – 90 %: Tretes

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    • 20 – 40 %: Tretes
    • 40 – 60 %: Perak I, Juanda, Sangkapura, Kalianget, Maritim Perak II, Malang, Karangkates dan Banyuwangi

    Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0 °C.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Mei 2020 (0 C)

    • 27,1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Madiun, Juanda, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • >35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0 °C.

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Mei 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Karangkates Malang dan Sawahan Ngajuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, dan Juanda
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Tuban, Surabaya, Kalianget dan Banyuwangi

    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 85 – 90%.

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Mei 2020

    • 75 – 80 % : Perak I/Surabaya, Tanjung Perak dan Tuban
    • 80 – 85 % : Sangkapura, Juanda, Malang, Karangkates, Kalianget, Sawahan dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Tretes

    Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    • 101 - 125 (mm) : Karangkates dan Sangkapura Gresik
    • 126 - 150 (mm) : Banyuwangi, Tuban, Malang, Juanda, Kalianget, Surabaya dan Sawahan

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Mei 2020

    • 20 – 40 % : Tretes
    • 40 – 60 % : Perak I, Juanda, Sangkapura, Kalianget, Maritim Perak II, Malang, Karang Kates dan Banyuwangi

    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan Mei 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Mei 2020

    • 76 – 100 mm : Pacitan, Sangkapura, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh dan Karangkates

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Prakiraan - Bulanan) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Prakiraan - Bulanan) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2020 - Update dari Analisis Bulan Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Prakiraan jumlah curah hujan bulan AGUSTUS 2020 - Update dari Analisis Bulan Mei 2020 daerah Jawa Timur berkisar antara 0 – 155 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

    Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Juni 2020 dapat diprakirakan curah hujan pada bulan Agustus 2020 sebagai berikut





    Tabel

    KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    BANGKALAN 0 - 20 mm Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gambiran.
    BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian: Cluring, Kalipuro, dan Siliragung.
    BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Muncar, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
    BANYUWANGI 0 - 20 mm Seluruh: Purwoharjo.
    BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Wongsorejo.
    BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Bangorejo, Muncar, dan Tegaldlimo.
    BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Cluring, Gambiran, Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, dan Siliragung.
    BANYUWANGI 21 - 50 mm Seluruh: Banyuwangi, Genteng, Giri, Glagah, Kabat, Licin, Pesanggaran, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Srono, dan Tegalsari.
    BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Glenmore dan Kalibaru.
    BLITAR 0 - 20 mm Sebagian: Selorejo dan Wates.
    BLITAR 0 - 20 mm Sebagian Besar: Doko, Gandusari, Garum, dan Wlingi.
    BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wonodadi, dan Wonotirto.
    BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gandusari dan Garum.
    BLITAR 21 - 50 mm Sebagian: Doko dan Wlingi.
    BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Besar: Selorejo dan Wates.
    BOJONEGORO 0 - 20 mm Seluruh: Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Tem
    BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Sempol.
    BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Botolinggo, Cermee, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
    BONDOWOSO 0 - 20 mm Seluruh: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Pujer, Sukosari, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Wonosari, dan Wringin.
    BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Botolinggo dan Cermee.
    BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Sumber Wringin dan Tlogosari.
    BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Sempol.
    GRESIK 0 - 20 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sangkapura, Sidayu, Tambak, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
    JEMBER 0 - 20 mm Sebagian: Silo.
    JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Besar: Ledokombo, Puger, Sumberjambe, dan Tempurejo.
    JEMBER 0 - 20 mm Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Gumuk Mas, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumbersari, Tanggul, Umbulsari, da
    JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Puger dan Sumberjambe.
    JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Ledokombo dan Tempurejo.
    JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Besar: Silo.
    JOMBANG 0 - 20 mm Sebagian: Wonosalam.
    JOMBANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bareng.
    JOMBANG 0 - 20 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, dan Tembelang.
    JOMBANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bareng.
    JOMBANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Wonosalam.
    KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Grogol, Gurah, Kayen Kidul, Kepung, Mojo, Papar, dan Puncu.
    KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian: Kandangan, Ngadiluwih, Plosoklaten, dan Tarokan.
    KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Badas, Kandat, Pare, Plemahan, Purwoasri, dan Wates.
    KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Kras, Kunjang, Ngancar, dan Ringinrejo.
    KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Badas, Kandat, Plemahan, dan Purwoasri.
    KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian: Pare dan Wates.
    KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Grogol, Gurah, Kandangan, Kayen Kidul, Kepung, Mojo, Ngadiluwih, Papar, Plosoklaten, Puncu, dan Tarokan.
    KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Banyakan, Gampengrejo, Ngasem, Pagu, dan Semen.
    KOTA BATU 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bumiaji.
    KOTA BATU 0 - 20 mm Sebagian: Batu.
    KOTA BATU 0 - 20 mm Sebagian Besar: Junrejo.
    KOTA BATU 21 - 50 mm Sebagian: Junrejo.
    KOTA BATU 21 - 50 mm Sebagian Besar: Batu dan Bumiaji.
    KOTA BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
    KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
    KOTA MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
    KOTA MALANG 21 - 50 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
    KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
    KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
    KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
    KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manungg
    LAMONGAN 0 - 20 mm Seluruh: Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung
    LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Padang, Sumbersuko, dan Tempeh.
    LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian: Kedungjajang.
    LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Klakah, Kunir, Lumajang, Ranuyoso, Sukodono, dan Tekung.
    LUMAJANG 0 - 20 mm Seluruh: Jatiroto, Randuagung, Rowokangkung, dan Yosowilangun.
    LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Klakah, Kunir, Pasrujambe, Pronojiwo, Senduro, Sukodono, Tekung, dan Tempursari.
    LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian: Candipuro, Lumajang, dan Ranuyoso.
    LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gucialit, Kedungjajang, Padang, Sumbersuko, dan Tempeh.
    LUMAJANG 21 - 50 mm Seluruh: Pasirian.
    LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Padang dan Tempeh.
    LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Gucialit.
    LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candipuro, Pasrujambe, Pronojiwo, Senduro, dan Tempursari.
    LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pasrujambe.
    LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian: Senduro.
    LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Senduro.
    MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
    MAGETAN 0 - 20 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
    MALANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Donomulyo, Kalipare, dan Ngantang.
    MALANG 0 - 20 mm Sebagian: Dau.
    MALANG 21 - 50 mm Sebagian: Ampelgading dan Sumbermanjing.
    MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Kalipare, Ngantang, Poncokusumo, dan Tirto Yudo.
    MALANG 21 - 50 mm Seluruh: Bantur, Bululawang, Gondanglegi, Jabung, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, Turen, Wagir, Wajak, dan Wonosari.
    MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dampit.
    MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Gedangan, Poncokusumo, dan Tirto Yudo.
    MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ampelgading dan Sumbermanjing.
    MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Poncokusumo.
    MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Dlanggu, Mojosari, dan Ngoro.
    MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian: Bangsal dan Jatirejo.
    MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Mojoanyar dan Puri.
    MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Dawar Blandong, Gedek, Jetis, Kemlagi, Sooko, dan Trowulan.
    MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Mojoanyar dan Puri.
    MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangsal, Dlanggu, Jatirejo, Mojosari, dan Ngoro.
    MOJOKERTO 21 - 50 mm Seluruh: Gondang, Kutorejo, Pacet, Pungging, dan Trawas.
    NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian: Ngronggot.
    NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Loceret, Ngetos, Pace, Prambon, dan Sawahan.
    NGANJUK 0 - 20 mm Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Nganjuk, Ngluyu, Patianrowo, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
    NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pace dan Sawahan.
    NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian: Loceret, Ngetos, dan Prambon.
    NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ngronggot.
    NGAWI 0 - 20 mm Sebagian: Karanganyar.
    NGAWI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Ngrambe, Sine, dan Widodaren.
    NGAWI 0 - 20 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Ngawi, Padas, Pangkur, Paron, dan Pitu.
    NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ngrambe.
    NGAWI 21 - 50 mm Sebagian: Sine dan Widodaren.
    NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Karanganyar.
    NGAWI 21 - 50 mm Seluruh: Mantingan.
    PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Donorojo dan Tulakan.
    PACITAN 0 - 20 mm Sebagian: Arjosari dan Punung.
    PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Tegalombo.
    PACITAN 0 - 20 mm Seluruh: Bandar dan Nawangan.
    PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Tegalombo.
    PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arjosari, Donorojo, Punung, dan Tulakan.
    PACITAN 21 - 50 mm Seluruh: Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, dan Sudimoro.
    PAMEKASAN 0 - 20 mm Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
    PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Prigen, Purwodadi, Puspo, dan Tutur.
    PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gempol, Lumbang, Pandaan, Pasrepan, Purwosari, dan Sukorejo.
    PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bangil, Beji, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Nguling, Pohjentrek, Rejoso, Rembang, Winongan, dan Wonorejo.
    PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pandaan, Pasrepan, Purwosari, dan Sukorejo.
    PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Gempol dan Lumbang.
    PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Prigen, Purwodadi, Puspo, Tosari, dan Tutur.
    PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Lumbang, Puspo, dan Tutur.
    PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Tosari.
    PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian: Ngrayun dan Sawoo.
    PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bungkal, Pudak, Sambit, dan Sooko.
    PONOROGO 0 - 20 mm Seluruh: Babadan, Badegan, Balong, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pulung, Sampung, Siman, Slahung, dan Sukorejo.
    PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bungkal, Pudak, dan Sooko.
    PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian: Sambit.
    PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ngrayun dan Sawoo.
    PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kuripan.
    PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Lumbang.
    PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bantaran.
    PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Leces, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto.
    PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bantaran.
    PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Sukapura.
    PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kuripan, Lumbang, dan Sumber.
    PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Lumbang.
    PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Sukapura dan Sumber.
    PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sumber.
    PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Sukapura.
    SAMPANG 0 - 20 mm Seluruh: Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
    SIDOARJO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Krembung dan Prambon.
    SIDOARJO 0 - 20 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krian, Porong, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Krembung.
    SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian: Prambon.
    SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Arjasa.
    SITUBONDO 0 - 20 mm Seluruh: Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
    SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Arjasa.
    SUMENEP 0 - 20 mm Seluruh: Ambunten, Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kangayan, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Raas, Rubaru, Sapeken,
    TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian: Bendungan.
    TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Durenan.
    TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Munjungan.
    TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Durenan.
    TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bendungan, Dongko, Kampak, Panggul, dan Watulimo.
    TRENGGALEK 21 - 50 mm Seluruh: Gandusari, Karangan, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek, dan Tugu.
    TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dongko, Kampak, dan Panggul.
    TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Watulimo.
    TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Munjungan.
    TUBAN 0 - 20 mm Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
    TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Besuki.
    TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian: Pager Wojo, Pakel, dan Sendang.
    TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Campur Darat, Kalidawir, dan Tanggung Gunung.
    TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Seluruh: Boyolangu, Gondang, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pucang Laban, Rejotangan, Sumbergempol, dan Tulungagung.
    TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Campur Darat dan Kalidawir.
    TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian: Tanggung Gunung.
    TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Besuki, Pager Wojo, Pakel, dan Sendang.
    TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Seluruh: Bandung.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Juni 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Juni 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Juni 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Sangat Pendek” hingga “Panjang”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah” hingga “Menengah”.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Mei 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 5,9%, Kurang 7,3%, Sedang 7,5%, Cukup 30.1% dan Sangat Cukup49,2%.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Mei Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pacitan, Probolinggo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Sampang.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean dan Situbondo.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian Pulau Kangean, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Sampang.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Mojokerto, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Sumenep.
    Sedang Terjadi di sebagian besar Pamekasan.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Jombang, Lumajang, Madiun, Magetan, Sampang, Situbondo, dan Sumenep.
    Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Gresik, Ponorogo, Surabaya, Trenggalek, dan Tuban.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Mojokerto, Probolinggo, dan Sidoarjo.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Batu, Pulau Bawean, Malang, Nganjuk, dan Ngawi.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Maret - April - Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Maret - April - Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Maret - April - Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Maret - April - Mei 2020 dengan kriteria Normal 74,7%, Agak Basah 22,2%, Basah 2,8% dan Sangat Basah 0,3% .


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Juni 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Maret - April - Mei 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Kering Tidak terjadi
    Agak Kering Tidak terjadi
    Normal Terjadi di sebagian kecil Lamongan dan Surabaya.
    Normal Terjadi di sebagian Jember, Mojokerto, dan Probolinggo.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Pulau Kangean, Magetan, Ngawi, dan Tulungagung.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Maret - April - Mei 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Madiun, Malang, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Lumajang, Mojokerto, dan Probolinggo.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Jember, Lamongan, dan Surabaya.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya, dan Tuban.
    Basah Terjadi di sebagian Lamongan.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Lamongan, Malang, Mojokerto, Probolinggo, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Maret - April - Mei Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Maret - April - Mei Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Maret - April - Mei Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Pendek 30,9%, Menengah 65,7%, Panjang 0,3% dan Sangat Panjang 0,1%


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Juni 2020 dapat diinformasikan SIFAT HUJAN Bulan Mei 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis SIFAT HUJAN Bulan Mei 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 1,1%, Normal sebesar 3,9%, dan Atas Normal 95,1%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan dan Sampang.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bondowoso, Lumajang, dan Sampang.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Lumajang, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Pamekasan dan Sampang.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bondowoso, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Pamekasan dan Sumenep.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Jombang, Kediri, Lamongan, Madiun, Malang, Nganjuk, Pamekasan, dan Probolinggo.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Mojokerto, Pasuruan, Sampang, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Gresik, Pulau Kangean, Magetan, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tuban.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Pulau Kangean, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Gresik, Magetan, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, dan Sidoarjo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Blitar, Bojonegoro, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Mei Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Juni 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Mei 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Mei 2020 berkisar 16 – 710 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bondowoso, dan Sampang.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bondowoso, Pamekasan, Sampang, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Lumajang, Mojokerto, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Pamekasan, dan Sampang.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian besar Situbondo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Surabaya, dan Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Mojokerto, Ponorogo, Situbondo, dan Tulungagung.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian besar Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Pamekasan, Sampang, Situbondo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Bojonegoro, Jember, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Gresik, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Pacitan, dan Sidoarjo.
    151 - 200 mm Terjadi di seluruh Pulau Kangean.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Gresik, Mojokerto, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jember, Jombang, Lamongan, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, dan Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, dan Surabaya.
    201 -300 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Lamongan, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Kediri, Lumajang, Malang, dan Probolinggo.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Nganjuk, Probolinggo, dan Trenggalek.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Jember, dan Trenggalek.


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur bervariasi dengan kriteria “Sangat Pendek” hingga “Menengah”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria “Rendah”.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Juni 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Juni 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Juni 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Juni 2020


  • Monitoring Perkembangan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Monitoring Perkembangan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur Monitoring Perkembangan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Mei 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Mei 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Mei 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar berada dalam kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria "Pendek" di Tulungagung (Ngantru) dan Bojonegoro (Leran).

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria “Rendah” sampai dengan “Tinggi”.

    Terdapat kriteria “Sangat Tinggi” (>300 mm) di sebagian kecil Trenggalek dan Jember.

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Situbondo dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Banyuwangi dan Sumenep



    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 pada umumnya Cukup.

    Pada daerah ini curah hujan bulan April 2020 cukup menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman berada di atas 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Pada daerah – daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Defisit meliputi Tuban, Banyuwangi

    Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Jawa Timur pada bulan April 2020 untuk lokasi lokasi pengamatan dengan suhu udara minimum absolut tertinggi adalah Surabaya sebesar 25.0 °C.

    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan April 2020 (0 C)

    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Malang, Karangkates, Kalianget dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan April 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 17.1 – 19.0 (0 C): Malang
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Sawahan Ngajuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, dan Karangakates

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan April 2020

    • 75 – 80 % : Perak I / Surabaya, Malang, dan Banyuwangi
    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Juanda, Tanjung Perak / Surabaya,Tuban, Karangkates, dan Kalianget
    • > 90 % : Tretes

    Hasil monitoring Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.

    Hasil monitoring penguapan rata-rata harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 4.01 – 5.00 mm.

    • 4.01 - 5.00 (mm) : Kalianget, Malang, Juanda, Surabaya, Kemayoran, dan Sawahan
    • 5.01 - 6.00 (mm) : Tuban dan Banyuwangi

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan April 2020

    • 20 – 40 % : Tretes
    • 40 – 60 % : Sangkapura Gresik, Perak I, Juanda, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di wilayah Indonesia pada bulan April 2020 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan April 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, dan Karangkates
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Juanda/Surabaya, Surabaya, Malang, Kalianget, dan Sawahan
    • 126 – 150 mm : Madiun, Tuban, dan Banyuwangi

    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Mei 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Mei 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Mei 2020


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan April 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 3,7%, Kurang 6,5%, Sedang 6,7%, Cukup 26.6% dan Sangat Cukup56,5%.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman 1 (satu) meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan April Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Pacitan, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Situbondo.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pacitan, Probolinggo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Sampang dan Situbondo.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Trenggalek, dan Tuban.
    Sedang Terjadi di sebagian Sampang, Sumenep, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Jember, Jombang, Lamongan, Magetan, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Situbondo, dan Surabaya.
    Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Kediri, Lumajang, Madiun, Pacitan, Probolinggo, dan Sampang.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Pamekasan, Ponorogo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Situbondo, Sumenep, Tuban, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, dan Surabaya.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Batu, Pulau Bawean, Gresik, Mojokerto, Ngawi, dan Sidoarjo.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Februari - Maret - April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Februari - Maret - April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Februari - Maret - April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Februari - Maret - April 2020 dengan kriteria Agak Kering 0,4%, Normal 76,2%, Agak Basah 20,8%, Basah 2,3% dan Sangat Basah 0,3% .


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Mei 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Februari - Maret - April 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Kering Terjadi di sebagian kecil Pacitan.
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Magetan, dan Pacitan.
    Normal Terjadi di sebagian kecil Gresik, Lamongan, Mojokerto, dan Surabaya.
    Normal Terjadi di sebagian Batu, Bojonegoro, Jombang, dan Sidoarjo.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Pulau Kangean, dan Situbondo.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Februari - Maret - April 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Madiun, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Bangkalan, Lumajang, dan Pamekasan.
    Agak Basah Terjadi di sebagian besar Batu, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lamongan, Lumajang, Malang, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Basah Terjadi di sebagian Mojokerto.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bondowoso, Malang, Mojokerto, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Februari - Maret - April Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Februari - Maret - April Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Februari - Maret - April Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Sangat Pendek 3,9%, Pendek 82,7%, Menengah 13,2%, dan Panjang 0,2%.


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Mei 2020 dapat diinformasikan SIFAT HUJAN Bulan April 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis SIFAT HUJAN Bulan April 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 23,2%, Normal sebesar 28,0%, dan Atas Normal 48,8%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Pacitan, Ponorogo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Lumajang, Magetan, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, dan Sampang.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Kediri, Malang, dan Situbondo.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian besar Madiun, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Trenggalek.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Jember, Kediri, Madiun, Pamekasan, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Bondowoso, Pulau Kangean, Lumajang, Magetan, Malang, Ngawi, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lamongan, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Ngawi, Sumenep, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu, Sampang, dan Sidoarjo.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Bondowoso, Kediri, Lamongan, Madiun, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Gresik, Jember, Nganjuk, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Jombang, Sumenep, dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Nganjuk, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, dan Sumenep.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian Jombang dan Tuban.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Gresik, Lamongan, Mojokerto, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan April Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan April 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan April 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan April 2020 berkisar 0 – 785 mm..


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    0 - 20 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi.
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, dan Situbondo.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi dan Situbondo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Trenggalek.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Pacitan, Ponorogo, Situbondo, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Batu, Gresik, Jember, Jombang, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Lamongan, Mojokerto, Pacitan, Ponorogo, Situbondo, Surabaya, dan Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Nganjuk, Probolinggo, dan Tulungagung.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Gresik, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Tuban.
    201 -300 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Batu, Gresik, Jember, Nganjuk, Probolinggo, dan Tuban.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Jombang, Lamongan, dan Mojokerto.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Jombang dan Surabaya.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Blitar, Jember, Jombang, Lamongan, Malang, dan Mojokerto.
    > 500 mm Terjadi di sebagian Surabaya.


  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria “Rendah” sampai dengan “Tinggi”

    Terdapat kriteria “Sangat Tinggi” (>300 mm) di sebagian kecil Banyuwangi.

  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria “Panjang” di Bangkalan (Kedungdung)

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Mei 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Mei 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Mei 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar berada dalam kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria "Panjang" di Banyuwangi (Bajulmati dan Pasewaran).

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur sebagian besar dalam kriteria "Rendah".

    Terdapat kriteria "Tinggi" (201-300 mm) di Lamongan (Bluri) dan Probolinggo (Tiris dan Segaran).

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Mei 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) April 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) April 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 30) April 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar berada dalam kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Sebagian besar dalam kriteria "Rendah".

    Terdapat kriteria "Tinggi" (201-300 mm) di Jombang (Kedung).

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 30 April 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Banyuwangi, Situbondo, dan Sumenep


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Banyuwangi dan Sumenep



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda, Katangkates, Kalianget, dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Karangkates, dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Surabaya, dan Kalianget

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Perak I/Surabaya, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Karangkates, Kalianget, dan Sawahan
    • > 90 % : Tretes

    Monitoring Penguapan Rata-Rata Harian (mm) Bulan Maret 2020

    • 3.01 – 4.00 mm : Karangkates, dan Sangkapura Gresik
    • 4.01 – 5.00 mm : Perak I Juanda, Maritim Perak II, Malang, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 20 – 40 % : Tretes, dan Sawahan
    • 40 – 60 % : Juanda, Tuban, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, dan Banyuwangi

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Maret 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes, dan Karangkates.
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Malang / Abdul Rahman Saleh, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda / Surabaya, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahman Saleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Januari - Februari - Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Januari - Februari - Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Januari - Februari - Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Januari - Februari - Maret 2020 dengan kriteria Kering 0,1%, Agak Kering 0,8%, Normal 89,0%, Agak Basah 8,9%, Basah 1,0% dan Sangat Basah 0,2% .


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan April 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Januari - Februari - Maret 2020 adalah sebagai berikut:







    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kering Terjadi di sebagian kecil Blitar.
    Kering Terjadi di sebagian kecil Blitar, Magetan, Malang, dan Tulungagung.
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Magetan, Malang, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Pulau Kangean, Madiun, Sampang, dan Surabaya.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Januari – Februari - Maret 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Batu, Jombang, Lamongan, dan Ponorogo.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Jember, Jombang, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Lumajang, Pacitan, dan Pamekasan.


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Maret 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 4,3%, Kurang 5,6%, Sedang 5,1%, Cukup 20.1 % dan Sangat Cukup 64,9%.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman satu meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:






    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Maret Tahun 2020






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pamekasan, Probolinggo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Sampang.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Magetan, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Ngawi, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Surabaya.
    Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Magetan, Pacitan, Pamekasan, Trenggalek, dan Tuban.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Sumenep dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Pamekasan, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Ngawi, Pacitan, Probolinggo, Surabaya, dan Trenggalek.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Batu, Pulau Bawean, Jombang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Sidoarjo.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Januari - Februari - Maret Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Januari - Februari - Maret Tahun 2020 (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Januari - Februari - Maret Tahun 2020

    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Sangat Pendek 10,4%, Pendek 70,6%, Menengah 18,9%, dan Panjang 0,1%.


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:






    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Sifat Hujan Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan April 2020 dapat diinformasikan SIFAT HUJAN bulan MARET 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis SIFAT HUJAN bulan MARET 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar sebesar 14,1%, Normal sebesar 42,2%, dan Atas Normal 43,7%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30%)
    Terjadi di sebagian kecil Sampang.
    Bawah Normal
    (31% - 50%)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Madiun, Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (51% - 84%)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sumenep, dan Surabaya.
    Bawah Normal
    (51% - 84%)
    Terjadi di sebagian Gresik, Situbondo, dan Tuban.
    Bawah Normal
    (51% - 84%)
    Terjadi di sebagian besar Madiun, Magetan, Ngawi, dan Sampang.
    Bawah Normal
    (51% - 84%)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Normal
    (85% - 115%)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang, Pacitan, dan Trenggalek.
    Normal
    (85% - 115%)
    Terjadi di sebagian Blitar, Jember, Kediri, Madiun, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Situbondo, dan Tulungagung.
    Normal
    (85% - 115%)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Lamongan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Probolinggo, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Normal
    (85% - 115%)
    Terjadi di seluruh Sidoarjo.
    Atas Normal
    (116% - 150%)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Gresik, Jombang, Pulau Kangean, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Sumenep, Surabaya, dan Tuban.
    Atas Normal
    (116% - 150%)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Lamongan, Malang, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (116% - 150%)
    Terjadi di sebagian besar Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151% - 200%)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Pasuruan, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151% - 200%)
    Terjadi di sebagian Banyuwangi, Bondowoso, Pacitan, dan Ponorogo.
    Atas Normal
    (151% - 200%)
    Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    Atas Normal
    (> 200%)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Malang, Pacitan, dan Situbondo.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Maret Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan April 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Maret 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Maret 2020 berkisar 24 – 1020 mm..


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.






    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    21 - 50 mm Terjadi di sebagian kecil Sampang dan Situbondo.
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Probolinggo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Madiun, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Madiun, Magetan, Malang, Ngawi, Pamekasan, Probolinggo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Bangkalan dan Situbondo.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian besar Sampang dan Sumenep.
    151 - 200 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Batu, Kediri, Lumajang, Pacitan, Sampang, dan Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, dan Sumenep.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Lamongan, Madiun, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Lamongan, Madiun, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Surabaya, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Batu, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Sidoarjo, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Jombang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Probolinggo, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, dan Probolinggo.


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) April 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) April 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) April 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar berada dalam kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria “Panjang” di Banyuwangi (Kaliklatak).

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II April 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria “Rendah” sampai dengan “Menengah”.

    Terdapat kriteria “Sangat Tinggi” (>300 mm) di Mojokerto (Klegen).

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 April 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) April 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) April 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) April 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar berada dalam kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria "Pendek" di Kabupaten Blitar (Lodoyo), Probolinggo (Klampokan), dan Bondowoso (Blimbing).

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I April 2020 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dari kriteria "Rendah" sampai dengan “Tinggi”.

    Terdapat kriteria "Sangat Tinggi" (>300 mm) di Bojonegoro (Leran), Jombang (Kabuh), Blitar (Bantaran), Jember (Dam Sembah), Jombang (Tanjung, Sempal, serta Mangunan), dan Surabaya (Gubeng serta Gunungsari).

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 April 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Maret 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Maret 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Maret 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar berada dalam kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria "Panjang" di Kabupaten Sampang (Ketapang Barat).

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur bervariasi dari kriteria "Rendah" sampai dengan “Menengah”.

    Terdapat kriteria "Sangat Tinggi" (>300 mm) di Kabupaten Malang (Karangsuko).

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur (Analisis - 6 Bulanan) Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Dari 60 ZOM di Jawa Timur, Prakiraan Awal Musim Kemarau 2020 jika dibandingkan dengan rata-ratanya (periode tahun 1981-2010), maka:

    - Maju dari normalnya : 3 ZOM (5,0% dari 60 ZOM)

    - Sama dari normalnya : 14 ZOM (23,3% dari 60 ZOM)

    - Mundur dari normalnya : 43 ZOM (71,7% dari 60 ZOM)

    Istilah Dan Pengertian Dalam Prakiraan Musim

    1. Curah Hujan (mm)

      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

    3. Zona Musim (ZOM)

      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

      Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    4. Permulaan Musim Kemarau

      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

      Permulaan Musim Kemarau bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

    5. Dasarian

      Adalah rentang waktu selama 10 hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu: 1. Dasarian I (tanggal 1 sampai dengan 10); 2. Dasarian II (tanggal 11 sampai dengan 20); dan Dasarian III (tanggal 21 sampai dengan akhir bulan).

    6. Sifat Hujan

      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

      1. Atas Normal (AN):

        Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

      2. Normal (N):

        Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

      3. Bawah Normal (BN):

        Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya






    PERBANDINGAN
    DENGAN NORMALNYA
    KOTA/KABUPATEN KECAMATAN/BAGIAN DARI KECAMATAN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Maju
    3 ZOM
    (5,0%)

    BANGKALAN
    Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    Maju
    3 ZOM
    (5,0%)
    JEMBER Bangsalsari, Panti, Rambipuji,Semboro, SumberBaru dan Tanggul.
    Maju
    3 ZOM
    (5,0%)
    LUMAJANG Candipuro, Pasirian, Pronojiwo, dan Tempursari.
    Maju
    3 ZOM
    (5,0%)
    MALANG Ampelgading dan Tirto Yudo.
    Maju
    3 ZOM
    (5,0%)
    SAMPANG Tambelangan.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)

    BANYUWANGI
    Banyuwangi, Cluring, Genteng, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Purwoharjo, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Srono, dan Wongsorejo.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    BONDOWOSO Binakal, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Maesan, Pakem, Prajekan, Sukosari, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    GRESIK Menganti, Sangkapura, dan Tambak.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)

    JEMBER
    Ajung, Ambulu, Balung, Bangsalsari, Jelbuk, Jenggawah, Kaliwates, Mayang, Mumbulsari, Panti, Rambipuji, Silo, Sukorambi, Sumber Baru, Sumbersari, Tanggul, dan Tempurejo.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    KEDIRI Banyakan, Grogol, Mojo, Semen, dan Tarokan.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    KOTA MALANG Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)


    KOTA SURABAYA
    Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    LUMAJANG Candipuro, Gucialit, Klakah, Pasrujambe, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, dan Senduro.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    MADIUN Dagangan, Dolopo, Gemarang, Kare, dan Wungu.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    MAGETAN Ngariboyo, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, dan Sidorejo.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)

    MALANG
    Ampelgading, Bululawang, Dampit, Dau, Jabung, Karangploso, Lawang, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Singosari, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, Turen, Wagir, dan Wajak.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    MOJOKERTO Mojosari dan Pungging.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    NGANJUK Berbek, Loceret, Ngetos, Pace, Sawahan, dan Wilangan.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    NGAWI Jogorogo, Kendal, Ngrambe, dan Sine.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    PACITAN Arjosari, Donorojo, Nawangan, Pacitan, Pringkuku, dan Punung.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    PASURUAN Lumbang, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Tosari, dan Tutur.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    PONOROGO Jenangan, Ngebel, Pudak, Pulung, Sampung, Sawoo, dan Sooko.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    PROBOLINGGO Gading, Krucil, Lumbang, Pakuniran, Sukapura, Sumber, dan Tiris.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)

    SIDOARJO
    Buduran, Candi, Gedangan, Krembung, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    SITUBONDO Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Jatibanteng, dan Sumbermalang.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    TRENGGALEK Bendungan, Durenan, Karangan, Pogalan, Trenggalek, dan Tugu.
    Sama
    14 ZOM
    (23,3%)
    TULUNGAGUNG Gondang, Karangrejo, Kauman, Pager Wojo, dan Sendang.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    BANGKALAN Blega, Galis, Kamal, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    BANYUWANGI
    Bangorejo, Cluring, Gambiran, Genteng, Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Songgon, Tegaldlimo, Tegalsari, dan Wongsorejo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    BLITAR
    Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)


    BOJONEGORO
    Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    BONDOWOSO
    Binakal, Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, Wonosari,
    dan Wringin.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    GRESIK
    Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)


    JEMBER
    Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Gumuk Mas, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Puger, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Sumbersari, Tanggul, Tempurejo, Umbulsari, dan Wuluhan.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    JOMBANG
    Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    KEDIRI
    Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Kras, Kunjang, Mojo, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA BATU Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA BLITAR Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA KEDIRI Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA MADIUN Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA MALANG Kedungkandang, Lowokwaru, dan Sukun.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA MOJOKERTO Magersari dan Prajurit Kulon.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA PASURUAN Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA PROBOLINGGO Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    KOTA SURABAYA Benowo, Jambangan, Karang Pilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikerep, dan Wiyung.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)


    LAMONGAN
    Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi,
    Sukorame, Tikung, dan Turi.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    LUMAJANG
    Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang,Pasirian, Pasrujambe, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, Rowokangkung, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, dan Yosowilangun.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    MADIUN
    Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    MAGETAN
    Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)


    MALANG
    Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Sumbermanjing, Tajinan, Tirto Yudo, Turen, Wagir, Wajak, dan Wonosari.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    MOJOKERTO
    Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    NGANJUK
    Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    NGAWI
    Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi,
    Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    PACITAN Arjosari, Bandar, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    PAMEKASAN
    Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    PASURUAN
    Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    PONOROGO
    Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ngrayun, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sooko, dan Sukorejo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    PROBOLINGGO
    Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    SAMPANG
    Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    SIDOARJO
    Balong Bendo, Candi, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    SITUBONDO
    Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    SUMENEP Ambunten, Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    SUMENEP
    Guluk, Kalianget, Kangayan, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Raas, Rubaru, Sapeken, Saronggi, dan Talango.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)
    TRENGGALEK Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek, Tugu, dan Watulimo.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    TUBAN
    Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
    Mundur
    43 ZOM
    (71,7%)

    TULUNGAGUNG
    Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung.









    NO NO
    ZOM
    Daerah/Kabupaten Normal Periode
    Musim Hujan
    Panjang
    Musim
    (Dasarian)
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 142 Pacitan bagian barat daya April III - Nopember I 19
    2 146 Magetan bagian barat, Ngawi bagian selatan Mei I - Oktober II 17
    3 147 Ngawi dan Bojonegoro bagian barat daya April III - September III 16
    4 148 Bojonegoro bagian barat laut, Tuban bagian barat daya April III - Oktober II 18
    5 149 Tuban bagian utara April II - Nopember II 22
    6 150 Gresik bagian Utara dan Timur, Lamongan bagian
    tengah
    April II - Nopember II 22
    7 151 Lamongan bagian tengah dan timur April III - Nopember I 20
    8 152 Bojonegoro bagian selatan April III - Oktober III 19
    9 153 Ponorogo bagian utara, Magetan bagian Timur dan Selatan, Madiun bagian Selatan April III - Nopember I 20
    10 154 Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian selatan,
    Trenggalek bagian barat
    Mei I - Oktober II 17
    11 155 Pacitan/Trenggalek bagian selatan bagian selatan Mei I - Oktober I 16
    12
    156
    Trenggalek bagian timur, Tulungagung bagian selatan, Blitar bagian selatan, Malang bagian barat
    daya
    April III - Oktober III
    19
    13 157 Trenggalek/Tulungagung bagian utara Mei I - Oktober III 18
    14 158 Tulungagung bagian timur, Kediri bagian selatan, Blitar bagian barat April III - Nopember II 21
    15 159 Daerah sekitar Gunung Wilis Mei II - Nopember I 18
    16 160 Nganjuk bagian tengah April III - Nopember I 20
    17 161 Jombang bagian tengah, Mojokerto bagian barat,
    Kediri bagian Timur Laut
    April III - Nopember I 20
    18
    162
    Surabaya bagian barat, Gresik bagian selatan, Sidoarjo bagian barat laut dan selatan, Mojokerto
    bagian utara, Pasuruan bagian tengah
    April III - Nopember II
    21
    19 163 Surabaya bagian tengah dan timur, Sidoarjo bagian utara/tengah/ timur Mei I - Nopember II 20
    20 164 Sidoarjo bagian selatan, Pasuruan bagian utara,
    Kota Pasuruan
    April III - Nopember III 22
    21 165 Mojokerto bagian selatan, Pasuruan bagian selatan Mei I - Nopember I 19
    22 166 Daerah sekitar Gunung Arjuno April III - Oktober III 19
    23 167 Kediri bagian tenggara Mei I - Oktober II 17
    24 168 Blitar bagian timur, Malang bagian barat April III - Oktober III 19
    25 169 Malang bagian selatan April III - September III 16
    26 170 Blitar bagian timur laut, Malang bagian tengah Mei I - Oktober II 17
    27 171 Kota Malang, Malang bagian timur dan tenggara Mei I - Oktober II 17
    28 172 Daerah sekitar Gunung Bromo dan Semeru Mei I - September II 14
    29 173 Probolinggo bagian barat dan selatan, Lumajang bagian utara April III - Nopember II 21
    30 174 Pasuruan bagian timur laut, Probolinggo bagian
    utara
    April I - Nopember III 24
    31 175 Malang bagian tenggara, Lumajang bagian barat daya Juli I - September I 7
    32 176 Lumajang bagian selatan, Jember bagian Barat
    daya
    April III - Nopember I 20
    33 177 Lumajang bagian tengah April III - Oktober I 17
    34 178 Probolinggo bagian tenggara Mei II - Oktober II 16
    35 179 Daerah sekitar Gunung Argopuro Mei II - Oktober II 16
    36 180 Bondowoso bagian utara dan tengah April III - Oktober III 19
    37 181 Probolinggo bagian timur laut, Situbondo/Bondowoso bagian utara April I - Nopember III 24
    38 182 Situbondo bagian timur laut dan timur, Banyuwangi
    bagian timur laut
    Maret II - Desember I 27
    39 183 Situbondo bagian tenggara Mei II - Nopember I 18
    40 184 Probolinggo bagian timur, Situbondo bagian barat April I - Nopember III 24
    41 185 Bondowoso bagian selatan, sebagian Jember bagian timur laut April III - Oktober III 19
    42 186 Daerah sekitar Pegunungan Ijen April III - Nopember I 20
    43 187 Jember bagian utara April III - Oktober II 18
    44 188 Jember bagian barat laut Mei II - Oktober I 15
    45 189 Jember bagian tengah Mei I - Oktober II 17
    46 190 Jember bagian selatan April III - Nopember II 21
    47 191 Jember bagian timur, Banyuwangi bagian barat Mei III - Oktober I 14
    48 192 Banyuwangi bagian tengah Juli III - September III 7
    49 193 Banyuwangi bagian timur Mei I - Nopember III 21
    50 194 Banyuwangi bagian selatan Maret II - Nopember III 26
    51 195 Bangkalan bagian selatan April II - Nopember III 23
    52 196 Bangkalan bagian tengah dan utara Mei II - Nopember II 19
    53 197 Sampang bagian barat dan selatan April II - Desember I 24
    54 198 Sampang bagian tengah April II - Nopember I 21
    55 199 Pamekasan bagian selatan April III - Desember I 23
    56 200 Pamekasan bagian tengah, Sumenep bagian barat Mei I - Nopember II 20
    57 201 Sampang/PamekasanSumenep bagian utara April II - Nopember II 22
    58 202 Sumenep bagian tenggara dan timur April III - Nopember II 21
    59 203 Kepulauan Kangean Mei I - Nopember I 19
    60 204 Pulau Bawean Mei II - Oktober II 16









    NO NO
    ZOM
    Prakiraan
    Awal Musim
    Kemarau
    2020
    Prakiraan Perbandingan
    Awal Musim Kemarau 2020
    Terhadap Normalnya
    Prakiraan Sifat Hujan 2020 Prakiraan Curah Hujan
    Musim Kemarau 2020
    (mm)
    Prakiraan Puncak
    Musim Kemarau 2020
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 142 APRIL III (Tanggal 21 - 30) Sama BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    2 146 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama NORMAL 301-400 AGUSTUS
    3 147 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    4 148 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    5 149 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 2 dasarian NORMAL 301-400 AGUSTUS
    6 150 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 3 dasarian ATAS NORMAL 301-400 AGUSTUS
    7 151 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian NORMAL 301-400 AGUSTUS
    8 152 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    9 153 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian NORMAL 301-400 AGUSTUS
    10 154 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 SEPTEMBER
    11 155 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 301-400 SEPTEMBER
    12 156 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian NORMAL 301-400 AGUSTUS
    13 157 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama BAWAH NORMAL 301-400 SEPTEMBER
    14 158 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian ATAS NORMAL 301-400 SEPTEMBER
    15 159 MEI II (Tanggal 11 - 20) Sama BAWAH NORMAL 301-400 AGUSTUS
    16 160 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian ATAS NORMAL 301-400 AGUSTUS
    17 161 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 SEPTEMBER
    18 162 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian NORMAL 201-300 SEPTEMBER
    19 163 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    20 164 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian ATAS NORMAL 301-400 AGUSTUS
    21 165 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 1 dasarian ATAS NORMAL 401-500 AGUSTUS
    22 166 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 SEPTEMBER
    23 167 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 SEPTEMBER
    24 168 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    25 169 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian BAWAH NORMAL 301-400 AGUSTUS
    26 170 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 1 dasarian NORMAL 301-400 AGUSTUS
    27 171 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama NORMAL 201-300 AGUSTUS
    28 172 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama BAWAH NORMAL 401-500 AGUSTUS
    29 173 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    30 174 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 3 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    31 175 JUNI I (Tanggal 1 - 10) Maju 3 dasarian BAWAH NORMAL 301-400 AGUSTUS
    32 176 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 101-200 AGUSTUS
    33 177 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 101-200 AGUSTUS
    34 178 MEI II (Tanggal 11 - 20) Sama BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    35 179 MEI II (Tanggal 11 - 20) Sama NORMAL 201-300 AGUSTUS
    36 180 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    37 181 APRIL III (Tanggal 21 - 30) Mundur 2 dasarian NORMAL 101-200 SEPTEMBER
    38 182 APRIL I (Tanggal 1 - 10) Mundur 2 dasarian ATAS NORMAL 401-500 AGUSTUS
    39 183 MEI II (Tanggal 11 - 20) Sama BAWAH NORMAL 101-200 AGUSTUS
    40 184 APRIL III (Tanggal 21 - 30) Mundur 2 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    41 185 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    42 186 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 301-400 AGUSTUS
    43 187 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    44 188 MEI I (Tanggal 1 - 10) Maju 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    45 189 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama NORMAL 301-400 AGUSTUS
    46 190 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    47 191 JUNI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 2 dasarian BAWAH NORMAL 301-400 SEPTEMBER
    48 192 JULI III (Tanggal 21 - 31) Sama NORMAL 201-300 SEPTEMBER
    49 193 MEI I (Tanggal 1 - 10) Sama NORMAL 401-500 SEPTEMBER
    50 194 APRIL I (Tanggal 1 - 10) Mundur 2 dasarian ATAS NORMAL 401-500 AGUSTUS
    51 195 APRIL III (Tanggal 21 - 30) Mundur 1 dasarian ATAS NORMAL 301-400 AGUSTUS
    52 196 MEI I (Tanggal 1 - 10) Maju 1 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    53 197 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 2 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    54 198 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 2 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    55 199 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    56 200 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 101-200 SEPTEMBER
    57 201 MEI II (Tanggal 11 - 20) Mundur 3 dasarian NORMAL 201-300 AGUSTUS
    58 202 MEI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 1 dasarian BAWAH NORMAL 101-200 AGUSTUS
    59 203 JUNI I (Tanggal 1 - 10) Mundur 3 dasarian BAWAH NORMAL 201-300 AGUSTUS
    60 204 MEI II (Tanggal 11 - 20) Sama BAWAH NORMAL 201-300 SEPTEMBER


  • Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

    Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau Tahun 2020 dengan Normalnya 1981-2010 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur
  • (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Maret 2020

    (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Maret 2020 (Analisis dan Prediksi Dasarian) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Maret 2020


  • (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar masuk kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria Menengah di Kabupaten Sampang (Ketapang Barat).

  • (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Dasarian) Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria Rendah sampai dengan Menengah.

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) di Kab. Bondowoso (Sumbergading).

  • (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur (Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur



    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Malang, Situbondo, dan Banyuwangi


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Banyuwangi



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 94%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Sentani (Papua) sebesar 73%.

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Gorontalo.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (NAD), Banyuwangi (Jawa Timur), Ngurah Rai, Sanglah, Jembrana (Bali), Bandara Internasional Lombok, Sultan Muhammad Kaharuddin, Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa tenggara Barat), Gewayantana, Mali, Umbu Mehang Kunda, Lasiana (Nusa Tenggara Timur), Sultan Bantilan, Syukuran Aminudin Amir (Sulawesi tengah), Djalaluddin (Gorontalo), Sangia Ni Bandera (Sulawesi Tenggara), Oesman Sadik (Maluku Utara), Namlea, Amahai, Mathilda Batlayeri (Maluku), dan Wamena (Papua).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Februari 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 8,0 %, Kurang 10,0 %, Sedang 8,7 %, Cukup 26.2 % dan Sangat Cukup 47,1 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman satu meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:





    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S

    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari 2020





    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Lumajang, Malang, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Jember, Situbondo, dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Lamongan, Lumajang, Malang, Pacitan, Pamekasan, Probolinggo, Sumenep, dan Trenggalek.
    Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Sampang.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    Sedang Terjadi di sebagian Pacitan dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Jombang, Madiun, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Surabaya, dan Tuban.
    Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Pacitan, Pamekasan, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Gresik, Malang, Sumenep, dan Trenggalek.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Lamongan, Malang, Pacitan, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, dan Surabaya.
    Sangat Cukup Terjadi di seluruh Batu, Pulau Bawean, Mojokerto, Nganjuk, dan Sidoarjo.


  • (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan Desember Tahun 2019 - Bulan Januari - Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan  Desember Tahun 2019 - Bulan Januari - Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode Desember 2019 – Februari 2020 dengan kriteria Sangat Kering 0,2 %, Kering 1,0 %, Agak Kering 4,6 %, Normal 88,8%, Agak Basah 4,4 %, Basah 0,8 %, dan Sangat Basah 0,2 %.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Maret 2020, dapat diinformasikan Analisis Indeks Kekeringan dengan metode SPI bulan Desember 2019 – Februari 2020 adalah sebagai berikut:






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kering Terjadi di sebagian kecil Malang, Pacitan, dan Trenggalek.
    Kering Terjadi di sebagian kecil Blitar, Jember, Kediri, Malang, Pacitan, Trenggalek, dan Tuban.
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Agak Kering Terjadi di sebagian Pacitan.
    Normal Terjadi di sebagian Pacitan.
    Normal Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di seluruh Bangkalan, Pulau Bawean, Pulau Kangean, Madiun, Magetan, Sampang, Sidoarjo, dan Surabaya.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan Desember 2019 – Februari 2020





    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Agak Basah Terjadi di sebagian Jombang dan Ngawi.
    Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, dan Pamekasan.
    Sangat Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, Lamongan, dan Ngawi.


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Desember Tahun 2019 - Bulan Januari - Februari Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan Desember Tahun 2019 - Bulan Januari - Februari Tahun 2020


    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Sangat Pendek 2,4% Pendek 59,3%, Menengah 37,4%, dan Panjang 0,9%.


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:





    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA

    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan


    Analisis Hari Tanpa Hujan Berturut-turut Maksimum Bulan Desember 2019 – Bulan Januari - Februari 2020 Provinsi Jawa Timur





    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Pendek Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Jombang, Kediri, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Pacitan, Probolinggo, Sumenep, dan Tuban.
    Sangat Pendek Terjadi di sebagian Batu dan Ponorogo.
    Pendek Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi dan Pamekasan.
    Pendek Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Jember, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, dan Situbondo.
    Pendek Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Pendek Terjadi di seluruh Pulau Bawean dan Ngawi.
    Menengah Terjadi di sebagian kecil Bojonegoro, Jombang, Magetan, Nganjuk, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Menengah Terjadi di sebagian Bangkalan, Gresik, Lamongan, Lumajang, Malang, Mojokerto, Pacitan, Probolinggo, dan Tuban.
    Menengah Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Pamekasan, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, dan Situbondo.
    Menengah Terjadi di seluruh Pulau Kangean.
    Panjang Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Gresik, Probolinggo, Situbondo, dan Tuban.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Maret 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Februari 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Februari 2020 berkisar 101 – 1074 mm.


    ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI

    1. Curah Hujan (mm)
      Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.
      Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
    2. Curah Hujan Kumulatif (mm)
      Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
      Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM)
    3. Zona Musim (ZOM)
      Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
      Daerah-daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Hujan dan Musim Kemarau disebut Non ZOM.
      Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
      Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM
    4. Awal Musim Hujan
      Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.
      Awal Musim Hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.
    5. Dasarian Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan tanggal 10
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan tanggal 20
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
    6. Sifat Hujan
      Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 – 2010).
      Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
      1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya
      2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya
      3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

    Normal Curah Hujan

    1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
      Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
    2. Provisional Normal Curah Hujan
      Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
    3. Normal Curah Hujan Bulanan
      Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
    4. Standar Normal Curah Hujan Bulanan
      Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.





    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, Sampang, Situbondo, dan Tuban.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Malang, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tuban.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo, Probolinggo, dan Trenggalek.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Jember, Malang, Pacitan, Pamekasan, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    201 - 300 mm Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Sampang, dan Tuban.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Batu, Jombang, Pasuruan, Probolinggo, dan Surabaya.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Situbondo, Tuban, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Gresik, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sumenep, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Magetan, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Bangkalan, Batu, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Malang, Ngawi, Ponorogo, Surabaya, dan Tulungagung.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian besar Bojonegoro, Jombang, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, dan Probolinggo.
    401 - 500 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Situbondo, dan Tulungagung.
    > 500 mm Terjadi di sebagian Jombang, Pasuruan, dan Probolinggo.
    > 500 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya.


  • (Analisis - Bulanan) Distribusi SIFAT HUJAN Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    (Analisis - Bulanan) Distribusi SIFAT HUJAN Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Maret 2020 dapat diinformasikan SIFAT HUJAN bulan FEBRUARI 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis SIFAT HUJAN bulan Januari 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar 8,0%, Normal sebesar 26,7%, dan Atas Normal 65,3%.

    Sifat Hujan

    Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

    Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

    1. Atas Normal (AN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
    2. Normal (N)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
    3. Bawah Normal (BN)
      Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %




    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Jember, Pacitan, dan Situbondo.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Kediri, Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Jember, Malang, Pacitan, dan Situbondo.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Lamongan, Lumajang, Madiun, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sumenep, dan Tulungagung.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Kediri, Magetan, Malang, Pacitan, Probolinggo, Trenggalek, dan Tuban.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Jember, Jombang, Mojokerto, Pacitan, Sidoarjo, Situbondo, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Pulau Kangean, Lamongan, Malang, Pamekasan, Probolinggo, dan Sumenep.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Batu, Gresik, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Jember, Kediri, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Situbondo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian Batu, Bojonegoro, Gresik, Lumajang, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, dan Sumenep.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Jombang, Pulau Kangean, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Jombang, Lumajang, Mojokerto, Ngawi, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Tulungagung.


  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis ketersediaan air tanah bulan Januari 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan kriteria: Sangat Kurang 36,3 %, Kurang 20,3 %, Sedang 12,7 %, Cukup 23.6 % dan Sangat Cukup 7,1 %.


    Pengetahuan akan kondisi ketersediaan air di dalam tanah sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian, beberapa manfaat dari informasi tersebut antara lain adalah untuk mempertimbangkan kesesuaian lahan khususnya lahan tadah hujan bagi jenis tanaman yang akan diusahakan, merencanakan jadwal tanam dan panen, serta mengatur jadwal pemberian air irigasi/siraman baik jumlah maupun waktunya sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien.

    Kondisi ketersediaan air tanah dilakukan dengan menggunakan metode neraca air yang merupakan perimbangan antara masukan dan keluaran air di suatu tempat dan nilainya berubah dari waktu ke waktu.

    Neraca air dapat dihitung pada luasan dan periode waktu tertentu menurut keperluannya, serta batasan pratinjau tanah dengan kedalaman satu meter.

    Asumsi kedalaman satu meter tersebut karena zona akar tanaman semusim tidak lebih dari satu meter, serta pada kedalaman tanah dianggap masih homogen.

    Berdasarkan tujuan penggunaannya, neraca air dapat dibedakan atas neraca air umum, neraca air lahan dan neraca air tanaman.

    Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

    Sedangkan peta analisis ketersediaan air tanah yang disajikan stasiun Klimatologi Malang saat ini adalah berdasar neraca air lahan.

    Dari hasil perhitungan KAT dapat dicari nilai indek/kriteria kebutuhan air bagi tanaman dalam bentuk persen air tanah tersedia yang terbagi dalam 5 kelas yakni:





    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S

    Air Tanah Tersedia (ATS) % A T S
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang < 10 %
    Kurang 10 - 40 %
    Sedang 40 - 60 %
    Cukup 60 - 90 %
    Sangat Cukup > 90 %


    Tabel Analisis Ketersediaan Air Tanah Bulan Januari 2020





    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian kecil Jombang, Kediri, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, dan Sumenep.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Pamekasan, Ponorogo, dan Trenggalek.
    Sangat Kurang Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Gresik, Lamongan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, dan Tulungagung.
    Sangat Kurang Terjadi di seluruh Surabaya dan Tuban.
    Kurang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Pulau Kangean, Madiun, Mojokerto, Ngawi, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Kurang Terjadi di sebagian Banyuwangi, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, dan Sidoarjo.
    Kurang Terjadi di sebagian besar Sumenep.
    Sedang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Sedang Terjadi di sebagian Magetan, Mojokerto, Pasuruan, dan Trenggalek.
    Cukup Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Pulau Bawean, Gresik, Lamongan, Pamekasan, Ponorogo, Situbondo, Sumenep, dan Tulungagung.
    Cukup Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Pulau Kangean, Kediri, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, dan Trenggalek.
    Cukup Terjadi di sebagian besar Madiun, Nganjuk, dan Ngawi.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian Pulau Kangean, Nganjuk, dan Ngawi.
    Sangat Cukup Terjadi di sebagian besar Batu dan Pulau Bawean.


  • ( Analisis - Dasarian ) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    ( Analisis - Dasarian ) Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur seluruhnya masuk kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat Kriteria Pendek di Banyuwangi (Grajagan) dan Situbondo (Arjasa serta Tanjungkamal).

  • ( Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian ) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    ( Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian ) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur ( Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian ) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • ( Analisis - Dasarian ) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    ( Analisis - Dasarian ) Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria Menengah sampai dengan Tinggi.

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) di Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Malang, dan Lumajang.

  • ( Analisis dan Prediksi Dasarian ) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Maret 2020

    ( Analisis dan Prediksi Dasarian ) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Maret 2020 ( Analisis dan Prediksi Dasarian ) Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Maret 2020


  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • ( Analisis - Bulanan ) Distribusi Sifat Hujan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

    ( Analisis - Bulanan ) Distribusi Sifat Hujan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan JANUARI Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur



    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan JANUARI Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Ngawi, Ponorogo, Blitar, Tulungagung, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Jombang, Kota Surabaya, Mojokerto, Malang, Jember, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Pamekasan, sebagian Trenggalek, Sumenep.

    Sebagian besar Sidoarjo, Pacitan, Kota Probolinggo.

    Seluruh Kota Mojokerto.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Malang, Bojonegoro, Mojokerto, Lumajang, Probolinggo.

    Sebagian Sumenep.

    Sebagian besar Tuban, Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Jember, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, Pamekasan

    Seluruh Sampang dan Bangkalan



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Citeko (Jawa Barat) dan Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 92%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Banyuwangi (Jawa Timur) sebesar 74%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi 5 pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian tertinggi adalah Seram Bagian Barat (Maluku) yaitu sebesar 71%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 8%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Kalianget, Bayuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

    ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • ( Analisis - Bulanan ) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan November - Desember Tahun 2019 - Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    ( Analisis - Bulanan ) Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis 3 Bulanan Untuk Bulan November - Desember Tahun 2019 - Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Analisis Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis Periode November 2019 – Januari 2020 dengan kriteria Sangat Kering 0,6 %, Kering 7,1 %, Agak Kering 40,2 %, dan Normal 52,1%.


    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis

    Indeks Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis dihitung menggunakan metode SPI.

    SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst).

    Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.

    Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut:

    a. Tingkat Kekeringan:

    1. Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
    2. Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
    3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49
    4. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99

    b. Tingkat Kebasahan:

    1. Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00
    2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99
    3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49

    Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).

    Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.


    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2020, dapat diinformasikan analisis indeks kekeringan dan kebasahan dengan metode SPI bulan November – Desember 2019 - bulan Januari Tahun 2020 adalah sebagai berikut:






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Kering Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Madiun, Malang, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Surabaya.
    Kering Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, dan Tuban.
    Kering Terjadi di sebagian Pacitan, Surabaya, dan Tulungagung.
    Agak Kering Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Lamongan, Nganjuk, Pamekasan, dan Probolinggo.
    Agak Kering Terjadi di sebagian Batu, Blitar, Kediri, Madiun, Magetan, Mojokerto, Sampang, dan Trenggalek.
    Agak Kering Terjadi di sebagian besar Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Bondowoso, Pacitan, Ponorogo, Sidoarjo, dan Tulungagung.
    Normal Terjadi di sebagian Blitar, Jember, Lumajang, Madiun, Malang, Pasuruan, Situbondo, dan Tuban.
    Normal Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Probolinggo, Sampang, dan Trenggalek.
    Normal Terjadi di seluruh Pulau Bawean, Pulau Kangean, dan Sumenep.


    Analisis Indeks Kebasahan dengan metode SPI bulan November – Desember 2019 - Bulan Januari 2020





    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Agak Basah Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bojonegoro, dan Ngawi.
    Basah Tidak terjadi
    Sangat Basah Tidak terjadi


  • (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan November - Desember Tahun 2019 - Bulan Januari Tahun 2020

    (Analisis - Bulanan) Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Maksimum di Provinsi Jawa Timur Bulan November - Desember Tahun 2019 - Bulan Januari Tahun 2020


    Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut dengan kriteria Pendek 2,0 %, Menengah 49,1 %, Panjang 36,2 % dan Sangat Panjang 12,7%.


    Deret hari tanpa hujan berturut-turut atau diistilahkan dengan dry spell adalah jumlah hari kering (hari tidak ada hujan) berurutan yang tidak diselingi oleh hari basah (hari hujan).

    Hari basah didefinisikan sebagai hari di mana terjadi hujan yang tinggi curah hujannya mencapai 1 mm atau lebih, definisi ini yang digunakan Albert dan Tank(2009).

    Berdasar hal tersebut di atas maka deret hari tanpa hujan berturut-turut didefinisikan sebagai hari yang tinggi hujannya di bawah 1 mm atau tidak terjadi hujan sama sekali.

    Data pengamatan yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan di Jawa Timur meliputi sekitar 197 pos hujan dengan data curah hujan harian pada tiga bulan berturut-turut.

    Perhitungan deret ini dimulai pada tanggal updating/akhir periode dan dianalisis ke belakang hingga didapat hari hujan, hari tanpa hujan berturut-turut yang dihitung dari hari terakhir pengamatan, jika hari terakhir tidak hujan maka dry spell dihitung sesuai dengan kriterianya sedangkan jika hari terakhir pengamatan/akhir periode ada hujan maka kondisi ini dikategorikan sebagai hari hujan (HH).

    Dalam kaitannya dengan kepentingan dampak kekeringan terutama lahan pertanian di wilayah Jawa Timur, selanjutnya peta analisis hari tanpa hujan berturut-turut yang disampaikan adalah deret hari tanpa hujan maksimum pada masing-masing pos hujan.

    Analisis hari tanpa hujan berturut-turut ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana suatu wilayah mempunyai tingkat hari kering baik pada tingkat sangat pendek, pendek, menengah, panjang, sangat panjang atau bahkan kekeringan ekstrim yang terjadi pada tiga bulan berturut-turut, ke depannya informasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui awal, panjang musim kemarau/hujan maupun prakiraan peringatan dini tingkat kekeringan suatu wilayah untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan, puso, kekeringan sumber mata air dan sebagainya.


    Kriteria yang digunakan dalam analisis deret hari tanpa hujan berturut-turut memuat 7 kriteria, yaitu sebagai berikut:





    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA

    NO KELAS
    (Hari kering berturut-turut)
    KRITERIA
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    1 1 - 5 Sangat Pendek
    2 6 - 10 Pendek
    3 11 - 20 Menengah
    4 21 - 30 Panjang
    5 31 - 60 Sangat Panjang
    6 60 Kekeringan Ekstrim
    7 HH Masih Ada Hujan






    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    KRITERIA KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Sangat Pendek Terjadi di sebagian kecil Probolinggo.
    Pendek Terjadi di sebagian kecil Batu, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Lumajang, Madiun, Malang, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, dan Probolinggo.
    Menengah Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Mojokerto, Pasuruan, Situbondo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Menengah Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Gresik, Jombang, Lamongan, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, dan Surabaya.
    Menengah Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Batu, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Ngawi, Pacitan, Sumenep, dan Tuban.
    Menengah Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Panjang Terjadi di sebagian kecil Batu, Bojonegoro, Jember, Malang, dan Sumenep.
    Panjang Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Tuban.
    Panjang Terjadi di sebagian besar Gresik, Jombang, Pulau Kangean, Lamongan, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sangat Panjang Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Blitar, Gresik, Pulau Kangean, Lamongan, Mojokerto, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Sangat Panjang Terjadi di sebagian Bondowoso, Pasuruan, dan Sidoarjo.
    Sangat Panjang Terjadi di sebagian besar Banyuwangi dan Situbondo.


  • |Analisis - Bulanan| Hari Tanpa Hujan Berturut-turut Maksimum di Propinsi Jawa Timur Tahun 2020

    |Analisis - Bulanan| Hari Tanpa Hujan Berturut-turut Maksimum di Propinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • ( Analisis - Bulanan ) Distribusi SIFAT HUJAN Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Bulanan| Distribusi SIFAT HUJAN Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2020 dapat diinformasikan SIFAT HUJAN bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis SIFAT HUJAN bulan Januari 2020 terjadi di wilayah Jawa Timur dengan sifat Bawah Normal sebesar 31,6%, Normal sebesar 53,2%, dan Atas Normal 15,2%.





    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    SIFAT HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Bawah Normal
    (0 - 30 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bondowoso dan Malang.
    Bawah Normal
    (31 - 50 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Surabaya.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian kecil Batu, Blitar, Bojonegoro, Kediri, Lamongan, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Gresik, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Pamekasan, dan Pasuruan.
    Bawah Normal
    (51 - 84 %)
    Terjadi di sebagian besar Bondowoso, Jember, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, dan Tuban.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Jember, Sampang, dan Sidoarjo.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian Lumajang, Malang, Nganjuk, Situbondo, Sumenep, dan Tuban.
    Normal
    (85 - 115 %)
    Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jombang, Kediri, Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Trenggalek, dan Tulungagung.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Situbondo, dan Trenggalek.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian Jombang, Lamongan, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, dan Probolinggo.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di sebagian besar Sumenep.
    Atas Normal
    (116 - 150 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Bawean.
    Atas Normal
    (151 - 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, Lumajang, Magetan, Malang, Ngawi, Pamekasan, dan Probolinggo.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di sebagian kecil Blitar dan Jombang.
    Atas Normal
    (> 200 %)
    Terjadi di seluruh Pulau Kangean.


  • |Analisis - Bulanan| Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Bulanan| Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

    Analisis jumlah curah hujan di Jawa Timur bulan Januari 2020 berkisar 20 – 720 mm.





    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di atas ini ⇧
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Malang, dan Probolinggo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Malang, Pamekasan, Probolinggo, dan Situbondo.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang,
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Jombang, Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, dan Sidoarjo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Lamongan, Lumajang, Madiun, Ponorogo, Situbondo, Sumenep, dan Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Gresik, Jember, Magetan, Malang, Pamekasan, Sampang, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Magetan, Pamekasan, Situbondo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Lamongan, Lumajang, dan Malang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Jombang, Kediri, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Sumenep, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Situbondo, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Jombang dan Probolinggo.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Jombang, Malang, Mojokerto, Pacitan, dan Probolinggo.
    > 500 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.


  • |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 29) Februari 2020

    |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 29) Februari 2020 |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 29) Februari 2020


  • |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Februari 2020

    |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Februari 2020 |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian II (Tanggal 11 - 20) Februari 2020


  • |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 29 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 29 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur seluruhnya masuk kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

  • |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria “Menengah-Tinggi”.

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) terjadi di Malang, Mojokerto, Probolinggo, dan Banyuwangi.

  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 29 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 29 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 29 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar masuk kriteria “Masih Ada Hujan” dan “Sangat Pendek”.

    Terdapat kriteria “Menengah” yang terjadi di Blitar.

  • |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian II Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria “Menengah-Tinggi”.

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) terjadi di Banyuwangi, Blitar, Kediri, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.

  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 20 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • |Analisis - Bulanan| Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Bulanan| Distribusi Curah Hujan Bulan Januari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Berdasarkan data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan Februari 2020 dapat diinformasikan curah hujan bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:





    CURAH HUJAN KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN

    Cari pada kolom di bawah ini ⇩
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    Cari pada kolom di bawah ini ⇩
    Lalu tekan Enter → di Keyboard
    51 -100 mm Terjadi di sebagian kecil Bondowoso, Malang, dan Probolinggo.
    101 - 150 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Jember, Malang, Pamekasan, Probolinggo, dan Situbondo.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang,
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian kecil Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
    151 - 200 mm Terjadi di sebagian Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian kecil Jombang, Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, dan Sidoarjo.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bondowoso, Lamongan, Lumajang, Madiun, Ponorogo, Situbondo, Sumenep, dan Trenggalek.
    201 -300 mm Terjadi di sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Gresik, Jember, Magetan, Malang, Pamekasan, Sampang, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian kecil Bangkalan, Banyuwangi, Gresik, Jember, Pulau Kangean, Magetan, Pamekasan, Situbondo, Surabaya, Tuban, dan Tulungagung.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Lamongan, Lumajang, dan Malang.
    301 - 400 mm Terjadi di sebagian besar Batu, Jombang, Kediri, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sidoarjo, Sumenep, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Batu, Blitar, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Situbondo, dan Trenggalek.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian Jombang dan Probolinggo.
    401 - 500 mm Terjadi di sebagian besar Pulau Kangean.
    > 500 mm Terjadi di sebagian kecil Banyuwangi, Blitar, Jombang, Malang, Mojokerto, Pacitan, dan Probolinggo.
    > 500 mm Terjadi di seluruh Pulau Bawean.


  • |Analisis - Bulanan| Distribusi Curah Hujan Tahun 2020

    |Analisis - Bulanan| Distribusi Curah Hujan Tahun 2020
  • |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Februari 2020

    |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Februari 2020 |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian I (Tanggal 1 - 10) Februari 2020


  • |Prakiraan - Dasarian| Deterministik Curah Hujan Dasarian Provinsi Jawa Timur Update 10 Februari 2019

    |Prakiraan - Dasarian| Deterministik Curah Hujan Dasarian Provinsi Jawa Timur Update 10 Februari 2019

    /

    Curah hujan Dasarian II Februari 2020 Provinsi Jawa Timur (deterministik) pada umumnya diprakirakan 76 – 150 mm dengan peluang (probabilistik) lebih dari 60 %.

    Peluang hujan TINGGI diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kab. Mojokerto dan Kota Batu dengan peluang (probabilistik) 50 - 60 %.

  • |Prakiraan - Dasarian| Probabilistik Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Prakiraan - Dasarian| Probabilistik Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur
  • |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian I Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya bervariasi dari kriteria “Menegah-Tinggi”.

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) terjadi di sebagian kecil Kab. Mojokerto, Jombang, Pacitan, Sidoarjo, dan Probolinggo.

  • |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur
  • |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2019 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2019 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar masuk kriteria “Masih Ada hujan s/d Updating” dan kriteria “Sangat Pendek”.

    Terdapat kriteria “Pendek” yang terjadi di sebagian kecil Kab. Blitar, Bondowoso, Trenggalek,Nganjuk, dan Kediri.

  • |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur
  • Galeri Kegiatan BMKG Stasiun Klimatologi Malang Periode 3 - 7 Februari 2020

    Galeri Kegiatan BMKG Stasiun Klimatologi Malang Periode 3 - 7 Februari 2020

  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 10 Februari 2020 di Provinsi Jawa Timur


  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Bulan Februari Tahun 2020 di Provinsi Jawa Timur
  • |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Januari 2020

    |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Januari 2020 |Analisis dan Prediksi Dasarian| Dinamika Atmosfer - Laut Dan Prediksi Curah Hujan Update Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Januari 2020

  • |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2019 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2019 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria Menengah (51 - 150 mm).

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) terjadi di sebagian kecil Kab. Blitar (Lodoyo).

  • |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2019 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Distribusi Curah Hujan Dasarian III Desember 2019 di Provinsi Jawa Timur

    Distribusi Curah Hujan Dasarian III Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria Menengah (51 - 150 mm).

    Terdapat kriteria Sangat Tinggi (>300 mm) terjadi di sebagian kecil Kab. Blitar (Lodoyo).

  • |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar masuk kriteria Masih Ada hujan s/d Updating.

    Terdapat kriteria Pendek yang terjadi di sebagian kecil Kab. Magetan, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi, Bangkalan, dan Bondowoso.

  • |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    Hari Tanpa Hujan (HTH) Berturut-turut di wilayah Jawa Timur sebagian besar masuk kriteria Masih Ada hujan s/d Updating.

    Terdapat kriteria Pendek yang terjadi di sebagian kecil Kab. Magetan, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi, Bangkalan, dan Bondowoso.

  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

  • |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

    |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur |Monitoring dan Prakiraan Curah Hujan - Dasarian| Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut Update 31 Januari 2020 di Provinsi Jawa Timur

  • |Prakiraan - Dasarian| Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan FEBRUARI Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Tahun 2020 update 30 Januari 2020

    |Prakiraan - Dasarian| Daerah Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur untuk Bulan FEBRUARI Dasarian III (Tanggal 21 - 31) Tahun 2020 update 30 Januari 2020





    TINGKAT POTENSI BANJIR
    TINGGI MENENGAH RENDAH

    TINGKAT POTENSI BANJIR
    TINGGI MENENGAH RENDAH
    - - BANGKALAN : (KEC. BANGKALAN, BLEGA, BURNEH, KAMAL, KWANYAR, MODUNG, SOCAH, TANAH MERAH, TRAGAH)
    BANYUWANGI : (KEC. BANGOREJO, BANYUWANGI, BLIMBINGSARI, CLURING, GAMBIRAN, GENTENG, GLAGAH, GLENMORE, KABAT, KALIPURO, MUNCAR, PESANGGARAN, PURWOHARJO, ROGOJAMPI, SEMPU, SILIRAGUNG, SINGOJURUH, SRONO, TEGALDLIMO, TEGALSARI, WONGSOREJO)
    BLITAR : (KEC. -, KADEMANGAN, SRENGAT, SUTOJAYAN, WONODADI)
    BOJONEGORO : (KEC. BALEN, BAURENO, BOJONEGORO, BUBULAN, DANDER, GAYAM, GONDANG, KALITIDU, KANOR, KAPAS, KASIMAN, KEDUNGADEM, KEPOHBARU, MALO, MARGOMULYO, NGAMBON, NGASEM, NGRAHO, PADANGAN, PURWOSARI, SEKAR, SUGIHWARAS, SUKOSEWU, SUMBERREJO, TEMAYANG, TRUCUK)
    BONDOWOSO : (KEC. CERME, KLABANG, PRAJEKAN, TAPEN, WONOSARI, WRINGIN)
    GRESIK : (KEC. BALONGPANGPANG, BENJENG, BUNGAH, CERME, DRIYOREJO, DUDUKSAMPEYAN, DUKUN, GRESIK, KEBOMAS, KEDAMEAN, MANYAR, MENGANTI, PANCENG, SIDAYU, WRINGINANOM)
    JEMBER : (KEC. AJUNG, AMBULU, ARJASA, BALUNG, BANGSALSARI, GUMUKMAS, JENGGAWAH, JOMBANG, KALIWATES, KENCONG, LEDOKOMBO, MAYANG, MUMBULSARI, PAKUSARI, PANTI, PATRANG, PUGER, RAMBIPUJI, SEMBORO, SILO, SUKORAMBI, SUMBERBARU, SUMBERSARI, TANGGUL, TEMPUREJO, UMBULSARI, WULUHAN)
    JOMBANG : (KEC. BANDARKEDUNGMULYO, BARENG, GUDO, JOGOROTO, JOMBANG, KABUH, KESAMBEN, KUDU, MEGALUH, MOJOAGUNG, MOJOWARNO, NGORO, NGUSIKAN, PERAK, PETERONGAN, PLANDAAN, PLOSO, SUMOBITO, TEMBELANG, WONOSALAM)
    KEDIRI : (KEC. GAMPENGREJO, GURAH, KANDANGAN, KRAS, KUNJANG, NGANCAR, PAGU, PAPAR, TAROKAN)
    KOTA BATU : (KEC. BATU, BUMIAJI, JUNREJO)
    KOTA KEDIRI : (KEC. KOTA, MOJOROTO)
    KOTA MADIUN : (KEC. GEGER, JIWAN, KARTOHARJO, MANGUNHARJO, TAMAN)
    KOTA MALANG : (KEC. BLIMBING, KLOJEN, LOWOKWARU)
    KOTA MOJOKERTO : (KEC. MAGERSARI, PRAJURIT KULON)
    KOTA PASURUAN : (KEC. BUGUL KIDUL, GADINGREJO, PURWOREJO)
    KOTA PROBOLINGGO : (KEC. KADEMANGAN, KANIGARAN, KEDOPOK, MAYANGAN, WONOASIH)
    KOTA SURABAYA : (KEC. ASEM ROWO, BENOWO, BUBUTAN, BULAK, DUKUH PAKIS, GAYUNGAN, GENTENG, GUBENG, GUNUNG ANYAR, JAMBANGAN, KARANGPILANG, KENJERAN, KREMBANGAN, LAKARSANTRI, MULYOREJO, PABEAN CANTIAN, PAKAL, RUNGKUT, SAMBIKEREP, SAWAHAN, SEMAMPIR, SIMOKERTO, SUKOLILO, SUKOMANUNGGAL, TAMBAKSARI, TANDES, TEGALSARI, TENGGILIS MEJOYO, WIYUNG, WONOCOLO, WONOKROMO)
    LAMONGAN : (KEC. BABAT, BRONDONG, DEKET, GLAGAH, KALITENGAH, KARANGBINANGUN, KARANGGENENG, KEDUNGPRING, KEMBANGBAHU, LAMONGAN, LAREN, MADURAN, MADURAN/KARANGGENENG, MODO, NGIMBANG, PACIRAN, PUCUK, SARIREJO, SEKARAN, SEKARAN/MADURAN, SUGIO, SUKODADI, TIKUNG, TURI)
    LUMAJANG : (KEC. CANDIPURO, JATIROTO, KEDUNGJAJANG, KUNIR, LUMAJANG, PASIRIAN, PRONOJIWO, TEKUNG, TEMPEH, TEMPURSARI, YOSOWILANGUN)
    MADIUN : (KEC. BALEREJO, DAGANGAN, DOLOPO, GEGER, GEMARANG, JIWAN, KARE, KEBONSARI, MADIUN, MEJAYAN, PILANGKENCENG, SARADAN, SAWAHAN, WONOASRI, WUNGU)
    MAGETAN : (KEC. BARAT, BENDO, KARANGREJO, KARAS, KARTOHARJO, KAWEDANAN, LEMBEYAN, MAGETAN, MAOSPATI, NGARIBOYO, NGUNTORONADI, PANEKAN, PARANG, PLAOSAN, PONCOL, SIDOREJO, SUKOMORO, TAKERAN)
    MALANG : (KEC. AMPELGADING, BANTUR, BULULAWANG, DAMPIT, DAU, GEDANGAN, GONDANGLEGI, KALIPARE, KASEMBON, KEPANJEN, LAWANG, NGAJUM, NGANTANG, PAGAK, PAKIS, PAKISAJI, PUJON, SUMBERMANJING WETAN, SUMBERPUCUNG, TIRTOYUDO, TUREN, WAJAK, WONOSARI)
    MOJOKERTO : (KEC. BANGSAL, DAWARBLANDONG, GEDEG, GONDANG, JATIREJO, JETIS, KEMLAGI, MOJOANYAR, MOJOSARI, NGORO, PUNGGING, PURI, SOOKO, TROWULAN)
    NGANJUK : (KEC. BAGOR, BERBEK, GONDANG, LOCERET, NGANJUK, NGETOS, PACE, REJOSO, SAWAHAN, SUKOMORO, TANJUNGANOM, WILANGAN)
    NGAWI : (KEC. BRINGIN, GENENG, GERIH, JOGOROGO, KARANGJATI, KASREMAN, KEDUNGGALAR, KENDAL, KWADUNGAN, MANTINGAN, NGAWI, NGRAMBE, PADAS, PANGKUR, PARON, PITU, WIDODAREN)
    PACITAN : (KEC. ARJOSARI, BANDAR, NGADIROJO, SUDIMORO, TEGALOMBO)
    PAMEKASAN : (KEC. LARANGAN, PADEMAWU, PALENGAAN, PAMEKASAN, PASEAN, PROPPO, WARU)
    PASURUAN : (KEC. BANGIL, BEJI, GEMPOL, GONDANG WETAN, GRATI, KEJAYAN, KRATON, LEKOK, LUMBANG, NGULING, PANDAAN, PASREPAN, POHJENTREK, PURWODADI, PURWOSARI, PUSPO, REJOSO, REMBANG, SUKOREJO, TOSARI, TUTUR, WINONGAN, WONOREJO)
    PONOROGO : (KEC. , BABADAN, BADEGAN, JENANGAN, MLARAK, NGEBEL, NGRAYUN, PULUNG, SAMBIT, SAMPUNG, SAWOO, SIMAN, SOOKO, SUKOREJO)
    PROBOLINGGO : (KEC. BANTARAN, BANYUANYAR, BESUK, DRINGU, GADING, GENDING, KOTAANYAR, KRAKSAAN, KREJENGAN, KURIPAN, LECES, LUMBANG, MARON, PAITON, PAJARAKAN, PAKUNIRAN, SUMBER, SUMBERASIH, TEGALSIWALAN, TIRIS, TONGAS, WONOMERTO)
    SAMPANG : (KEC. CAMPLONG, JRENGIK, KETAPANG, OMBEN, PANGARENGAN, SAMPANG, SRESEH, TORJUN)
    SIDOARJO : (KEC. BALONGBENDO, BUDURAN, CANDI, GEDANGAN, JABON, KREMBUNG, KRIAN, PORONG, PRAMBON, SEDATI, SIDOARJO, SUKODONO, TAMAN, TANGGULANGIN, TARIK, TULANGAN, WARU, WONOAYU)
    SITUBONDO : (KEC. ARJASA, BANYUGLUGUR, BANYUPUTIH, BESUKI, BUNGATAN, JANGKAR, JATIBANTENG, KAPONGAN, KENDIT, MANGARAN, MLANDINGAN, PANARUKAN, PANJI, SITUBONDO, SUBOH)
    SUMENEP : (KEC. ARJASA, DUNGKEK, LENTENG, SARONGGI)
    TRENGGALEK : (KEC. BENDUNGAN, DURENAN, GANDUSARI, KARANGAN, MUNJUNGAN, POGALAN, TRENGGALEK, WATULIMO)
    TUBAN : (KEC. PARENGAN, PLUMPANG, RENGEL, SOKO, WIDANG)
    TULUNGAGUNG : (KEC. BOYOLANGU, GONDANG, KALIDAWIR, KEDUNGWARU, NGANTRU, PAGERWOJO, SENDANG, TULUNGAGUNG)


  • |Analisis - Bulanan| Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan DESEMBER Tahun 2019 di Provinsi Jawa Timur

    |Analisis - Bulanan| Tingkat Ketersediaan Air Tanah Bagi Tanaman Bulan DESEMBER Tahun 2019 di Provinsi Jawa Timur

    Hasil monitoring Untuk lokasi pengamatan dengan suhu udara maksimum absolut tertinggi adalah Stasiun Maritim Perak II (Jawa Timur), yaitu sebesar 36.9°C.

    Hasil monitoring lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Banyuwangi (Jawa Timur) sebesar 70%.

    Hasil analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial di lokasi pengamatan dengan jumlah evapotranspirasi potensial tertinggi adalah Surabaya (Jawa Timur) yaitu sebesar 171.18 mm.

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di meliputi sebagian kecil wilayah Jawa Timur pada bulan Desember 2019 adalah SEDANG dan CUKUP

    Untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman bulan Februari 2020 pada umumnya KURANG dan meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman bulan Maret 2020 pada umumnya KURANG dan meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman bulan April 2020 pada umumnya KURANG dan meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2019 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah di Jawa Timur meliputi : Madiun, Sangkapura, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahmansaleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, Bayuwangi

    Sedangkan untuk daerah Surplus meliputi Pacitan


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilan