( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2020
  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Seluruh : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    -

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Kota Surabaya dan Pamekasan

    Sebagian : Lamongan, Gresik, Bangkalan dan Sampang

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Lamongan dan Sampang

    Sebagian : Bangkalan dan Gresik

    Sebagian Besar : Kota Surabaya

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan September 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Kota Madiun, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Banyuwangi dan Situbondo

    Sebagian Besar : Kota Mojokerto dan Lumajang

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Kota Madiun, Bojonegoro, Pasuruan, Kota Mojokerto, Lumajang dan Jember

    Sebagian : Situbondo, Probolinggo dan Banyuwangi

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan dan Sidoarjo

    Seluruh : Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Gresik, Kota Surabaya, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Sidoarjo dan Pamekasan

    Sebagian : Bangkalan dan Sampang

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Lamongan dan Pamekasan

    Sebagian : Bangkalan dan Sampang

    Sebagian Besar : Gresik dan Kota Surabaya

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Lumajang, Kota Probolinggo, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Banyuwangi dan Situbondo

    Seluruh : Kota Madiun, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Kota Probolinggo, Probolinggo dan Situbondo

    Sebagian : Banyuwangi

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan dan Sidoarjo

    Seluruh : Gresik, Kota Surabaya, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Agustus 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Kecil : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Blitar, Malang, Kota Batu, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Temanggung, Situbondo dan Banyuwangi

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Kota Batu

    Sebagian Besar : Magetan, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Blitar, Jombang, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi

    Seluruh : Tuban, Bojonegoro, Kota Madiun, Lamongan, Kota Mojokerto, Gresik, Kota Surabaya, Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kota Malang, Kota Blitar, Kota Kediri, Kota Probolinggo, Kota Jember, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Kota Pasuruan, Jember, Bondowoso dan Banyuwangi.

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Madiun, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Jember.

    Sebagian : Situbondo dan Banyuwangi.

    Sebagian Besar : Kota Madiun, Tuban, Lamongan, Sidoarjo dan Kota Pasuruan.

    Seluruh : Gresik, Kota Surabaya, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan Kota Probolinggo.

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Kecil : Magetan, Ngawi, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso dan Situbondo

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Ngawi, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Kota Batu, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juli 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian kecil : Sebagian kecil Probolinggo, Bondowoso dan Situbondo

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Madiun, Nganjuk, Ponorogo, Tulungagung, Malang, Lumajang, Jember, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi.

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan diwilayah ini sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Magetan, Nganjuk, Ponorogo, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso dan Situbondo

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40% sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Probolinggo dan Bondowoso

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40% sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Juni 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Magetan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40% sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Sebagian kecil Ponorogo, Nganjuk, Lumajang, Malang, Probolinggo dan Bondowoso

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40% sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Kecil Jawa Timur

    Dimana diprakirakan curah hujan di wilayah ini pada umumnya dalam kondisi basah sehingga cukup menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Pacitan, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Kota Batu, Malang, Kota Malang, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi

    Seluruh : Kota Blitar dan Kota Kediri

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil : Pacitan, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Kota Batu, Malang, Kota Malang, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi

    Seluruh : Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Jombang, Kota Kediri, Kota Pasuruan, Jota Probolinggo, Kota Blitar, Trenggalek, Kota Madiun, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40% sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Mei 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur

    Dimana diprakirakan curah hujan di wilayah ini pada umumnya dalam kondisi basah sehingga cukup menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil : Malang, Ngawi, Magetan, Madiun,Jombang, Sumenep, Mojokerto, Situbondo

    Sebagian besar : Pacitan, Ponorogo, Kediri, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso, Banyuwangi, Jember

    Seluruh : Kota Blitar dan Kota Kediri

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil : Nganjuk, Trenggalek, Jember, Banyuwangi, Bondowoso dan Problinggo

    Sebagian besar : Ngawi, Madiun, Magetan, Jombang, Pasuruan dan Situbondo

    Seluruh : Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kota Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Sidoarjo, Kota Madiun, Kota Probolinggo, dan Kota Mojokerto

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40% sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Kecil : Ponorogo, Malang, Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi

    Dimana pada bulan ini diprakirakan curah hujan di wilayah Indonesia pada umumnya dalam kondisi basah sehingga cukup menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Malang, Kota Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Jember, Situbondo dan Banyuwangi

    Sebagian : Kota Batu

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga prakiraan Tingkat Ketersediaan bagi tanaman berada dibawah 40%.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar : Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, seluruh Kota Cirebon, Kota Surakarta, Sukoharjo, dan Kota Kediri

    Sebagian Kecil : Pacitan, Magetan, Ngawi, Madiun, Blitar, Kota Blitar, Malang, Situbondo, Banyuwangi dan Sumenep

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Ngawi, Magetan, Madiun, Bojonegoro, Jombang, Mojokerto, Sumenep, Situbondo dan Banyuwangi

    Sebagian Kecil : Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Bondowoso

    Seluruh : Kota Madiun, Kota Mojokerto, Tuban, Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan April 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar : Bangkalan, Sampang, dan Lamongan

    Sebagian Kecil : Tuban, Bojonegoro, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Gresik, Kota surabaya


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Kota Surabaya, dan Gresik

    Sebagian Kecil : Bangkalan, Sampang, Situbondo, Banyuwangi, Sidoarjo, Lamongan




    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Malang, Kota Batu, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Situbondo dan Sumenep

    Sebagian : Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi

    Sebagian Besar : Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Tulungagung dan Blitar

    Seluruh : Kota Blitar


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Kediri, Trenggalek, Ponorogo, Kota Kediri, Blitar, Tulungagung dan Banyuwangi

    Sebagian : Lumajang, Probolinggo, Jember dan Bondowoso

    Sebagian Besar : Magetan, Ngawi, Madiun, Gresik, Nganjuk, Jombang, Mojoketo, Pasuruan, Situbondo dan Sumenep

    Seluruh : Kota Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Kota Mojokerto, Sidoarjo, Kota Surabaya, Bangkalan, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Sampang dan Pamekasan



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda, Katangkates, Kalianget, dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Karangkates, dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Surabaya, dan Kalianget

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Perak I/Surabaya, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Karangkates, Kalianget, dan Sawahan
    • > 90 % : Tretes

    Monitoring Penguapan Rata-Rata Harian (mm) Bulan Maret 2020

    • 3.01 – 4.00 mm : Karangkates, dan Sangkapura Gresik
    • 4.01 – 5.00 mm : Perak I Juanda, Maritim Perak II, Malang, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 20 – 40 % : Tretes, dan Sawahan
    • 40 – 60 % : Juanda, Tuban, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, dan Banyuwangi

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Maret 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes, dan Karangkates.
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Malang / Abdul Rahman Saleh, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda / Surabaya, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahman Saleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar : Sampang, Pamekasan, Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto

    Sebagian Kecil : Bangkalan, Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, dan Kota Probolinggo.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Seluruh : Kota Surabaya

    Sebagian Besar : Bangkalan, Gresik, Lamongan dan Sidoarjo

    Sebagian Kecil : Sampang, Kota Mojokerto dan Banyuwangi



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda, Katangkates, Kalianget, dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Karangkates, dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Surabaya, dan Kalianget

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Perak I/Surabaya, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Karangkates, Kalianget, dan Sawahan
    • > 90 % : Tretes

    Monitoring Penguapan Rata-Rata Harian (mm) Bulan Maret 2020

    • 3.01 – 4.00 mm : Karangkates, dan Sangkapura Gresik
    • 4.01 – 5.00 mm : Perak I Juanda, Maritim Perak II, Malang, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 20 – 40 % : Tretes, dan Sawahan
    • 40 – 60 % : Juanda, Tuban, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, dan Banyuwangi

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Maret 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes, dan Karangkates.
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Malang / Abdul Rahman Saleh, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda / Surabaya, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahman Saleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2020 Update dari Analisis Bulan Maret 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar : Gresik

    Sebagian Kecil : Kota Surabaya, Bangkalan, Sidoarjo, Lamongan, dan Kota Mojokerto


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Kota Surabaya

    Sebagian Kecil : Gresik dan Bangkalan



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) yaitu sebesar 94%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 26%.

    Monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes
    • 29.1 – 31.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
    • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
    • 33.1 – 35.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Juanda, Katangkates, Kalianget, dan Banyuwangi
    • > 35.0 (0 C): Tuban dan Surabaya

    Monitoring Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Maret 2020 (0 C)

    • < 17.0 (0 C): Tretes
    • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang dan Sawahan Nganjuk
    • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Karangkates, dan Banyuwangi
    • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda, Surabaya, dan Kalianget

    Monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 80 – 85 % : Sangkapura Gresik, Perak I/Surabaya, Juanda / Surabaya, Tanjung Perak, Tuban, Malang, dan Banyuwangi
    • 85 – 90 % : Karangkates, Kalianget, dan Sawahan
    • > 90 % : Tretes

    Monitoring Penguapan Rata-Rata Harian (mm) Bulan Maret 2020

    • 3.01 – 4.00 mm : Karangkates, dan Sangkapura Gresik
    • 4.01 – 5.00 mm : Perak I Juanda, Maritim Perak II, Malang, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian (%) Bulan Maret 2020

    • 20 – 40 % : Tretes, dan Sawahan
    • 40 – 60 % : Juanda, Tuban, Maritim Perak II, Malang, Karangkates, Kalianget, dan Banyuwangi

    Analisis Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Maret 2020

    • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Tretes, dan Karangkates.
    • 101 – 125 mm : Pacitan, Tuban, Juanda, Surabaya, Malang, Malang / Abdul Rahman Saleh, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi

    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Jawa Timur

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS meliputi Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Tuban, Juanda / Surabaya, Surabaya, Malang, Tretes, Malang / Abdul Rahman Saleh, Karangkates, Kalianget, Sawahan, dan Banyuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Seluruh Kota Pasuruan, Kota Madiun, Kota Probolinggo

    Sebagian besar Tuban, Bojonegoro, Kota Mojokerto

    Sebagian kecil Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Seluruh Kota Surabaya, Gresik

    Sebagian besar Bangkalan Sampang, Lamongan

    Sebagian kecil Bojonegoro, Tuban, Jombang, Mojokerto, Probolinggo, Situbondo dan Pamekasan

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 94%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Sentani (Papua) sebesar 73%.


    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Gorontalo.


    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (NAD), Banyuwangi (Jawa Timur), Ngurah Rai, Sanglah, Jembrana (Bali), Bandara Internasional Lombok, Sultan Muhammad Kaharuddin, Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa tenggara Barat), Gewayantana, Mali, Umbu Mehang Kunda, Lasiana (Nusa Tenggara Timur), Sultan Bantilan, Syukuran Aminudin Amir (Sulawesi tengah), Djalaluddin (Gorontalo), Sangia Ni Bandera (Sulawesi Tenggara), Oesman Sadik (Maluku Utara), Namlea, Amahai, Mathilda Batlayeri (Maluku), dan Wamena (Papua).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar Gresik, Lamongan, Kota Mojokerto, Sidoarjo

    Sebagian Kecil Kota Surabaya, Bangkalan, dan Sampang

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar Kota Surabaya dan Gresik

    Sebagian kecil Bangkalan, Sumenep, Lamongan, Sidoarjo, dan Kota Mojokerto

    Pada daerah ini curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 94%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Sentani (Papua) sebesar 73%.


    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Gorontalo.


    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (NAD), Banyuwangi (Jawa Timur), Ngurah Rai, Sanglah, Jembrana (Bali), Bandara Internasional Lombok, Sultan Muhammad Kaharuddin, Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa tenggara Barat), Gewayantana, Mali, Umbu Mehang Kunda, Lasiana (Nusa Tenggara Timur), Sultan Bantilan, Syukuran Aminudin Amir (Sulawesi tengah), Djalaluddin (Gorontalo), Sangia Ni Bandera (Sulawesi Tenggara), Oesman Sadik (Maluku Utara), Namlea, Amahai, Mathilda Batlayeri (Maluku), dan Wamena (Papua).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL 2020 Update dari Analisis Bulan Februari 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Kota Surabaya, Gresik, dan Bangkalan


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian kecil Gresik, Kota Surabaya, Bangkalan, dan Sumenep



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 94%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Sentani (Papua) sebesar 73%.


    Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 pada umumnya Cukup.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Sedang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

    Daerah dengan tingkat ketersediaan air bagi tanaman Kurang, meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Gorontalo.


    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Februari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (NAD), Banyuwangi (Jawa Timur), Ngurah Rai, Sanglah, Jembrana (Bali), Bandara Internasional Lombok, Sultan Muhammad Kaharuddin, Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa tenggara Barat), Gewayantana, Mali, Umbu Mehang Kunda, Lasiana (Nusa Tenggara Timur), Sultan Bantilan, Syukuran Aminudin Amir (Sulawesi tengah), Djalaluddin (Gorontalo), Sangia Ni Bandera (Sulawesi Tenggara), Oesman Sadik (Maluku Utara), Namlea, Amahai, Mathilda Batlayeri (Maluku), dan Wamena (Papua).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar Jawa Timur


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian kecil Kota Surabaya, Gresik, Sumenep, dan Bangkalan


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Sumenep.



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Citeko (Jawa Barat) dan Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 92%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Banyuwangi (Jawa Timur) sebesar 74%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi 5 pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian tertinggi adalah Seram Bagian Barat (Maluku) yaitu sebesar 71%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 8%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Kalianget, Bayuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Sumenep


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Sumenep.



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Citeko (Jawa Barat) dan Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 92%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Banyuwangi (Jawa Timur) sebesar 74%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi 5 pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian tertinggi adalah Seram Bagian Barat (Maluku) yaitu sebesar 71%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 8%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Kalianget, Bayuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET 2020 Update dari Analisis Bulan Januari 2020

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Sumenep


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Sumenep.



    Hasil monitoring Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 80 – 90%.

    Untuk lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian tertinggi adalah Citeko (Jawa Barat) dan Tretes (Jawa Timur) adalah yaitu sebesar 92%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan kelembaban udara rata-rata harian terendah Banyuwangi (Jawa Timur) sebesar 74%.

    Hasil monitoring Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

    Untuk lokasi 5 pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian tertinggi adalah Seram Bagian Barat (Maluku) yaitu sebesar 71%.

    Sedangkan lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 8%.

    Hasil analisis Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2020 sebagian besar mengalami Surplus.

    Daerah dengan Pengisian air tanah meliputi Pacitan, Madiun, Tuban, Juanda, Surabaya, Kalianget, Bayuwangi (Jawa Timur).


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1