( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021
  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

    Hasil analisis Bulan Oktober 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Seluruh Jawa Timur

    Dimana pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Berdasarkan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Oktober Tahun 2021 dan PRAKIRAAN CURAH HUJAN pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 di seluruh Indonesia, dibuat analisis prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman untuk tanaman periode bulan FEBRUARI Tahun 2022

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

    Hasil analisis Bulan Oktober 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JANUARI Tahun 2022 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan JANUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Seluruh Jawa Timur

    Dimana pada bulan JANUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Berdasarkan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Oktober Tahun 2021 dan PRAKIRAAN CURAH HUJAN pada bulan JANUARI Tahun 2022 di seluruh Indonesia, dibuat analisis prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman untuk tanaman periode bulan JANUARI Tahun 2022

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

    Hasil analisis Bulan Oktober 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan DESEMBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan DESEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Sebagian besar Jawa Timur

    Dimana pada bulan DESEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Lamongan, Surabaya, Bangkalan, Sampang dan Banyuwangi

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : Gresik

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Gresik, Bangkalan dan Banyuwangi

    Sebagian : Surabaya

    Sebagian Besar : -

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Berdasarkan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Oktober Tahun 2021 dan PRAKIRAAN CURAH HUJAN pada bulan DESEMBER Tahun 2021 di seluruh Indonesia, dibuat analisis prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman untuk tanaman periode bulan DESEMBER Tahun 2021

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan September 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan September 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan September 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JANUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan September 2021

    Hasil analisis Bulan September 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di Seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan DESEMBER 2021 CUKUP.

    Dimana pada bulan JANUARI Tahun 2022 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Seluruh Jawa Timur

    Dimana pada bulan JANUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan DESEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan DESEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan September 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021

    Hasil analisis Bulan September 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan DESEMBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan DESEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Sebagian besar Jawa Timur

    Dimana pada bulan DESEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Banyuwangi, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Lamongan dan Gresik.

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Lamongan, Bangkalan, Sampang dan Banyuwangi.

    Sebagian : -

    Sebagian Besar : -

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan DESEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan DESEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan September 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan September 2021

    Hasil analisis Bulan September 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan NOVEMBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan NOVEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Sebagian besar Jawa Timur

    Dimana pada bulan NOVEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Probolinggo, Situbondo, Jember dan Banyuwangi.

    Sebagian : Sumenep

    Sebagian Besar : -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Gresik dan Surabaya

    Sebagian Kecil : Probolinggo dan Banyuwangi.

    Sebagian : Sumenep.

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan dan Sidoarjo

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan NOVEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan NOVEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan September 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan DESEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021

    Hasil analisis Bulan Agustus 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan DESEMBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan DESEMBER Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Sebagian Besar Jawa Timur

    Dimana pada bulan DESEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Lamongan, Surabaya, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Banyuwangi.

    Sebagian Besar : Gresik

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Gresik, Bangkalan, Sampang dan Banyuwangi.

    Sebagian Besar : Surabaya

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan DESEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan DESEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Agustus 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021

    Hasil analisis Bulan Agustus 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan NOVEMBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan NOVEMBER Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Sebagian Besar Jawa Timur

    Dimana pada bulan NOVEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi dan Sumenep.

    Sebagian : Tuban

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Gresik, Surabaya, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan.

    Sebagian Kecil : Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi.

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan, Sidoarjo dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan NOVEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan NOVEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Agustus 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Agustus 2021

    Hasil analisis Bulan Agustus 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan OKTOBER 2021 sebagian Cukup.

    Dimana pada bulan OKTOBER Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Diprakirakan Terjadi di : Sebagian Jawa Timur

    Dimana pada bulan OKTOBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Sebagian Kecil : Magetan, Kediri, Pacitan, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Malang dan Madiun.

    Sebagian : Ngawi, Jombang, Ponorogo dan Mojokerto

    Sebagian Besar : Nganjuk, Tulungangung, Trenggalek dan Blitar

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Diprakirakan Terjadi di :

    Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Surabaya, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep dan Sidoarjo

    Sebagian Kecil : Tulungagung, Blitar, Malang dan Jember.

    Sebagian : Bondowoso, Banyuwangi, Ngawi, Magetan dan Nganjuk.

    Sebagian Besar : Madiun, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Situbondo

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan OKTOBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan OKTOBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Agustus 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan NOVEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021

    Hasil analisis Bulan Juli 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan NOVEMBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan NOVEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan NOVEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Banyuwangi

    Sebagian: Sumenep

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Lamongan, Gresik dan Banyuwangi

    Sebagian : Pamekasan

    Sebagian Besar : Bangkalan dan Sampang

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan NOVEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan NOVEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Juli 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021

    Hasil analisis Bulan Juli 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan OKTOBER 2021 sebagian besar CUKUP.

    Dimana pada bulan OKTOBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian : Jawa Timur

    Dimana pada bulan OKTOBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi dan Sumenep

    Sebagian: -

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Banyuwangi, Bojonegoro dan Sidoarjo

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan, Gresik

    Seluruh : Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Surabaya dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan OKTOBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan OKTOBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Juli 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juli 2021

    Hasil analisis Bulan Juli 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan SEPTEMBER 2021 sebagian besar Kurang.

    Dimana pada bulan SEPTEMBER Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Dimana pada bulan SEPTEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan SEPTEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan SEPTEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Juli 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan OKTOBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021

    Hasil analisis Bulan Juni 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan OKTOBER 2021 sebagian besar Kurang.

    Dimana pada bulan OKTOBER Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar : Kota Batu

    Sebagian kecil : Ngawi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Jombang, Mojokerto, Nganjuk, Kediri, Blitar, Malang, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso dan Banyuwangi

    Dimana pada bulan OKTOBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Kediri, Blitar, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi

    Sebagian: Malang

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan OKTOBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan OKTOBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Juni 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021

    Hasil analisis Bulan Juni 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan SEPTEMBER 2021 sebagian besar Kurang.

    Dimana pada bulan SEPTEMBER Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian kecil : Ngawi, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Madiun, Kediri, Blitar, Malang, Lumajang, Pasuruan, probolinggo, Jember, Bondowoso dan banyuwangi

    Dimana pada bulan SEPTEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Ngawi, Magetan, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Jombang, Mojokerto, pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi dan Situbondo

    Sebagian Besar : Malang

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan SEPTEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan SEPTEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Juni 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Juni 2021

    Hasil analisis Bulan Juni 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan AGUSTUS 2021 sebagian besar Kurang.

    Dimana pada bulan AGUSTUS Tahun 2021 diprakirakan Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian kecil : Ngawi, Magetan, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Kediri, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Jember

    Sebagian besar : Malang

    Dimana pada bulan AGUSTUS Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Ngawi, Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Pasuruan, Malang, Probolinggo, Lumajang, Situbondo dan Banyuwangi

    Sebagian Besar : Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar, Jember dan Bondowoso

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan AGUSTUS merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan AGUSTUS 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Juni 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan SEPTEMBER Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021

    Hasil analisis Bulan Mei 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan SEPTEMBER 2021 sebagian besar KURANG.

    Dimana pada bulan SEPTEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Kecil : Magetan, Ponorogo, Kediri, Nganjuk, Lumajang, Probolinggo, dan Bondowoso

    Dimana pada bulan SEPTEMBER Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Batu, Ponorogo, Nganjuk, Magetan dan Madiun

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan SEPTEMBER merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan SEPTEMBER 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Mei 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021

    Hasil analisis Bulan Mei 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan AGUSTUS 2021 sebagian besar KURANG.

    Dimana pada bulan AGUSTUS Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar : Magetan, Nganjuk, Kediri, Ponorogo, Batu, Malang, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan Situbondo

    Dimana pada bulan AGUSTUS Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar : Kediri, Madiun, Malang, Batu, Lumajang, Pasuruan, Ngawi, Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan Situbondo

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan AGUSTUS merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan AGUSTUS 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Mei 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Mei 2021

    Hasil analisis Bulan Mei 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JULI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan JULI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar : Sebagian Kecil Jawa Timur

    Dimana pada bulan JULI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Pacitan, Ngawi, Nganjuk dan Pasuruan

    Sebagian Besar : Trenggalek, Malang dan Ponorogo

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Blitar, Madiun, Nganjuk dan Pasuruan

    Sebagian Besar : Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Lumajang dan Tulungagung

    Seluruh Tuban : Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan JULI merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan JULI 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Mei 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan AGUSTUS Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021

    Hasil analisis Bulan April 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan AGUSTUS 2021 sebagian besar KURANG.

    Dimana pada bulan AGUSTUS Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian kecil : -

    Sebagian besar : -

    Seluruh : -

    Dimana pada bulan AGUSTUS Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, Ponorogo, dan Magetan

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan AGUSTUS merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan AGUSTUS 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan April 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021

    Hasil analisis Bulan April 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JULI 2021 sebagian besar KURANG.

    Dimana pada bulan JULI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian kecil : Bondowoso, Lumajang, Batu, Nganjuk, Kediri, dan Magetan

    Dimana pada bulan JULI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Magetan, Kediri, Blitar, Malang, Batu, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan Probolingo

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan JULI merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan JULI 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan April 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan April 2021

    Hasil analisis Bulan April 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JUNI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan JUNI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan JUNI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Probolinggo, Mojokerto, Bojonegoro, Blitar, Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso

    Sebagian Besar : Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Lumajang, Jember, Pasuruan, Jombang, Ngawi, Madiun, dan Magetan

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Probolinggo, dan Situbondo

    Sebagian Besar : Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan JUNI merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan JUNI 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan April 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JULI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021

    Hasil analisis Bulan Maret 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JULI 2021 sebagian besar " KURANG ".


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Kecil : Ponorogo, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Probolinggo, dan Bondowoso

    Dimana pada bulan JULI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Malang, Lumajang, Blitar, Kediri, Ponorogo, dan Nganjuk

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Besar : Jawa Timur.

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan JULI merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan JULI 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Maret 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021

    Hasil analisis Bulan Maret 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JUNI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan JUNI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan JUNI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Besar : Tulungagung, Pacitan, Ponorogo, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan Situbondo

    Sebagian Kecil : Ngawi, Blitar, dan Pasuruan

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Seluruh : Bangkalan dan Sampang.

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pamekasan dan Sumenep.

    Sebagian Kecil : Tegal, Madiun, Probolinggo, Banyuwangi, dan Situbondo.

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan JUNI merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan JUNI 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Maret 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Maret 2021

    Hasil analisis Bulan Maret 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan MEI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan MEI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan MEI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian Kecil : Ngawi, Madiun, Banyuwangi, dan Situbondo

    Sebagian Besar : Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian Kecil : Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


    Prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan MEI merupakan analisis tingkat ketersediaan air bagi tanaman berdasarkan prakiraan curah hujan bulan MEI 2021 dan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Maret 2021.

    Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan JUNI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021

    Hasil analisis Bulan Februari 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan JUNI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan JUNI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Sebagian Besar : Jawa Timur

    Dimana pada bulan JUNI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Sebagian KECIL : Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan dan Sidoarjo

    Sebagian BESAR : Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Sebagian KECIL : Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Banyuwangi

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.



    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021

    Hasil analisis Bulan Februari 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan MEI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan MEI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Seluruh : Jawa Timur

    Dimana pada bulan MEI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.



    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Februari 2021

    Hasil analisis Bulan Februari 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan APRIL 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan APRIL Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Seluruh : Jawa Timur

    Dimana pada bulan APRIL Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.



    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MEI Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021

    Hasil analisis Bulan Januari 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan MEI 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan MEI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Seluruh : Jawa Timur

    Dimana pada bulan MEI Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.



    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan APRIL Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021

    Hasil analisis Bulan Januari 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan APRIL 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan APRIL Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Seluruh : Jawa Timur

    Dimana pada bulan APRIL Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.



    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021



    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021

    (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan MARET Tahun 2021 Update dari Analisis Bulan Januari 2021

    Hasil analisis Bulan Januari 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan MARET 2021 sebagian besar Cukup.

    Dimana pada bulan MARET Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.

    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

    Seluruh : Jawa Timur

    Dimana pada bulan MARET Tahun 2021 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


    TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

    Tidak Ada di Wilayah Jawa Timur

    Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.



    ISTILAH – ISTILAH

    Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

    Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

    Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

    RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

    Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

    Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

    Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

    Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

    Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

    Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

    ((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

    dengan kriteria sebagai berikut :

    1. Kurang
      : jika ketersediaan air tanah < 40%
    2. Sedang
      : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
    3. Cukup
      : jika ketersediaan air tanah > 60%

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


    Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

    Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


    Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

    Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

    Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

    Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

    Ia = (D/PE)x100.

    Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

    Tingkat Kekeringan :

    1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
    2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
    3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

    Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

    Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

    DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

    Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

    Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

    Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

    AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

    Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

    ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

    dimana:

    Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

    Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

    Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

    RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1

  • ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021

    ( Prakiraan - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Provinsi Jawa Timur Tahun 2021